Bercocok Tanam Sama Menantangnya Dengan Mengurus Anak


Tanggal 31 Agustus 2019 lalu, Kelas Berbagi Sidoarjo-Ibu Profesional Surabaya Raya mengadakan acara belajar berkebun bagi pemula. Acara ini diadakan disalah satu rumah member yaitu Mbak Nisa dan narasumber acara adalah Mbak Mila. Mbak Mila ini ternyata memang sangat passionate dalam bidang tanam-tanam. Beliau juga tergabung dalam komunitas berkebun gitu. 

Acara ini tidak hanya ditujukan kepada para ibu, namun juga ke anak-anaknya. Prinsipnya adalah jika anak belajar maka ibunya juga ikut belajar. Tapi yang belum ada anak juga boleh ikutan kok. 

Langsung ke proses tanam-tanam yaakk..

Pertama-tama, alat yang dibutuhkan adalah pot untuk menanam, sekop tanaman, dan juga alas untuk mencampur tanah+sekam bakar+pupuk kandang. Kemudian kita juga tentunya membutuhkan tanah murni, pupuk kandang (saat acara kami disediakan pupuk kandang dari kotoran kambing), sekam bakar dan bibit tanamannya. Saat itu Mbak Milla menyediakan beberapa bibit tanaman, baik yang sudah tumbuh namun masih menggunakan polybag maupun yang masih berupa biji seperti kangkung dan cabai.


Setelah semua alat dan bahan tersedia, tanah murni, pupuk kandang dan juga sekam bakar diaduk menjadi satu di atas alas yang sudah disedakan. Mengaduknya menggunakan sekop tanaman ya. Perbandingan dari ketiga komponen adalah 1:1:1. Artinya adalah 1 karung tanah : 1 karung pupuk kandang : 1 karung sekam bakar. Misal nggak butuh banyak bisa menggunakan sekop ataupun pot kecil dengan perbandingan yang sama. Setelah tercampur rata, komponen tersebut dimasukkan ke dalam media tanamnya yaitu pot. Karena bibitnya ada 2 jenis yaitu berbentuk biji dan yang sudah tumbuh, maka kuantitas komponen yang dimasukkan ke pot pun berbeda. Untuk yang berupa biji, potnya diisi penuh. Sedangkan yang sudah berupa tumbuhan jadi, potnya diisi setengah saja.


Saat acara berkebun lalu, tanaman yang saya tanam adalah cabe dan juga kangkung. Kalau kangkungnya masih berupa biji bibit, sedangkan cabenya ya sudah tumbuh gitu setinggi kurang lebih 25 cm. Dengan kondisi tanaman yang berbeda, saya jadi tahu nih proses menanamnya.

Untuk biji bibit kangkung, tanahnya perlu dibasahi terlebih dahulu sebelum dimasukkan biji bibitnya. Khawatirnya jika ditanami terlebih dahulu, bibit kangkungnya mencolot entah kemana (duh, bahasaku ra nguati πŸ˜‚). Kemudian pada permukaan tanah bentuk garis melingkar dengan menggunakan jari. Kemudian cekungan sepanjang lingkaran tersebut dijadikan tempat menanam biji bibit kangkung. Setelah itu permukaan tanahnya di osrok pelan-pelan atau apa ya istilahnya. Ya Allah susah banget, dah. Pokoknya biar biji bibit tadi ketimbun tanah hasil bikin lingkaran tadi lah. Intinya begitu πŸ˜‚ Mohon maaf jika bahasa saya kurang informatif πŸ˜‚πŸ™ Udah deh, gitu aja. 


