Tags

Mamak Insecure : Ketika Merasa Gagal Menjadi Ibu


Mau ngumpulin dulu nih mamak-mamak yang sering merasa gagal dalam menjalankan perannya sebagai ibu. Coba unjuk jariiii… … 


Sayaaaaaaaaaaaaaaaaaa ☝☝☝☝☝☝☝


Kayaknya saya bakalan jadi orang paling kencang teriaknya. Huhuhu


Padahal baru aja 10 bulan saya menjadi emak, tapi saya sudah merasa seringkali gagal dalam menjaga amanah langit ini 😔. 


Punya anak memang menyenangkan, seru, menggemaskan dan pokoknya seneng lah ya. Akan tetapi tentu kehidupan menjadi ibu tidak selalu seindah itu. Tapi alhamdulillah sejauh ini lebih banyak indahnya daripada sambatnya. Insyaa Allah. Semoga selalu demikian ya. 


Tapi, entah ya, saya merasa sejauh ini sering banget ngerasa bersalah. Lalu merasa gagal dan putus asa dalam menjalankan peran ini. Harusnya  sih nggak boleh merasa demikian ya, karena bikin saya jadi nggak berdaya. Tapi ya gitu deh. Namanya juga aku, kalau sudah kena bisikan setan ya jadinya sering merasa merasa merasa demikian 😂. 


Lagi-lagi setan jadi kambing hitam. Maap ya tan 🤣


Ada beberapa hal yang seringkali membuat saya merasa gagal menjadi ibu. Apa saja? 


Emosi Meningkat di Malam Hari Karena Mengantuk

Roller coaster emosi saat 6 bulan pertama menjadi ibu bener-bener sulit untuk saya kendalikan. Apalagi saya masih bermasalah dengan inner child saya yang terluka. Akibatnya hal ini memperparah kondisi emosi saya saat post partum


Sebenarnya saya nggak sampe yang ngomel-ngomel di sepanjang hari sih. Akan tetapi kalau sudah malam, terus Hening ngajakin begadang tuh bikin emosi gampang membara yang akhirnya bikin saya nangis saking ngantuk dan capeknya 😭😭. 


Pernah suatu hari saya berteriak "Allahu akbar" saking Hening susah banget diajakin tidur. Tapi saya tidak berteriak ke arahnya Hening, melainkan menengadahkan kepala. Namun teriakan saya membuat Hening kaget dan menangis. 


Setelah itu saya menenangkan Hening sampai akhirnya saya menangis karena menyesal 😭. 


Lalu malam berikutnya saya membenamkan wajah saya ke dalam bak mandi dan berteriak sekencang-kencangnya saking emosi saya bergejolak. Ditambah ngantuk dan capek. Sedangkan Hening masih susah diajakin tidur. Saya sengaja melakukan itu karena saya nggak mau kalau sampai melampiaskan emosi saya ke anak saya. Rasanya kapok banget gegara teriak sebelumnya. 


Meskipun tidak berteriak ke arahnya. Tapi teteup aja bikin dia kaget 😭. 


Padahal saya sudah tau bahwa orang tua nggak boleh berteriak di hadapan anak. Tapi ya Allah, implementasinya susaaahh banget 😭. Astagfirullah~


Maka saran saya buat kalian yang masih single atau sudah nikah tapi belum punya anak, persiapkan dirimu! Salah satu bentuk orang yang sudah siap adalah dia sudah berdamai dengan sakitnya di masa lalu. Bener deh, inner child yang masih terluka sangat mempengaruhi fase post partum. Semangat ya! 


Saat Hening Terjatuh

Sejak Hening sudah mulai merangkak kesana kemari. Lalu berdiri dengan berpegangan entah di lemari, rak buku, rak mainan ataupun di dinding. Saya dan Dana kudu lebih ekstra memperhatikan. Akan tetapi kadang ada kalanya kami teledor dan Hening pun terjatuh. Entah kejungkel atau kejlungup. 


