Unsur Dalam Diri Manusia


Pertama kali tahu tentang unsur dalam diri manusia, ketika mendengarkan Ngaji Filsafat yang diampu Pak Faiz. Saya lupa waktu itu mendengarkan edisi yang mana. Hahaha. Pokoknya ada yang membahas tentang unsur dalam diri manusia lah. #DasarAku #PikunToTheMax

Pada beberapa pasal buku Fihi Ma Fihi nya Jalaluddin Rumi juga ada. Tapi nggak yang sampai detail banget sih. Singkat namun mencerahkan. Insyaa Allah..

Eh, tapi mungkin apa yang saya tulis disini nggak mendalam dan meluas amat ya. Maklumin aja. Apalah aku hanya butiran debu yang suka sok tempe padahal nggak tahu amat. Nulisnya sebatas kemampuan otak mengetahui, mengingat dan mengolah #phuuuff

Memangnya manusia punya unsur apa aja sih dalam dirinya?

Sependek yang saya tahu, dalam diri manusia terdapat 3 unsur yaitu unsur nabati, unsur hewani dan yang sejati adalah unsur manusia itu sendiri atau insan kamil.

Begini penalarannya..

Unsur Nabati
Grid.id

Pernah nggak sih melihat seseorang yang malasnya to the max? Kalo nggak tiduran doang, ya nongkrong mulu. Padahal fisiknya sehat kuat, tapi dia malas sekali. Malas bekerja, malas belajar, malas ibadah, pokoknya malas tingkat semesta banget dah. 

Tentu pernah dong ya menemukan orang yang seperti itu. Jangankan orang lain. Diriku sendiri juga begitu πŸ™ˆ.

Nah, manusia jenis seperti itu unsur nabatinya terlalu kuat. 

Nabati itu kan unsur tumbuhan ya. Tumbuhan secara simbolis, kalau ditanam di 1 titik maka ia akan terus tetap di titik itu. Nggak akan pindah kemana-mana. Sekalipun ia bergerak ke kiri dan ke kanan, tapi ia tidak bergerak layaknya hewan atau manusia. Ia hanya digerakkan hembusan angin.

Ya nggak?

Itulah ciri manusia dengan unsur nabati yang terlalu kuat. Oleh karenanya Buya Hamka bilang, "Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah". 

Plaakkk plaaakk plaaakkk…

Sungguh diriku merasa tertampar hingga guling-guling dengan pernyataan dari Buya Hamka tersebut. #Lebhahahahaaayyyy

Unsur Hewani
Okezone.com

Pernah melihat orang yang kerjaannya keluyuran nggak jelas? Atau mungkin seperti orang-orang yang kerjaannya seperti di kawasan prostitusi dan sejenisnya πŸ™ˆ.

Atau bisa juga orang yang kerjanya kenceng, tapi ibadahnya memble. Kalau sudah azan, biasanya masih santai aja gitu. Terus solatnya dipenghujung waktu πŸ™ˆ.

Pasti ada dong yaaa..

Banyaakk. Saya salah satunya yang solatnya nanti-nanti. #Eh #BukaAib

Nah, manusia jenis ini unsur hewaninya kuat banget. 

Kita tahu sendiri kalau hewan itu suka bergerak kesana kemari. Tapi ya nggak melakukan hal-hal yang penting. Inilah yang dimaksud oleh Rumi dengan orang yang unsur hewaninya kuat, yang mana ia terperangkap dalam kenikmatan raga dunia.

Jalaluddin Rumi, memberikan contoh lainnya tentang unsur nabati ini pada pasal 12 buku Fihi Ma Fihi. Dalam pasal tersebut diceritakan tentang para tawanan yang dipenjara. Lalu para tawanan terus berdo'a meminta agar dikeluarkan dari penjara. 

Kemudian setelah harapannya tersebut terwujud. Mereka tidak lagi rajin beribadah seperti saat masih di penjara. Raga mereka terperangkap kenikmatan duniawi yang membuat mereka tidak lagi ikhlas beribadah. 

Ketika membaca kisah tersebut pada buku Fihi Ma Fihi membuatku merasa mak deg πŸ™ˆ. Bisa dipahami kan ya makna yang ingin disampaikan oleh Rumi?