Sedangkan untuk bibit yang sudah tumbuh, dikeluarkan terlebih dahulu dari polybag. Cara mengeluarkannya pun tidak sembarangan. Karena akar dari tanaman tersebut harus kondisi utuh. Caranya : 1) polybag dilepas terlebih dahulu. Kemudian tanaman tersebut dipegang kondisi terbalik agar akarnya tidak putus. Kemudian sekam/tanah yang digunakan sebagai komponen menanam sebelumnya dibersihkan dulu dengan cara menggoyang-goyangkan tanamannya. Tapi jangan kencang-kencang, biar akarnya nggak putus. Kalau sudah agak bersih, tanamannya dimasukkan ke dalam pot yang sudah tersedia.  Jika komponen tanamnya kurang, bisa ditambahkan lagi agar lebih padat dan tanaman dapat berdiri dengan baik. 


Saya pikir berkebun itu mudah. Tinggal masukkan tanah ke pot lalu masukkan tanaman, siram, udah gitu aja. Ternyata tidak seperti itu, pemirsa yang budiman. Treatmen ataupun media tanamnya pun tidak sama antara tanaman hias, tanaman sayur/buah dan jenis tanaman lainnya. Sehingga dalam berkebun, kita perlu mencari tahu banyak tentang jenis tanaman dan treatment yang dibutuhkan.

Seperti misalnya saat acara kemarin, ternyata pot yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Contohnya seperti tanaman cabe, tomat ataupun terong. Maka diameter pot yang baiknya digunakan adalah minimal 40 cm. Karena diameter pot akan mempengaruhi akar tanaman yang juga tentunya mempengaruhi buah yang dihasilkan.

Kemudian jenis tanah, pupuk dan lainnya juga penting untuk diketahui. Untuk menanam tanaman jenis sayur atau buah, dibutuhkan tanah murni, pupuk kandang (baiknya dari kotoran kambing), sekam bakar. Berbeda dengan komponen yang dibutuhkan oleh tanaman hias dan lainnya.

Oh ya, untuk mendapatkan tanah, sekam bakar dan juga pupuk kandang bisa di toko pertanian yak. Trubus-trubus gitu lah.

Lanjut…

Penggunaan pupuk kandang dan dan sekam bakar untuk tanaman berbuah atau sayur ternyata lebih bagus dibanding sekam cokelat ataupun pupuk biasa. Saya lupa penjelasannya untuk pupuk kandang. Mungkin lebih ke mempengaruhi hasil kali ya. Yang pasti untuk sekam bakar gunanya  yaitu mempercepat penyerapan air. Biar airnya tidak mengendap dalam pot terlalu lama yang nantinya dapat membuat akar tumbuhan menjadi busuk. Ini baru pada tahap awal proses menanam. Belum lagi treatmen selanjutnya yang dibutuhkan tanaman agar mencapai hasil yang diinginkan.

Tanaman yang sudah ditanam jangan lupa harus terkena sinar matahari langsung ya. Karena kekurangan matahari akan mempengaruhi proses fotosintesis dan juga ukuran dari tanaman tersebut. Tapi mungkin ada jenis tanaman tertentu yang nggak bisa terkena matahari langsung atau hanya diperbolehkan terkena matahari beberapa waktu saja dalam sehari. Nah ini nih sepertinya perlu dipelajari lebih lanjut.

Selain itu, jika memiliki minat untuk berkebun, Anda perlu mencari tahu tentang unsur-unsur yang dibutuhkan oleh tanaman. Karena jika tanaman yang ditanam mengalami kerusakan pada daun atau apa. Anda akan tahu kira-kira tanaman tersebut kekurangan unsur K atau apalah saya juga masih belum paham πŸ˜‚πŸ™. Yang pasti kegiatan bercocok tanam ini bukanlah perkara mudah. Karena diperlukan wawasan yang cukup banyak jika memang ingin menggeluti dunia tanam-tanam dan mendapatkan hasil yang baik.

Ternyata riwehnya bercocok tanam sama ya seperti mengasuh anak?! Xixixi. Mungkin kegiatan bercocok tanam bisa dijadikan pembelajaran awal sebelum diberikan amanah untuk mengurus anak. Bisalah bisaaaa. Hahaha


Post a Comment

0 Comments