Bahagia Menjadi Domestic Goddess aka IRT


Entah dimana saya mendapatkan istilah domestic goddess ini. Yang pasti menurut saya ini istilah yang kedengarannya keren aja sih untuk menggantikan istilah IRT. Wkekwkek, biar rada sok keminggris gitu lho rweeeekkk!!! 😌


Saya menikah pada bulan September 2017. Yah, hampir 3 tahun lah menyandang status sebagai seorang istri. Dan jauh sebelum menikah, saya sudah bercita-cita ingin menjadi full time mom and wife saja. Cita-cita yang mungkin dianggap cetek oleh orang lain, pun termasuk orang tua saya sendiri. Tapi biarlah, yang penting saya bahagia dengan keputusan saya ini.


Saya memutuskan untuk menjadi IRT penuh karena saya sadar diri kalau saya tuh susah mengatur fokus saya. Kalo udah kerja bisa lupa seisi dunia ntar. Hmm, lebhaaay.


Selain itu juga karena saya punya manajemen emosi yang amat sangat buruk. Maka menurut saya keputusan untuk tidak bekerja di ranah publik adalah tepat. Karena saya bisa melatih emosi saya agar lebih jinak dan lebih baik dari hari ke hari. Alhamdulillah kok ya dikasih jodoh sabar banget juga dalam menghadapi saya 😌.


Setelah menjalani hari-hari sebagai full time domestic goddess, saya merasa amat enjoy. Ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari tiap harinya. Entah berkebun, masak, bikin cemilan sederhana, merajut, manajemen waktu dan emosi, manajemen keuangan dan lain sebagainya.


Ya, arap maklum yak. Sebelum nikah rasanya hari-hari saya seperti habis buat kuliah dan kerja. Kemudian saya kehabisan energi untuk belajar hal lainnya. Masak aja baru bisa sejak menikah. Udah gitu pas awal belajar masak mesti gosong dan keasinan 😌. Kasihannyaaa suamiku jadinya gegara dikasih makan tempe gosyong dan cah kangkung keasinan 😌. Wkwwkwkk.


Tapi menjalani prosesnya amat sangat menyenangkan. Alhamdulillah sekarang saya udah bisa masak beragam menu dwoooong. Udah rada pinter dikit urusan menentukan kuantitas bumbu yang dibutuhkan 😌. 


Terong
Bukti kalau bisa masak meski cuma terong. Wkwk


Dulu ngapain aja dah saya ih?!! 


Tapi saya sama sekali nggak menyesal sih baru belajar masak setelah menikah. Karena jadi punya banyak cerita lucu untuk dikenang. Wkwkwkww. Sayangnya foto makanan yang kayak embuh itu udah ilang gegara HP saya yang lama rusak πŸ™„.


Merdeka Menjadi Full Time Domestic Goddess

Saya pribadi sangat menikmati peran saya sebagai ibu rumah tangga penuh yang tidak memiliki tanggung jawab pekerjaan publik. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya jadi belajar banyak hal tanpa harus diburu waktu.


Setiap hari saya mencoba trial and error soal manajemen waktu. Alhamdulillah sudah nemu pengaturan waktu yang pas.


Tiap pagi saya berusaha bangun jam 3 pagi. Rumah harus sudah bersih sebelum subuh. Ya walaupun ga selalu seperti itu. Tapi setidaknya selalu saya istiqomahkan untuk bersih-bersih sebelum subuh.


Kemudian saya mandi baru deh solat subuh. Nah karena rumah udah bersih, habis subuhan saya bisa siram-siram tanamam sembari menyapu halaman rumah.


Setelah itu saya bisa baca buku dengan lega. Habis itu bisa dilanjut dengan merajut atau mungkin belajar hal lainnya. 


Setelah menikah juga saya belajar untuk mengatur keuangan keluarga.


Saya pribadi merasakan betul betapa mengatur keuangan keluarga ini sangat bermanfaat. Alhamdulillah masih bisa nabung tiap hari. Ya setidaknya masih bisa "makan enak" juga. Intinya kami nggak boros amat, tapi nggak pelit juga ke diri sendiri. Dan alhamdulillahnya lagi ada aja hal-hal ajaib selama mengatur keuangan keluarga.


Terus saya juga jadi punya usaha sampingan seperti merajut dan jualan buku. 



