Menemukan fadhilah yang dititipNya kepada diri kita untuk menjadi bagian dari sejarah rahmatan lil 'alamin.


Setelah sekian minggu lenyap dari medsos pribadi dan ujug-ujug muncul lagi macam jaelangkung πŸ˜‚πŸ˜‚. 

Lenyap sejenak dari medsos kadang penting. Karena makin hari hati sama pikiran makin hitam legam sama polutan dunia. Jadi butuh dibersihkan sambil perbaiki filternya dan sambil merenungi, "Karep e Gusti Allah karo aku iki opo? (Maunya Gusti Allah ke saya itu apa?)". Yah, walaupun masih teteup aja sering zholim sama diri sendiri 🀣.

Beberapa minggu ini saya mencoba untuk memahami dan mendalami maksud pendidikan rahmatan lil 'alamin dan soal fadhilah yang disampaikan oleh Cak Nun di kanal caknun.com. Serta mendalami interpretasi juz diri. Semoga saya tidak salah tangkap dan tidak terjebak dalam persepsi pribadi. Insyaa Allah.

Salah satu hal yang luput dalam proses pendidikan kita adalah kita lupa kalau Allah sudah menitipkan fadhilah (kelebihan, kemuliaan, potensi) pada diri setiap manusia untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah fil ardh. Sehingga dalam merumuskan cita-cita dan misi kehidupan bukan soal apa mau saya atau apa ingin saya. Akan tetapi apa yang Allah kehendaki atas saya agar Bisa berbagi manfaat bagi banyak orang. Seperti bahasanya Cak Nun, "kalau bibitmu adalah lombok ya jadi o lombok. Kalau bibitmu adalah singkong ya jadi o singkong. Dengan begitu hidupmu lebih bermanfaat untuk banyak orang".

Akan tetapi, seringkali pendidikan disalah artikan dan disalah fungsikan. Dianggapnya bahwa semakin tinggi pendidikan maka semakin mapan hidup kita. Dan mapan dalam hal ini juga diartikan sebagai uang banyak, harta juga banyak. Dan pendidikan selalu disamakan dengan tingkat sekolahan. Padahal tingkat pendidikan itu tidak sama dengan tingkat sekolah. Mapan juga bukan soal materi dunia dan padahal pendidikan tidak begitu juga tujuannya. Karena pendidikan adalah ruang untuk mencoba mencari fadhilah yang Allah titipkan agar kita bisa menjadi bagian dari sejarah rahmatan lil' alamin. 

Sehingga yang perlu kita cari adalah fadhilah yang dititipNya pada diri kita. Dan saya rasa, makanya kali ya wahyu pertama yang turun adalah iqro'. Salah satunya agar kita bisa menemukan fadhilah yang dititipNya. Akal kita sebagai bekal untuk mencari dan menganalisa dan hati kita sebagai rem-nya biar nggak bablas. 

Pertanyaannya : sudahkah kita mencoba untuk mencari fadhilah dalam diri kita?

Saya mencoba memahami interpretasi juz diri dan masih akan terus mencoba, sambil saya mencari keterkaitannya pada diri saya dan mencoba jujur dengan diri saya sendiri. Ternyata memang saya nggak punya bibit menjadi Arsitek. Walaupun saya kuliahnya di Arsitektur dan sudah melalui 2 strata πŸ˜‚ Dan Saya sudah merasakan hal ini sejak saya S1. 

Tapi kenapa kok masih mau lanjut sekolah lagi? 

Karena saya haqqul yaqin bahwa Allah ingin saya membuka pintu tersebut untuk menuju pintu-pintu lainnya yang insyaa Allah menjawab misi saya disini (dunia) untuk apa?

Mungkin akan banyak yang bertanya, "sia-sia dong sekolahnya?".

Jika niatan saya hanyalah karir, eksistensi dan gelimangan harta ya bisa dikatakan sia-sia. Namun niatan sekolah bukan untuk itu. Sehingga saya sekolah sampai ke situ TIDAK AKAN PERNAH SIA-SIA. Saya tidak dalam rangka membatasi diri lho ya πŸ˜….

Apakah saya sudah menemukan fadhilah yang Allah titipkan?

Ya belum lah, Jaenap. Lha wong nyadarnya pas udah tuwir gini. Tentu kubutuh effort lebih besar untuk menemukannya πŸ˜‚.

Seringkali jalan menuju menemukan fadhilah ini terhalang oleh kepentingan-kepentingan duniawi yang sebenarnya sudah dijamin olehNya. Padahal soal jaminan hidup sudah berulang-ulang-ulang kali dikatakan oleh Allah dalam Al-qur'an. Tapi kita sering lupa gitu lho akibat ketakutan dan kekhawatiran kita tentang besok mau makan apa kalo nggak punya uang? 

Oleh karenanya Cak Nun bilang dalam bukunya Hidup Itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem bahwa hidup itu adalah melayani. Jika ibadah arahnya vertikal, maka melayani arahnya horizontal. Yakni saling melayani antar sesama manusia, mengapresiasi tiap orang yang dijumpai. Dengan demikian kreativitas akan semakin meningkat, insyaa Allah jaminan hidup makin terlihat.

Jika yang kita nomor satukan adalah eksistensi dan juga materi dunia, lama-lama kita pusing sendiri. Lupa sama misi utama yang sudah diberikan, lupa cara bersyukur. Sehingga fadhilah yang sudah ada semakin buram. Sehingga seringkali cara-cara bathil dilakukan secara sadar atau tidak sadar dalam pemenuhan kebutuhan materi dunia kita.

Seperti yang disampaikan oleh Jalaluddin Rumi dalam Fihi Ma Fihi-nya, "jika kita sudah mengerjakan banyak tapi lupa mengerjakan yang inti. Lalu apa artinya yang banyak itu?".

Lalu, bagaimana caranya menemukan fadhilah yang Allah titipkan pada diri kita?

Selain dengan tazkiyatun nafs (menyucikan diri/membersihkan diri/bertobat), juga dengan membaca diri yaitu melalui tafakkur kira-kira kecenderungan apa atau aktivitas apa yang membuat kita bergairah, berdesir-desir, menggebu-gebu, berbinar-binar ketika mengerjakannya. Apakah itu berdagang, melukis, bermain dengan anak-anak, volunteer, atau apapun. Kemungkinan, insyaa Allah, itulah bibit atau fadhilah yang Allah tanam pada kita. Setelah kita menemukan fadhilah tersebut, dipupuk terus dan diniatkan untuk meraih ridho Allah. Nggak semata hanya untuk materi dan kesenangan duniawi. Urusan dunia tentu adalah bonus bagi kita.

Sehingga mari kita bersihkan diri, mulai melibatkan Allah dalam tiap jengkal hidup kita, mencoba mencari fadhilah yang ada dalam diri kita. Jikalau pun sudah ketemu, laksanakan misi dengan baik dan jadilah bagian dari sejarah rahmatan lil 'alamin.

Bekerja di dunia bukan tentang seberapa banyak materi dunia yang bisa kita dapatkan. Toh kalo sudah mati hubungan kita dengan harta benda tersebut akan terputus. Melainkan tetang apa yang bisa kita bawa di kehidupan selanjutnya.

Selamat mencari, menemukan, dan melaksanakan wahai Pejalan πŸ’•

Post a Comment

0 Comments