Tags

Review Buku : Setiap Luka Akan Pulih by Halimah @igdailyjour

 

Baru kali rasanya saya baca buku yang bikin saya istighfar ga selesai-selesai. Bukan karena isinya nggak bagus. Tapi karena ada beberapa kejadian yang membuat saya merasa ter-trigger 😂😂😂.


Ceritanya pas saya lagi kepo sama akun IG mbak Halimah, saya baru tau kalau beliau nulis buku tentang luka batin. Langsung deh saya cari di toko online kesayangan saya dan ketemu! Terus saya kirim link belinya ke Dana biar dibeliin. Hahahahah.


Spesifikasi Buku

Judul Buku : Setiap Luka Akan Pulih

Penulis : Halimah @igdailyjour

Penerbit : Gagasmedia

Jumlah Halaman : 157 halaman (iya ini tipis banget. Cepet aja selesainya kayak kilat 😆)


Blurp

Patah hati, depresi, hingga beberapa kali ingin mengakhiri hidup, pernah kulalui saat umur 20-an. Aku merasa tidak kuat menghadapi beban hidup, terlebih saat itu aku merantau sendirian di Ibu Kota, jauh dari keluarga di Kabanjahe, Sumatera Utara.


Lalu, ketika sakit fisikku tak kunjung membaik, ternyata ada di dalam diri ini juga yang perlu diobati. Aku pun ke psikolog, dan dari sanalah aku tau, bahwa akar dari perasaan tidak berdaya itu adalah peristiwa-peristiwa di masa kecilku, my inner child.


Anak kecil yang diabaikan dan tidak mendapatkan perhatian, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang haus perhatian, butuh validasi, dan gagal menghadapi dinamika hubungan.


Lewat buku Setiap Luka Akan Pulih ini, aku menyusuri satu demi satu kejadian di masa lalu dan berusaha pulih dari luka-luka itu. Tidak ada kehidupan yang sempurna. Luka-luka itu pasti ada, tapi percayalah, setiap luka akan pulih dan esok pasti lebih baik.


Kesan Membaca Buku Setiap Luka Akan Pulih

Sejujurnya pada awal-awal buku ini menurut saya masih biasa aja. Karena di awal mbak Halimah bercerita tentang cintanya yang kandas, yang bikin mbak Halimah jadi terpuruk banget. Karena saya merasa sudah menikah, jadi kalo baca kisah cinta orang-orang sebelum menikah jadi terasa B aja bagi saya 🤣🙏.


Nah, gegara diputusin tanpa sebab sama si cowok itu, mbak Halimah jadi nggak berminat buat menikah. Sampe-sampe emaknya pusing anaknya belum nikah juga. Khawatir kalau anaknya dikira nggak laku 😂. Biasalah, namanya emak-emak.


Terus cerita dalam buku ini alurnya maju mundur gitu kayak Syahrini, maju mundur syantiiieeekk. Tapi tapi, sejujurnya hal ini malah bikin saya jadi bingung. Alhasil saya harus baca ulang ke halaman sebelumnya biar nggak roaming.


Lama-lama kok ceritanya jadi semakin relate dengan yang saya alami, walau nggak separah mbak Halimah. Terus jadi merasa sedikit ter-trigger karena cerita-cerita beliau tentang depresinya sungguh membangkitkan memori saya ke masa-masa burn-out berat di 2 tahun pertama jadi ibu. Sehingga saya ngasi warning ya, buat kamu yang pernah mengalami depresi mungkin. Baca buku ini harus mindful. Biar nggak bikin kamu ter-trigger dan teringat dengan masa beratmu di masa lalu.


Tapi saya pribadi bisa memahami depresi berat yang dialami oleh mbak Halimah ketika ia sedang hamil. Depresi yang bikin burn-out berat, nggak berdaya, insecure, gampang marah-marah dan bahkan sampai berkeinginan untuk bundir. Huhu. Pasti rasanya sesak dan berat sekali masa-masa itu. Namun alhamdulillah mbak Halimah bisa melewatinya, bahkan menjadi pelajaran berharga bagi beliau. Sehingga luka yang ia alami membuatnya terdorong untuk berbagi agar makin banyak orang menyadari luka batinnya dan berusaha menyembuhkannya.


Mungkin seperti katanya Rumi soal memukul-mukul permadani. Bisa jadi luka-luka kita itu adalah debu yang menyelubungi permadani. Sehingga kita memukul-mukul permadaninya agar debunya keluar. Memukul-mukul permadani adalah proses jatuh bangun kita untuk menyembuhkan luka batin yang kita alami. Sehingga tidak ada luka yang benar-benar menjadi siksa. Bisa jadi luka mendatangkan berkah dan rahmat bagi kita yang mengalami.


