Resume NAK : Mengajarkan Islam Pada Anak

 


Ceritanya pagi ini saya pingin sok-sok an produktif, mumpung Hening lagi hobi tidur ๐Ÿ˜†. Sehingga saya langsung meluncur ke Youtube untuk mendengarkan kembali ceramahnya Nouman Ali Khan yang judulnya sama seperti judul blogpost ini, Mengajarkan Islam Pada Anak. Sambil mendengarkan tentunya saya juga mencatatnya biar nggak lupa-lupa amat. Agar produktivitas saya hari ini semakin meningkat, ceramah yang sudah saya dengarkan dan catat, saya buatkan resumenya di blog ini.

Hmm, tapi saya nggak tahu apakah tulisan ini pantas untuk disebut sebagai resume atau tidak. Karena biasanya saya pasti menambahkan pemikiran atau tulisan dari sumber lainnya. Wkwkwk. Dianggap pantas saja deh yaaa~

*intermezzo kepanjangan ๐Ÿ˜‚*

Menurut saya pribadi, ceramah Pak Nouman ini penting banget untuk disimak dan direnungkan. Karena isi ceramahnya adalah hal yang sangat mendasar terkait pendidikan anak dan mengajarkan Islam kepada anak. Dalam ceramahnya tersebut Pak Nouman membuat saya sebgai pendengar untuk merenungi kembali makna sukses, guna pendidikan dan bagaimana seharusnya mengajarkan Islam pada anak. 

Dulu saya beranggapan bahwa sukses itu ya sekolah tinggi ditempat yang bagus, karir gemilang, punya rumah, punya mobil dan sebagainya. Saya rasa nggak hanya saya saja yang berpikiran demikian. Tapi sebagian besar orang masih banyak yang berpikir begitu. Namun gegara baca setetes tulisannya Cak Nun tentang sukses, saya langsung tertampar. Ketambahan lagi mendengarkan ceramahnya Pak Nouman, saya terpelanting. Wkwkwk #Lebay

Dulu saya pikir orang yang sekolahnya tinggi sudah pasti adalah orang yang berpendidikan. Ternyata tidak! Karena antara sekolah dan pendidikan tentu maknanya berbeda. Orang yang sudah sekolah tinggi tidak menjamin ia pasti berpendidikan. Contohnya banyak. Lihat saja para koruptor. Titelnya berjejer, sekolahnya nggak main-main, ujung-ujungnya ya ngerugiin orang lain juga kan?! Heuheu~

Dulu saya juga berpikir bahwa mengajarkan Islam kepada anak ya tinggal dibawa ke TPQ atau disekolahkan di sekolah Islam atau di pondokkan. Ternyata ya nggak gitu juga. Hmmm~  


Apa Itu Sukses? Apa Guna Pendidikan?

Saya rasa sampai detik ini kita masih menjumpai orang tua yang menasihati anaknya untuk sekolah setinggi-tingginya agar bisa punya pekerjaan yang bagus, punya banyak uang, punya rumah, punya mobil, edebrah. Ya memang nggak salah sih sebenarnya. Karena nggak ada juga orang tua yang mau anaknya hidup sengsara. Tapi sayangnya isi nasihatnya hanya untuk kepentingan diri sendiri dan duniawi saja. Sedangkan jika kita mengingat kembali tujuan penciptaan kita sebagai khalifah tentu tujuan bersekolah tidak sedangkal itu bukan?

Pada akhirnya nasihat semacam ini membuat mindset kita tentang guna pendidikan hanya berorientasi dunia dan sukses itu sendiri nilainya juga dunia.

Selain itu Pak Nouman dalam ceramahnya memberikan perbandingan antara mindset orang dulu dengan orang sekarang tentang pendidikan. Kalau orang jaman dulu banget, ya jaman kejayaan Islam gitu, mindsetnya tentang pendidikan adalah untuk memahami diri sendiri, memahami orang sekitar dan memberikan kontribusi untuk kehidupan. Dengan mindset yang demikian, maka sukses bagi mereka nilainya tentu lebih ke urusan akhirat.