Apakah unsur nabati dan hewani dalam diri manusia selalu buruk?
Karena manusia adalah unit terkecil dari alam semesta, jawabannya adalah tidak. Kedua unsur tersebut memang dibutuhkan oleh manusia. Akan tetapi harus dikelola dengan tepat guna alias bijak. Karena jika tidak dikelola dengan bijak, kedua unsur tersebut hanya akan dikuasai oleh hawa nafsu. 

Kedua unsur tersebut tentu dibutuhkan oleh diri kita untuk mencari kesejatian menjadi manusia. 

Kalau kita melihat tumbuhan, untuk bisa berbuah atau dinikmati hasilnya tentunya ia harus tumbuh. Mulai dari hanya bibit hingga menjadi besar. Sama seperti manusia. Mulai dari berbentuk embrio, menjadi janin, lalu setelah matang dilahirkan.

Agar dapat tumbuh dengan baik, tanaman kan butuh nutrisi. Agar akarnya tetap terjaga dengan baik, tubuhnya tumbuh sempurna dan sehat. Sama kayak manusia, selain asupan nutrisi, pupuk terpenting manusia juga adalah keimanan. Karena inilah yang bisa membuat manusia selalu online dengan Allah.

Karena tumbuhan itu kan hanya tumbuh ke atas, tapi tidak bergerak kesana kemari. Maka manusia diberikan unsur hewani agar manusia bisa bergerak untuk menjalankan aktivitas. 

Tapi sebenarnya poin penting dari unsur hewani itu bukan pada bergeraknya, namun ketekunannya. Coba aja sih kita lihat, hewan itu mungkin kelihatannya yaa kerjaannya cuma kayak gitu doang. Lari kesana kemari, berburu, tidur, dan lain sebagainya. Tapi mereka tekun lho. Mereka tekun mencari makannya sendiri. Bahkan hewan itu tekun mencari makan untuk keluarganya.

Selain itu, ada juga hewan yang kalau sudah menemukan pasangannya. Ia akan sangat setia kepada pasangannya. 

Nah,tapi, kita harus ingat bahwa manusia memiliki hawa nafsu, akal, dan hati. Segala software ini akan sangat mempengaruhi kedua unsur tadi. Jika software kita digunakan dengan bijak, insyaa Allah kita mampu menjadi manusia yang paripurna. Inilah unsur sejati kita. Namun jika tidak, kita akan stagnan entah pada unsur nabati atau pada unsur hewani kita.

Kedua unsur tersebut bisa membantu kita untuk menjalankan tugas kita sebagai khalifah fil ardh. Oleh karenanya manusia dilengkapi dengan software juga. Agar kita bisa mencapai keparipurnaan itu.

Selain itu juga, bisa jadi kedua unsur tersebut ada agar kita menyadari bahwa makhluk hidup di luar manusia juga adalah "saudara" kita. Biar kita nggak seenaknya bersikap terhadap terhadap makhluk ciptaan Allah. Sekalipun hal tersebut mungkin tergolong ke dalam makhluk yang menimbulkan na'jis ya. Tapi balik lagi, pasti ada maksud dari penciptaannya.

Oleh karenanya saya rasa, itulah kenapa manusia diciptakan sebagai pembelajar seumur hidup. Agar manusia terus belajar, mengenali dirinya. Bahwa dalam dirinya tidak hanya sekedar dirinya sebagai manusia. Namun ada unsur lainnya yang mempengaruhi pola pikir, pola pandang dan pola lakunya. Sehingga manusia mampu mengenal Tuhannya ketika manusia sudah mencapai paripurna. Insyaa Allah.

Semoga saja kita mampu melawan hawa nafsu kita ya. Biar nggak terkungkung oleh unsur hewani atau nabati kita 😘. Serta bisa menjadi manusia paripurna yang menjadi bagian dari sejarah rahmatan lil 'alamin. Insyaa Allah.

Post a Comment

2 Comments

  1. Aku malaj kepo mba ama siapa itu Jalaludin Rumi sampai langsung aku serching sosok ini hahaha. Karena aku baru tahu soal unsur manusia yang ini 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, mbak. Jalaluddin Rumi adalah salah satu tokoh sufi yang sangat terkemuka. Bisa baca karyanya yang Fihi Ma Fihi.

      Delete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