Walau dalam prosesnya kita amat merasa tersiksa dan terasa sakit banget, tapi kita perlu membuka hati dan ruang kesadaran untuk melihat luka tersebut dari sisi yang berbeda 😊.


Maa syaa Allah, udah berasa ustazah Oki nih saya. Uhuuuukk!!! 


Ini sebenarnya nge-review buku atau ceramah deh 😝


Balik ke soal bukunya~


Meski cerita dalam buku ini -menurut saya- ada plot yang bolong-bolong. Namun, pengalaman pribadi mbak Halimah yang diceritakan dalam buku ini lumayan untuk membangun kesadaran tentang memahami luka batin dan kemauan untuk menyembuhkannya. Karena luka batin ini kalo nggak disembuhkan tuh cukup berbahaya bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Apalagi kalau sudah menikah. Oleh karenanya penting banget untuk benar-benar mengenali diri sendiri. Masih ada luka atau nggak agar setidaknya tidak terlalu banyak luka yang terbawa setelah menikah. 


Huhu, saya pribadi merasakan banget betapa tersiksanya menjalani hari-hari dengan masih adanya luka batin yang menganga lebar 😰. Karena luka batin yang masih basah sangat mempengaruhi bagaimana saya menghadapi tantangan ketika menjadi ibu. 



Pesan yang Menyentuh Hati

"Percayalah, kalian adalah ibu yang baik. Besar-kecil kesalahan kita adalah pelajaran. Setiap usaha kita untuk menyadari, mengakui, dan memperbaiki kesalahan itu adalah apa yang membuat kita menjadi ibu yang baik."


Sebagai emak-emak yang mudah berubah jadi makhluk mitologi, tentu kalimat di atas lumayan bikin adem hati 😂. Karena setiap kali saya terbawa arus emosi, saya bakalan jadi nggak berdaya. Selalu merasa jadi ibu yang sangat buruk. Serta kadang ada perasaan ingin menenggelamkan diri karena merasa amat malu atas perbuatan saya sendiri.


Alhamdulillah Allah memberikan saya daya dorong untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Sehingga emosi saya dapat dikontrol dengan lebih baik dari sebelumnya.


Rating Buku

Dari 1-5, rating buku ini adalah 4. Karena menurut saya ada beberapa hal yang masih kosong. Seperti misalnya proses mbak Halimah berdamai dengan dirinya diceritakannya kurang dalam. Selain itu juga apa yang ia alami setelah melahirkan dan bagaimana ia menjalani hari-hari pasca melahirkan juga nggak diceritakan. Apakah ia masih mengalami depresi atau tidak? Jikalau masih, berapa lama ia mengalaminya dan bagaimana ia mengatasinya selain ke psikolog?


Bagi saya hal ini adalah bagian penting, biar orang-orang punya gambaran tentang bagaimana sih kehidupan seorang ibu pasca melahirkan? Apa saja sih gejolak yang dialami? Dukungan seperti apa sih yang dibutuhkan oleh ibu pasca melahirkan dari orang-orang terdekatnya? Apa yang perlu dihindari bagi ibu baru untuk menjaga kesehatan mentalnya.


Ya, oke sih mbak Halimah banyak bercerita tentang penyebab luka batinnya dan apa akibatnya. Sehingga bisa menjadi pemantik bagi pembaca untuk melihat dirinya lebih dalam lagi. Akan tetapi menceritakan proses dan penerimaan luka tersebut juga perlu. Saya tau prosesnya pasti amat panjang dan nggak akan cukup kalau ditulis dalam 1 buku. Akan tetapi dalam proses tersebut pasti ada hal-hal penting yang bisa disampaikan. Nggak hanya soal konsultasi ke psikolog. Tapi juga ada nggak upaya lain yang dilakukan selain ke psikolog?


Tapi bagaimanapun, saya mengapresiasi keberanian mbak Halimah menceritakan luka batinnya. Serta mengapresiasi usahanya untuk sembuh dari luka tersebut. Karena nggak semua orang berani melihat lukanya sendiri. Nggak semua orang berani mengakui apa yang dia alami. Sehingga saya berharap dengan membaca buku ini, banyak orang mulai melihat ke dalam dirinya lebih jauh. Mendeteksi dan menyadari apakah ada luka batin atau nggak. Serta mengupayakan dirinya untuk sembuh dari luka tersebut.


Selamat menyelami diri ❤️


Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller

Related Posts

Post a Comment