Perihal merajut ini, saya belajar dari Youtube secara otodidak. Biidznillah, diberi kemampuan untuk merajut. Belum ramai sih yang pesan, tapi setidaknya ada aja gitu yang pesan. Hho


Hal Yang Bikin Jengkel

Saya kadang nggak ngerti dengan orang-orang jaman now. Seringkali status sebagai Ibu Rumah Tangga diidentikkan sebagai orang yang tak berpenghasilan, nggak punya kerjaan, cuma ngandalkan uang suami dan lain sebagainya.


Lah, emang dipikir jadi IRT cuma ongkang-ongkang kaki gitu?


Apa bersihkan rumah namanya bukan bekerja?


Masak untuk keluarga juga bukan bekerja?


Mengaktualisasikan diri melalui hobi juga bukan bekerja?


Apakah bekerja harus selalu berkaitan dengan adanya penghasilan?


Terus kalau istri cuma bisa minta uang ke suami, emang nggak boleh? Kan suami sendiri, bukan suami orang.


Hmmm, sumpah sih saya tuh kadang agak gimana gitu ketika ada yang menganggap saya cuma nganggur di rumah.


Menurut saya, saya nggak pernah menganggur. Tiap hari saya bekerja dari sebelum subuh hingga menjelang tidur. 


Mungkin orang akan menganggap pekerjaan bersih-bersih rumah, cuci baju, cuci perkakas dapur adalah pekerjaan pembantu. Bagi saya sih nggak.


Menurut saya bersih-bersih rumah itu lho sebuah pekerjaan yang di dalamnya ada kebaikan. Selain agar rumah terlihat bersih dan rapi, juga bisa membuat orang yang melihatnya jadi senang, dan juga menurut saya bisa menjadi ruang untuk menjaga fitrah diri. 


Bekerja kan ga harus selalu digaji oleh atasan kan? Melakukan apapun asal kan baik ya juga bisa disebut bekerja. Pokoknya tiap hari selalu mendayagunakan anugerah yang Allah beri lah. Sekalipun nggak dapet uang, semoga Allah ganti dengan keberkahan dunia akhirat.


Marie Kondo saja, karena kesungguhannya beberesan bisa jadi ahli beres-beres. Bahkan doi sangat terkenal sekarang. Kliennya ada di seluruh dunia. Dari dia saya belajar untuk jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun itu.


Terus omongan lainnya yang membuatku ingin goyang dombret saja adalah, "Udah sekolah tinggi-tinggi eh ujungnya cuma di rumah saja ngurus sumur, dapur, kasur". 


Hmm, ada berapa banyak perempuan yang bisa menghasilkan pendapatan dari uplek di dapur?


Ada berapa banyak perempuan yang menemukan kebahagiaannya dari cuci perkakas dapur ataupun pakaian?


Ada berapa banyak suami yang menjadi amat setia karena kepandaian istrinya melayaninya?


Prosentasenya mungkin nggak banyak. Tapi ayolah, stop menaruh stigma pada perempuan yang bersungguh-sungguh pada tiga ranah tersebut.


Ketimbang distigmakan, mending disemangati dan di do'akan. Toh kita nggak tahu apa aja yang sudah dia lakukan. Bisa jadi diamnya di rumah saja ternyata telah menghasilkan banyak karya bermanfaat. Minimal untuk dirinya dan keluarganya.


Hmm, saya sangat berharap tidak ada lagi pandangan merendah ke para wanita yang memutuskan untuk menjadi IRT penuh waktu. Toh selama dilaksanakan dengan penuh kesungguhan, insyaa Allah akan mendatangkan kebaikan bukan?!


IRT sambil bekerja di ranah publik juga nggak apa-apa. Toh setiap orang punya caranya sendiri untuk mensyukuri anugerah yang sudah Allah beri.


Semoga Allah ridho dengan keputusan yang kita ambil ya, buibuk. Insyaa Allah.


Semangaaaaaattt ❤️❤️❤️


Tulisan ini bukan untuk pembelaan diri lho ya. Sehingga ayolah stop itu yang namanya mom war. Mau kerja di rumah saja kek, sambil jualan online kek, kerja di kantoran. Niatkan saja sebagai bentuk syukur kepadaNya. Okeeehh!


Bhay!



Post a Comment

0 Comments