Kita Tidak Pernah Benar-Benar Sudah Bisa Membaca


Ketika mendengar kata kemampuan membaca, apa yang terlintas dipikiran Anda?

Apakah kemampuan seseorang dalam memahami sebuah teks bacaan?

Apakah kemampuan seseorang dalam menyelesaikan buku bacaan?

Apakah soal prestasi tingkat literasi seseorang?

Ataukah apa?

Kemudian, apa sih yang menjadi indikator seseorang memiliki kemampuan membaca yang baik?

Apakah mampu memahami isi teks bacaan?

Apakah seseorang yang memiliki kemampuan baca yang baik tercermin pada lakunya yang bijak pula?

Ataukah pokoknya jika sudah bisa membunyikan kata dalam kalimat sudah bisa dikatakan mampu membaca?

Mencari Makna Membaca 
Sekitar 4 atau 5 tahun lalu, seorang teman pernah bertanya begini, "Emang kita udah bisa membaca alQur'an? Atau jangan-jangan kita hanya sekedar membunyikannya?!". 

Wah, sebuah pertanyaan yang membangkitkan kekepoan saya.

Pada sesi diskusi tipis-tipis tersebut, si teman menyampaikan bahwa selama ini sebagian besar orang masih pada tahap membunyikan, belum sampai mampu membaca.

Saya pribadi sebenarnya masih belum paham dengan maksud si teman. Saya belum menemukan kesimpulan yang pas dari makna membaca itu sendiri.

Lalu sekian tahun berlalu, ketika saya mendengarkan Ngaji Filsafatnya Pak Faiz, ada pernyataan Pak Faiz yang mengatakan, "Belajar saja terus. Baca saja terus. Urusan ngerti nggak ngerti itu bukan urusanmu. Tapi urusnnya Allah. Bagianmu adalah ikhtiar".

Pernyataan tersebut membuat saya berpikir, "Yang saya tahu bisa membaca itu adalah paham dengan isi bacaannya. Tapi jika Allah belum mengijinkan untuk paham isinya, apakah saya akan dikatakan belum bisa membaca?". 

Lalu orang yang seperti apa yang sebenarnya dapat dikatakan memiliki kemampuan membaca yang baik?

Kemudian ketika saya membaca buku Pak Galih yang berjudul Merah Putih Arsitektur Nusantara, saya merasa menemukan insight baru mengenai membaca. 

Pada bagian Sekapur Sirih buku tersebut, Pak Galih menghimbau kepada pembacanya agar buku beliau tersebut jangan dipandang sebagai kumpulan hasil membaca. Melainkan sebaiknya dipandang sebagai kumpulan proses membaca.

Konteksnya memang tentang Arsitektur Nusantara. Akan tetapi himbauan tersebut dalam diartikan secara umum, yang mana -menurut saya- bahwa pada dasarnya kita tidak bisa mengklaim diri kita sudah mampu membaca. Melainkan kita akan terus menerus berproses untuk belajar membaca

Karena membaca itu kan bukan soal yang tekstual saja, tapi juga apa yang tersaji pada alam semesta. Baik yang tampak ataupun tidak tampak.

Alat Membaca
Seperti yang kita tahu bahwa kita, manusia, sudah diinstallkan software yang akan membantu kita dalam proses membaca. Tentunya ada hardware nya juga seperti mata dan telinga. Walaupun pada orang tertentu ada yang Allah kehendaki tidak mendapatkan nikmat alat baca hardware tersebut. Tapi software nya kadang lebih tajam dari orang pada umumnya.

Apa saja kah software manusia itu?

Sependek yang saya tahu, alat baca yang sudah Allah install pada diri manusia adalah akal, pikiran, hati, rasa, dan nafsu. 

Sependek yang saya tahu, kelima alat baca tersebut harus digunakan secara tepat, bijak dan seimbang. Karena jika ada salah satu yang terlalu merajai, biasanya seseorang akan cenderung pada kedzaliman.

Nauzubillah…

Itu sependek yang saya tahu dari mendengarkan beberapa kajian lho ya. Jika saya keliru silakan ditegur.

Tapi saya mengakui kok kalau diri saya sendiri juga sering mendzalimi diri saya sendiri. Kemudian akhirnya tanpa sadar mempotekkan hati orang lain. Artinya saya sendiri belum bisa membaca. Maafkan yaa, darling friends 💕.

Dalam proses belajar membaca, kita akan terus melatih akal kita agar semakin tajam, rasa dan hati kita agar semakin lembut, pikiran dan nafsu kita agar semakin terkendali dengan baik. Software ini nantinya akan terus kita gunakan dalam membaca setiap maksud Allah.

Tapi dalam proses membaca itu harus ada ketawadhu'an agar Allah ridho dengan apa yang kita lakukan. Sehingga Allah akan dengan sangat ringan membuka jalan petunjuk pada kita pada proses membaca.

Insyaa Allah.

Allahu a'lam..

Terus inti tulisan ini apaaaaaa? Hadeeehhh!
Intinya jangan lupa makan 3x sehari dengan makanan yang sehat. Karena di surga nanti boleh makan sesuka hati 🤣🤣🤣.

Nggak. Nggak.

Pada intinya adalah satu-satunya orang yang memiliki kemampuan membaca paripurna adalah Rasulullah s.a.w. Tentu itu berkat Allah juga, karena beliau adalah nabi terakhir sehingga harus diberi kemampuan maksimal.

Bagaimana kita yang manusia biasa?

Kita manusia biasa masih akan terus dan selalu berproses untuk membaca se presisi yang kita bisa. Dalam proses membaca harus dengan ketawadhu'an dan selalu melibatkan Allah. Karena bisa jadi ada mblesetnya ketika proses membaca tersebut.

Ketawadhu'an adalah bentuk bahwa kita ini hanyalah manusia lemah, banyak salahnya. Sehingga dengan cara ini kita nggak akan merasa sudah paling tahu. Heuheu..

Tapi nggak juga kita merasa sudah paling tawadhu' ya 🤣

Duh, makin mbingungi ya tulisan say 🤣. Dah ah! Nanti kalian makin nggak mau mengunjungi blog saya lagi. Bhay!


Post a Comment

0 Comments