Sebagai contoh adalah Kwarizmi, Ibnu Arabi, Imam Ghazali, Jalaluddin Rumi dan lain sebagainya.  Hidup mereka benar-benar dihabiskan untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Sehingga meski raga mereka sudah terpendam dalam tanah sejak berabad-abad lalu, namun sampai detik ini mereka masih memberi kontribusi bagi kehidupan.

Jika kita benar-benar mencermati para ilmuwan jaman kejayaan Islam, mereka itu nggak hanya belajar dan menguasai satu bidang keilmuwan saja. Namun satu orang bisa menguasai banyak bidang. Berbeda dengan hari ini yang mana kita terkesan hanya diminta fokus ke satu bidang saja. Padahal antara satu bidang keilmuan dengan bidang keilmuan lainnya saling berhubungan. Sehingga kesempatan untuk berkontribusi akan semakin besar dan lebih maksimal. Insyaa Allah.

Tapi memang kita tidak bisa memungkiri pengaruh globalisasi dan konsumerisme menyebabkan adanya pergeseran pandangan tentang pendidikan dan juga kesuksesan. Nilai diri manusia dilihat dari brand atau barang yang melekat pada tubuhnya. Sehingga akhirnya tujuan bersekolah dan atau menuntut ilmu tidak ditujukan untuk kemanusian, melainkan untuk kepentingan ego kita. Ya kita harus berani mengakui hal ini sih. Hohoho~

Pada akhirnya amal perbuatan kita ya tergantung niat kita. Apakah untuk meraih ridho Allah atau agar dilihat oleh orang? Rasanya memang niatan kita ini juga sih yang perlu dievaluasi ulang.

Oleh karenanya Pak Nouman dalam ceramahnya mengajak pendengar untuk melakukan revolusi dalam pendidikan kita. Agar mindset kita soal pendidikan dan kesuksesan tidak hanya sebatas untuk kepentingan pribadi dan duniawi saja, namun untuk benar-benar bisa menjalankan tugas kita sebagai khalifatullah. Sehingga dengan mengubah mindset kita pada tujuan yang benar pasti akan mempengaruhi sikap, mentalitas dan pandangan kita tentang pendidikan dan sukses. Begitu juga anak kita.



Jalani Peran Sebagai Orang Tua Sebaik-baiknya

Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. "Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim".

(Al-Baqarah (2) : 132)

Pak Nouman dalam ceramahnya mengingatkan pendengar bahwa pendidikan atau tarbiyah itu sifatnya turun temurun. Hal ini dibuktikan dari surah al-Baqarah ayat 132 yang mana nasihat Nabi Ibrahim diberikan dan dijalankan secara turun temurun sampai ke Nabi Ya'qub. 

Maksudnya begini. Ketika kita berharap anak kita menjadi generasi yang unggul dan berkualitas, maka diri kita juga harus demikian. Jangan sampai kita hanya berharap kepada anak, tapi kualitas diri kita tidak ditingkatkan. Bisa kita perhatikan dari nasihat Nabi Ibrahim tersebut. Beliau tidak hanya sekedar memberikan nasihat ke anak-anaknya, tapi nasihat tersebut juga beliau jalankan dengan sebaik-baiknya. Begitu terus sampai ke cucunya. 

Saya jadi teringat dengan prinsip pengasuhan orang tua Denmark bahwa bagi mereka orang tua yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia. Kemudian anaknya nanti akan menjadi orang tua yang bahagia juga. Begitu seterusnya.

Akan tetapi Pak Nouman juga mengingatkan pendengar melalui kisah Nabi Ya'qub. Meskipun Nabi Ya'qub adalah seorang nabi, namun tidak menjamin semua anaknya seperti Nabi Yusuf. Kita tahu sendiri kan sebagian anaknya kualitasnya seperti apa? Walau pada akhirnya mereka bertobat juga. Namun yang terpenting adalah orang tua harus menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan harus adil ke semua anak. 

