Bisa Menulis Tapi Tidak Bisa Membaca


Judul cerita saya agak-agak give up untuk menulis insight yang saya dapatkan setelah membaca buku Fihi Ma Fihi. Hahahha. 

Cemen yak?

Nggak apa-apa lah. Daripada nanti saya keliru menangkap maksudnya, ya kaann?! Lebih baik saya membacanya saja dulu. Sambil direnung-pikirkan. Heuheuheuu.. #Alasan

Well, beberapa hari yang lalu saya mendengarkan Ngaji Filsafat tentang Nasrudin Hoja. Itu lho seorang sufi yang lawak banget, maa syaa Allah.

Islami.co

Entah kenapa kok tiba-tiba pengen dengerin kajiannya lagi gitu. Karena memang saat ini saya dalam masa butuh tamparan-tamparan biar sadar. Huhu. Dasar aku si jumawa ini minta dikeplak banget dah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Sebenarnya seluruh isi kajian tentang Nasrudin Hoja sangat menarik. Akan tetapi saya ingin membahas satu topik yang bikin saya tertampar-terhempas hingga ke Planet Pluto. #LEBAAAAAAYYYYYY

Bisa menulis tapi tidak bisa membaca


Mendengarkan topik ini ya Allah benar-benar menampar saya. Beneran dah. Yaaahh, gimana yaaa. Karena untuk manusia jenis sok tahu bin nggak bisa baca kayak saya ini memang pasti akan merasa tertampar dengan makna yang terhatur dari kisah tersebut πŸ˜‚.

Jadi ceritanya begini..

Suatu hari Bung Nasrudin ditanya (entah oleh sultan atau filsuf, saya lupaaa. Maklumin aja aku kan pikun yess. Sebut saja namanya Kakang) apakah bisa membaca dan menulis. Karena memang Bung Nasrudin terkenal akan kepandaiannya. Lalu beliau menjawab, "Aku bisa menulis tapi tidak bisa membaca". Lalu si Kakang meminta Bung Nasrudin untuk membuktikan. 

Menulislah Bung Nasrudin.

Tapiiii, tulisannya nggak bisa terbaca πŸ˜‚. Sampai-sampai si Kakang bingung sama apa yang ditulis Bung Nasrudin. 

Akhirnya Kakang bertanya ke Bung Nasrudin, "Apa yang kamu lakukan?". Bung Nasrudin menjawab, "Ya menulis." 

Kakang bertanya lagi, "Apakah kamu bisa membaca tulisanmu?".

Bung Nasrudin Menjawab, "Kan sudah saya bilang kalau saya bisa menulis tapi tidak bisa membaca". 🀣🀣🀣🀣🀣

Bagi saya cerita ini lucuuuu banget bin nampar dengan telak 🀣🀣🀣. Ya gimana nggak lucu bin nampar telak coba, lha wong saya sendiri juga merasa kalau saya bisa menulis tapi tidak bisa membaca 🀣🀣.

Maksudnya bijimana sih? 

Jadi maksudnya begini. Ada banyak sekali orang yang mampu berbicara ini itu, menuliskan ini dan itu. Akan tetapi tidak mampu membaca situasi dan kondisi. Karena bagaimanapun dalam berucap perlu untuk paham dengan situasi dimensinya. Agar tentunya tidak menyakiti orang lain.

Selain itu maknanya juga adalah banyak orang mampu berbicara ini dan itu, tapi belum tentu juga paham benar dengan apa yang disampaikannya. Sehingga akhirnya hal tersebut dapat mengurangi kemuliaan dirinya.

Mungkin ini yang dimaksud oleh Rumi bahwa banyak orang yang tidak mampu mengenal jiwanya. Ia mampu berbicara sesuatu yang diluar dirinya, namun lemah tentang dirinya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Ya Allah, nampar banget ini. Plaakkk plaaakkk plaaakkk..

Astagfirullah.. Astagfirullah…

Makin terasa kalau saya masih belum benar-benar berpuasa batin. Saya masih sekedar puasa lahir saja hingga saat ini πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.

Kudu buka Psikologi Alqur'an lagi habis ini biar bisa membaca diri sendiri.

Astagfirullah..

Mungkin tulisan ini kesannya seperti merendahkan diri sendiri. Tapi memang saya perlu mengakui bahwa saya sangatlah rendah dihadapanNya. 

Post a Comment

0 Comments