Family Project : Menerapkan Hidup Minim Sampah


Permasalahan saat ini yang benar-benar ngeri-ngeri sedap adalah masalah sampah. Ya hampir semua orang pastilah ya menghasilkan sampah dari aktivitas yang dilakukan. Akan tetapi yang menjadi tantangan adalah mengelolanya. Karena kondisi sampah yang makin hari makin numpuk dan semakin mencemari, muncullah gerakan zero waste dan atau less waste.

Sumber : merdeka.com

Ajakan untuk “buanglah sampah di tempat sampah” saja tidak cukup. Karena ajakan tersebut tidak mampu mengurangi debit sampah. Selain itu juga, ajakan tersebut masih belum mampu menyadarkan masyarakat untuk membuang sampah ke bak sampah. Lihat saja, masih banyak masyarakat yang membuang sampahnya sembarangan. Apa perlu diksinya diganti dengan letakkan? Jadinya letakkanlah sampahmu di tong sampah. Karena kalau dipikir-pikir perilaku membuang dengan meletakkan itu berbeda.

Sumber : kaskus.co.id

Karena permasalah ini, saya dan Dana membuat Family Project yaitu meminimalisir sampah atau less waste. Sejujurnya saya masih belum bisa sampai ke tahap zero waste. Akan tetapi dengan menerapkan less waste pun saya sudah bisa meminimalisir sampah yang saya buang ke Tempat Pembuangan Sampah.

Berikut adalah beberapa hal yang saya lakukan dalam usaha meminimalisir sampah :

Memilah sampah organik dan anorganik.
saya sudah memulai untuk memilah sampah-sampah organik dan anorganik. Tujuannya agar tidak semua sampah dibuang ke tempat pembuangan sampah. Karena di lingkungan tempat tinggal saya tidak ada petugas kebersihan. Sehingga kam masihi harus “titip” sampahnya di tempat pembuangan umum. Huhu. Sejujurnya sih saya belum bisa ya untuk ber-zerowaste. Ya paling nggak less waste lah ya. Karena setidaknya debit sampah yang dibuang ke TPS nggak banyak amat. Dan saya mengusahakan untuk buang sampahnya seminggu sekali.

Di dapur, saya menyediakan 2 tempat sampah. Yang satunya untuk sampah anorganik. Ukuran tempat sampahnya standard kok. Bukan tempat sampah yang besar. Lalu satunya lagi sampah organik seperti kulit buah, sisa potongan sayur, kulit bawang, dan sejenisnya. Selain itu saya juga menyediakan 1 karung kecil (kemasan beras 5kg) sebagai wadah botol kemasan dan kertas tak terpakai. Nah, kalau karungnya sudah penuh dengan botol dan kertas. Biasanya saya berikan ke ibu/bapak pencari botol bekas.

Satu hal yang sampai saat ini masih sering terlupakan adalah membawa wadah sendiri kalau beli makan di luar. Sehingga kalau saya beli bakso ataupun sate misalnya. Plastik pembungkusnya saya bersihkan dulu lalu keringkan. Baru lah saya buang ke tong sampah di dapur. Biar nggak bau, euy. Kan saya buang sampahnya seminggu sekali.

Memanfaatkan pot dan karung besar untuk wadah sampah organik.
Dulu awal-awal pindah ke rumah kontrakan yang sekarang saya tempati ini, saya bingung sampah organiknya mau diapakan. Mau bikin takakura, rasanya ribet. Ya sudah deh saya menggunakan metode konvensional yaitu mengubur sampah organiknya ke tanah πŸ˜‚.

Dirasa-rasa, lama-lama jadi capek euy. Dan dudulnya saya, kenapa nggak dari awal memanfaatkan pot yang ada. Lagian saya pribadi nggak doyan tanam-tanam bunga. Lalu akhirnya pot tanaman di kontrakan saya tata rapi lalu saya jadikan tempat membuang sampah organik.

Pot sampah organik

Enaknya kalau kayak gini tuh nggak perlu gali-gali tanah. Tinggal diletakkan aja dan agak dipadatkan pakai kayu biar nggak kelihatan numpuk banget. Selang beberapa hari, sampahnya sudah menyusut.

Sampah organik ini saya buang setiap hari dengan jumlah yang tidak banyak. Sehingga pot tempat sampah organik tidak sampai menggunung. Akan tetapi kalau jumlahnya sangat banyak, terutama setelah melakukan food preparation, saya memilih menggali tanah dan menimbunnya. Biasanya kalau sampahnya ditanam di tanah, ada aja gitu yang tumbuh πŸ˜‚. Jangankan sampah yang ditan di tanah, yang dimasukkan pot saja ternyata ada yang tumbuh 🀣.