Sebagaimana nasihat Rasulullah kepada anaknya yaitu Fatimah,"Berhati-hatilah pada Allah. Karena aku tidak dapat menolongmu dihadapanNya". Nah lho, Rasulullah sendiri ya nggak bisa menjamin nasib anaknya dihadapan Allah. Tapi Rasulullah tetap menjalankan tugasnya sebagai ayah dengan maksimal tentunya.

Selain itu juga Pak Nouman mengingatkan tentang pentingnya seorang ayah untuk terlibat di dalam pendidikan anaknya. Menurut tafsiran Pak Nouman, ketika Allah berbicara tentang mengajarkan Islam pada anak itu datangnya dari nasihat ayah kepada anaknya. Contohnya ya seperti Luqman dan juga Ali Imran. Sehingga penting bagi seorang ayah untuk memiliki waktu bersama anaknya. Entah untuk ngobrol ataupun mendengarkan anaknya bercerita, meskipun ceritanya rada ngadi-ngadi. Waks! Karena sisi kebapakan itu perlu untuk diasah, tidak datang secara natural seperti seorang wanita yang menjadi ibu.

Kata Pak Nouman (lagi) ketika seorang ayah menasihati anaknya, ia tidak hanya sekedar mentransfer kata-kata. Namun juga ia secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk menjadi seorang ayah yang baik atau menjadi orang tua yang baik untuk anaknya kelak. Balik lagi ke contoh awal seperti Nabi Ibrahim. Oleh karenanya orang tua harus menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya karena dampaknya untuk generasi selanjutnya sangatlah besar.

Poin terpenting dalam pengasuhan yang tidak akan pernah bisa berubah adalah pendidikan terbaik dan utama itu datangnya dari orang tua. Terutama pendidikan adab. Bukan dari sekolah, bukan dari pesantren atau dari lembaga pendidikan lainnya. Sehingga Pak Nouman amat menyarankan agar para orang tua menjadi tauladan bagi anak-anaknya. 

Kurikulum pendidikan adab bagi anak menjadi amat penting. Karena kita nggak pernah tahu anak kita akan menghadapi lingkungan yang seperti apa. Sedangkan kita kan nggak bisa mengontrol lingkungan diluar diri kita dan anak kita. Melainkan kitalah yang harus memperkuat "imunitas iman" anak kita.

Kemudian yang nggak kalah pentingnya adalah menjadikan alQur'an sebagai referensi utama dalam mendidik anak. Semua kebutuhan pendidikan manusia untuk sepanjang hidupnya ada di dalam alQur'an. Sehingga Pak Nouman juga menghimbau agar para orang tua utamanya ayah mau untuk belajar alQur'an. Kemudian mengajak anaknya untuk membaca alQur'an bersama dan mentadabburinya.

Dalam ceramahnya, Pak Nouman berulang kali mengingatkan bahwa orang yang paling utama untuk mengajarkan Islam pada anaknya adalah orang tua. Tidak hanya melalui nasihat tapi juga melalui keteladanan. Karena Rasulullah yang seorang rasul, yang secara langsung mendidik anaknya tidak bisa menjamin anaknya bisa selamat dihadapan Allah. Apalagi orang tua yang menitipkan anaknya untuk diajarkan agama ke orang lain. 

Bukan berarti nggak boleh sekolahin anak, ga boleh pondokin anak, ga boleh TPQ in anak. Boleeeehh. Tapi jangan lupa tanggung jawab utama kita sebagai orang tua adalah mendidik anak dengan baik melalui panduan alQur'an. Karena yang dititipkan amanah adalah orang tua. Bukan pihak sekolah, pesantren ataupun TPQ. 

Hmm..

Dengan panjangnya resume ini, semoga bisa ditarik kesimpulannya apaan. Wkwk

Bhay!

Post a Comment

0 Comments