Materi dan Non-Materi


Berlanjut ke pasal 2 dari Fihi Ma Fihi. Judul pasalnya adalah Kata-kata Hanya Perantara. Sebenarnya saya speechless banget dengan pasal 2 ini. 

Gimana yak?

Sulit untuk diungkapkan. Akan tetapi saya akan mencoba menuliskan apa yang sekiranya saya pelajari dari pasal 2 ini. 

Pasal 2 ini menurut saya sangat berhubungan dengan pasal 1. Akan tetapi di pasal 2 ini, Rumi mulai mengajak kita untuk berjalan lebih jauh ke dalam untuk mencari yang inti. Ini sih menurut interpretasi saya yess.

Kuy lah kita lesgooo..

Unsur Kesesuaian
Pada bagian awal pasal, Rumi menyampaikan tentang kata-kata yang mampu membuat seseorang tertarik pada orang lain. 

Contoh yang paling mudah untuk memahami pasal 2 ini adalah Rasulullah.


Kita semua tahu bahwa kemuliaan Rasulullah sangat luar biasa. Siapapun pasti mengakui. Bahkan pancaran cahayanya tidak padam sedikitipun hingga saat ini walaupun jasadnya telah berabad-adab tertimbun di dalam tanah. 

Tapi apa sih yang sebenarnya membuat kita sangat jatuh cinta kepada beliau? 

Apakah adabnya? Tutur katanya? Atau apanya?

Sebenarnya yang membuat kita jatuh cinta kepada Rasulullah adalah karena adanya unsur kesesuaian antara diri kita dengan Rasulullah. Unsur kesesuaian ini suatu hal yang melampaui segala yang tampak pada diri Rasulullah. 

Rasulullah digambarkan sebagai sosok yang sangat zuhud. Bahkan pakaiannya ya itu itu saja. Bahkan jauh dari kata bagus. Kalau kita membayangkan beliau secara zahir, kadang kita kan merasa gimana yak. Masak sih seorang nabi penampilannya seperti itu. Tapi kita nggak sampai menciptakan persepsi seperti itu kan ya. Ya karena kita cinta pada beliau.

Ada unsur kesesuaian yang tercipta antara kita umatnya dengan beliau.

Coba kita memperhatikan sisi orang-orang yang membenci beliau dan tidak mengikuti beliau hingga akhir hayat. Padahal sudah jelas-jelas mereka yang hidup dalam 1 masa dengan Rasulullah. Melihat langsung seperti apa wajah Rasulullah. Melihat langsung mukjizat dan karamah yang beliau miliki. Melihat langsung kemuliaan Rasulullah. Tapi teteuuup aja nggak membuat mereka leleh akan kemuliaan Rasulullah.

Mereka yang membenci Rasulullah, tidak melihat keindahan dalam diri Rasulullah. Mereka saking udah ketutup hatinya, sehingga melihat Rasulullah sebagai bencana. Mereka mengerahkan segala cara untuk memusnahkan Rasulullah. Dalam hal ini berarti tidak ada unsur kesesuaian pada dirinya terhadap Rasulullah. Karena seberapapun banyaknya mukjizat yang dimiliki Rasulullah, jika tidak ada unsur kesesuaian, maka tidak akan menggugah hati mereka.

Sebenarnya apa sih yang ingin disampaikan oleh Rumi?

Jadi, sebenarnya yang menimbulkan daya tarik hanyalah satu. Seberapapun banyaknya kebaikan yang tampak pada diri Rasulullah, yang menimbulkan daya tarik sebenarnya adalah hanya satu. Satu disini adalah yang hakikat. Apa yang tampak pada diri Rasulullah itu hanyalah perantara agar kita paham apa yang ingin disampaikan. Selain itu juga agar kita tahu contoh yang baik itu seperti apa. 

Untuk melihat hakikat yang terkandung dalam sesuatu, kita perlu untuk membersihkan diri dari karakter istimewa. Karakter istimewa ini seringkali membuat kita jadi sombong. Hal ini yang kemudian menutup mata hati seseorang untuk mampu merasakan yang hakikat.

Sama halnya seperti orang-orang jahiliyah jaman Rasulullah. Mereka menganggap diri merekalah yang paling baik dan benar, sedangkan Rasulullah tidak. Padahal mereka sudah ditunjukkan betapa mulianya Rasulullah, namun tidak juga membuat mereka mencintai Rasulullah.

Materi dan Non-Materi

Insyaa Allah dari uraian yang njelimet itu bisa dipahami maksud yang ingin saya sampaikan ๐Ÿ™ˆ. Sejujurnya untuk menulis apa yang saya pahami dari pasal 2 ini susaaaaaahhhhhnya minta ampun ๐Ÿ™ˆ. Saya khawatir kalau saya keliru dalam menyampaikan. Nauzubillah..

Kembali ke laptop..

Jadii…

Antara materi dan non materi ini adalah dua hal yang saling bertautan satu sama lain. Saling membutuhkan satu sama lain  Di dunia ini, kalau tidak ada yang materi kan jadi repot ya. Beda dengan di akhirat nanti, segala sesuatu ditampakkan seutuhnya ๐Ÿ™ˆ.

Nah, disinilah letak keterhubungan antara pasal 1 dengan pasal 2, yang mana unsur materi ini menjadi sebuah pengecoh. Oleh karenanya jangan biarkan diri kita terkecoh oleh materi, agar kita mampu melihat unsur non materinya juga. Agar tidak terkecoh, tawadhu'lah, dan bersikaplah waro'i atau waspada. 

Ibarat kayak cintanya Laila dan Qais al-majnun. Kata Qais kan Laila itu ibarat anggur. Sekalipun bejana emas tapi kalau isinya bukan anggur, ya tetap saja tidak akan menarik hati.

Atau seperti yang diungkapkan oleh Laila ketika seseorang bertanya kepadanya, kenapa kok Qais cinta banget sama dia. Padahal cantik juga nggak. Jawaban Laila, "hanya pecinta yang tau rasanya cinta".

Naaahh, ini dia unsur kesesuaian tadi. 

Qais tidak melihat Laila pada yang tampak, melainkan pada yang tidak tampak. 

Begitu juga sebenarnya kita kepada Rasulullah. Cinta kita ke beliau kan non-materi banget. Kalau ditanya kenapa kok cinta bangeet kepada beliau? Bisa jadi kita akan menjawab nggak tahu. Pokoknya ya cinta. 

Namun namanya cinta perlu bukti. Salah satu bukti cinta kita kepada Rasulullah adalah dengan sholawatan, meneladani kebaikan beliau dan lain-lain.

Hakikat, jika ditampakkan langsung kepada manusia, bisa-bisa kita bakalan kaget bahkan menjauh. Sehingga dibutuhkan perantara (materi) agar manusia paham pada apa yang ingin Allah sampaikan kepada kita. 

Namun kita jangan hanya berhenti pada materi itu saja. Nanti kita bisa jadi manusia yang kaku dan sombong. Sehingga kita perlahan untuk melihat pada aspek non materinya juga. Agar kita bisa setidaknya memahami hakikat. Walaupun untuk menuju hakikat itu sendiri sudah pasti nggak pernah mudah. 

Huhu, njelimet ya penjelasannya. Lha wong yang tertulis di Fihi Ma Fihi juga njelimet ๐Ÿคฃ. Apalah saya manusia remahan rengginang.

Udah ah, awak sudah mulai bingung. Semoga pembaca yang budiman nggak bingung yaakk ๐Ÿ™ˆ. Mohon maaf jika ada yang kurang-kurang.

Post a Comment

0 Comments