Alih Fungsi Lahan yang Meresahkan


Saya selalu merasa sedih setiap kali melihat kawasan yang dulunya sawah produktif, kemudian dialih fungsikan ke sektor hunian atau lainnya. Contohnya seperti kawasan perumahan baru dekat rumah orang tua saya di Lombok. Dulu setiap berangkat sekolah, udara rasanya segar sekali. Ditambah dengan adanya pemandangan sunrise yang muncul di balik Gunung Rinjani. Cantik banget.

Radar Cirebon

Sekarang, sekian hektar dari sawah-sawah tersebut sudah menjadi kawasan perumahan. Jalan yang dulu terasa lega menjadi terasa sempit. Udara sudah tidak sesegar dan sedingin dulu. Pemandangannya sudah tidak seasik yang dulu.

Pilu.

Rata-rata ukuran rumahnya tini wini biti karena memang rumah subsidi. Akibat adanya isu housing backlog atau kekurangan perumahan. Ditambah lagi dengan adanya program pemerintah yaitu satu juta rumah, berbondonglah para developer membangun perumahan bersubsidi. Benar memang murah, akan tetapi apakah rumah-rumah tersebut dapat dibeli oleh masyarakat lapisan bawah? Tauk ah, kelam 🙄.

Bulelengkab.go.id

Dengan adanya rumah murah memang membuat banyak masyarakat jadi lebih mudah memiliki rumah. Tapi ya lagi-lagi yang bisa beli rumah ya hanya yang mampu. Ya nggak mampu seperti subjek yang diisukan hanya bisa bertahan umpel-umpelan di rumah orang tuanya.

Menurut saya, rumah subsidi tidak sepenuhnya solusi. Namun juga menambah masalah. Karena dilihat dari desain hunian dan kawasannya, sangat tidak sustainable dan eco-friendly


Mengapa demikian?


Lha wong rumah mepet-mepet kiri kanan, ukuran kecil pula, tanah kecil pula, emang menjamin bisa mendapatkan sirkulasi dan pencahayaan alami? Biasanya langsung dihabiskan tuh lahannya dari depan sampai belakang. Sependek yang saya tahu, ada lho peraturan pemerintah yang mengatur bahwa tiap rumah harus ada garis sempadan kiri, kanan depan dan belakang. Selain untuk mendapatkan sirkulasi udara dan pencahayaan alami, juga untuk meminimalisir rembetan api saat terjadi kebakaran.

Desain hunian yang tidak selaras dengan alam hanya akan meningkatkan penggunaan listrik entah untuk lampu ataupun kipas angin atau AC. Soalnya kalau nggak pakai lampu, dalam rumah pasti gelap walaupun masih siang.

Kalau sudah begitu, tentu akan meningkatkan panas yang dilepas ke udara, bukan? 

Apa akibatnya? 

Pemanasan global.

Perubahan iklim.

Sungguh kita hanya akan mewariskan masalah dan bencana untuk anak cucu di masa depan.

Bospengertian.com

Hal memilukan lainnya adalah banyak saya temukan rumah di perumahan yang tidak ditinggali oleh pemiliknya. Nggak hanya tidak ditinggali, namun juga ditelantarkan hingga rusak dan hampir roboh. Di RT saya sini saja ada 3 rumah rusak parah. Belum lagi yang kosong dan belum diisi pengontrak baru.

Biyung!

Sedih!

Menurut saya, kalau nggak sanggup merawat, lebih baik dijual atau diwakafkan saja.

Rumah kosong seberang kontrakan

Mengadakan pembangunan memang sah-sah saja. Akan tetapi harus dilakukan dengan tepat dan bijak. Jangan sampai sawah-sawah produktif pada diburu untuk dialih fungsikan. 

Nanti petani bercocok tanam dimana?

Atas genteng?

Klikberita.co.id

Itu baru alih fungsi lahan menjadi kawasan perumahan. Belum lagi alih fungsi lahan menjadi pabrik, perkebunan sawit, tambang ataupun sarana publik yang akhirnya merugikan masyarakat kecil. Contohnya seperti di Kendeng, Kulon Progo dan daerah lainnya yang kita tahu peristiwa tersebut sangat menzalimi masyarakat kecil. 

Icel.or.id

Bahkan masyarakat adat mulai terusir dari tanahnya. Siapa pun mengakui bahwa masyarakat adat sangatlah selaras hidupnya dengan alam. Merekalah penyeimbang dan penyelamat bumi ini. Tapi apa yang telah dilakukan oleh tangan kuasa terhadap mereka?

Mereka terusir demi kepentingan yang katanya kepentingan publik.

Saya sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan kondisi seperti ini.

Post a Comment

0 Comments