Tomat yang tetiba tumbuh

Selain itu saya juga menggunakan karung untuk mewadahi sampah organik saya. Terutama sampah seperti rumput dan daun kering. Karena nggak mungkin saya bakarin ya. Awalnya sih saya bakar, tapi lama-lama merasa bersalah juga. Untungnya ada yang jual karung ukuran besar. Jadi saya bisa menggunakan itu untuk wadah sampah seperti daun kering dan rumput.


Karung sampah organik

saya sih tidak dalam usaha bikin pupuk organik ya. Karena bagi saya yang penting sampah organiknya nggak dibuang ke TPS aja deh.

Regrow tanaman kangkung
Biasanya saya kalau beli kangkung nggak ngebuang akarnya. Oleh karenanya, kalau habis potong-potong kangkung, sisa yang ada akarnya saya tanam di tanah. Yaah, lumayan lah ada tumbuh 2-3 biji kangkung dari sekian banyak yang ditanam. Ahahha. Lumayan lah ya, ketimbang lumanyun πŸ˜„. Kalau sudah tinggi pasti saya petik. Lumayan nambah-nambah buat disayur. Haha.

Regrow kangkung

Membawa kantong belanja dan food storage ketika belanja mingguan ke Pasar
Saya pribadi lebih memilih belanja di pasar tradisional. Karena saya bisa bawa wadah sendiri dari rumah.

Tas belanja dan food storage

Nah ini nih hal yang penting untuk dilakukan tapi kadang orang malas melakukannya karena ribet. Tapi saya pribadi benar-benar memaksakan diri untuk kudu bawa kantong belanja dan food storage kalau belanja ke mingguan ke pasar. Ataupun cuma sekedar beli bawang doang. Kelihatannya memang ribet.
But i do enjoy it. Apalagi kalau pulang belanja, nggak ada satupun kemasan kantong plastik yang dibawa pulang. Rasanya happy banget.

Kadang orang-orang di pasar suka aneh gitu ngelihat saya. Tapi bodo amat lah ya. Ketimbang nambah-nambah beban. Haha.

Dan saya selalu mengusahakan membawa satu tote bag di tas saya. Kebetulan dulu pas ikut sidang terbuka salah satu mahasiswa S3, saya dapat tote bag yang bisa dilipat sampai kecil dan ada resletingnya. Praktis. Bisa dibawa kemana-mana.

Mengurangi cemilan dan minuman dengan kemasan plastik
Ini sih hikmah dari usaha meminimalisir sampah rumah tangga ya. Dulu tuh saya sering banget beli cemilan. Entah beli di swalayan atau di warung. Alhasil sampah plastik yang dihasilkan juga banyak. Lambat laun saya mengurangi beli cemilan macam makanan ringan ataupun gorengan dan menggantikannya dengan buah-buahan. Jadi, selain nyemilin yang lebih sehat juga bisa mengurangi sampah plastik.

Nyemil buah dan tahu sutra. Maik euy!

Ternyata ketika ada kesadaran untuk meminimalisir sampah rumah tangga akan mempengaruhi pola konsumsi kita sehari-hari.

Itulah usaha kecil yang saya dan Dana lakukan. Nggak mudah memang mengatasi masalah sampah ini. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan dan kegigihan untuk mengurusi hal semacam ini. Emang sih kelihatannya kayak nggak penting gitu ngurusi sampah. Tapi saya keinget sama pesan pimpinan Ponpes Haramain, Lombok Barat, TGH Hasanain Juaini, “mengurusi masalah sampah itu adalah pekerjaan yang mulia”. Dan ya, kita tidak mungkin terus-terusan membebani masalah ini hanya kepada orang-orang tertentu dan membebani alam atas apa yang kita konsumsi.

Kita memang tidak akan pernah bisa meniadakan sampah. Karena setiap hari kita menghasilkan sampah. Paling tidak kita bisa mengurangi debitnya. Terutama untuk sampah yang sulit diolah.

Bagaimana dengan teman-teman? Apakah sudah menerapkan less waste? Yuk sharing 😘

Post a Comment

2 Comments

  1. waah keren banget mba udah bisa nerapin zero waste di rumah. Aku masih belum bisa. Baru bawa tas belanja sendiri ke pasar, sama donasi minyak Jelantah. Semoga ke depannya aku bisa seperti mba aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah,udah bagus itu mbak. Semangat berzero waste 😍

      Delete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