Tentunya kami kasihan dan merasa bersalah atas kejadian tersebut karena keteledoran kami. Soalnya Hening kan masih belum benar-benar bisa menjaga keseimbangan secara penuh. Oleh karenanya, harusnya saya full perhatikan dia 😭. 


Ketika Hening Sakit

Alhamdulillah, sejauh ini Hening termasuk yang jarang sakit. Semoga selalu demikian. Akan tetapi sekalinya sakit tuh merasa bersalah banget. Terutama saat Hening mengalami sembelit beberapa waktu lalu. 


Bayangin aja dia nggak pup 4 hari. Sampai hari ke 5 akhirnya dia pup tapi dia mengejan sampai nangis saking pupnya keras banget 😭. Nangisnya tuh bener-bener kesakitan banget. Ya Allah. 


Tiap hari rasanya khawatir kok belum pup juga. Padahal udah dipijat ILU, kasih makan buah, kasih minum lebih banyak. Ternyata belum berhasil. Sampai akhirnya dia pup dan kesakitan 😭. 


Lalu kami mencoba tracking penyebab sembelitnya. Dugaan kami karena dia minum air putihnya sedikit. Meskipun nenennya sering, tapi dia juga butuh banyak air putih karena dia sudah MPASI. Teksturnya pun udah lebih padat dari sebelumnya. Huhu


Jengkel Karena Tingkahnya yang Sulit Untuk Kumengerti

Beberapa waktu belakangan ini Hening lagi suka nyembur-nyemburin air. Tiap kali minum pake training cup, pasti airnya disembur. Meski pake gelas biasa juga disembur. 


Ya Allah rasane emosiku membumbung sampai ubun-ubun. Hingga akhirnya suatu hari saya baper berat karena tingkahnya yang kayak gitu. Mana waktu itu dia sembelit pula. Kudunya dia minum banyak air putih tapi malah disembur-sembur. 


Karena udah emosi banget, saya minta Dana yang pegang bentar karena saya ingin menenangkan diri. Huh, rasanya jengkeel banget. 


Saya sebenarnya sama sekali nggak menyalahkan Hening. Hanya saja saya jadi merasa bersalah kok anak saya jadi begini, dosa saya apa? #MulaiDrama 


Terus saya coba googling apakah menyembur adalah bagian perkembangan atau nggak. Menurut beberapa artikel ternyata hal itu wajar. Karena dia sedang bereksplorasi terhadap tubuhnya dan juga menyembur bagian dari stimulasi oromotor yang akan mempengaruhi kemampuan berbicaranya nanti. 


Huhu, ternyata menyembur-nyembur adalah tanda dia akan menguasai skill baru pemirsa. Udah aja jengkel ke anak sendiri 😭🙏


Ketika Hening Nggak Bisa Diam Saat Makan

Kalian pasti banyak yang mengalami ngasi makan anak kudu ngikutin dia yang merangkak kesana kemari. Huhu. Iya saya juga. 


Sejak Hening menolak untuk duduk di kursi makannya. Akhirnya saya dudukkan di lantai saja. Akan tetapi karena dia udah pintar merangkak, alhasil saat makan pun dia merangkak kesana kemari. Sumpah sih ngikutin bocil yang lagi aktif begini bikin capek banget. Alhasil bikin saya kultum untuk mengingatkan dia bahwa makan kudu duduk, nggak boleh sambil merangkak. Yah, lagi-lagi yang dikasi tau anak bayi ya. Mana mungkin nurut 😭. Jadinya ya sudahlah. Mamak nyuapi dengan muka kecut 😭


Mungkin akan ada yang bertanya, "Suaminya kemana? Emang nggak bantuin?". (pede aja dulu meskipun nggak ada yang bertanya 🤣). 


Alhamdulillah suami saya selalu membantu saya. Dia nggak pernah membiarkan saya mengurus anak dan domestik sendirian. Namun ada waktu dimana suami saya kerja shift malam. Jadi dia sejak jam 9 malam sampai 6 pagi kerja. Gitu pemirsa.


Ngomong-ngomong kalau di list bakalan banyak banget daftar penyebab kegagalanku menjadi emak. Karena udah ngantuk puol dan capek puol, maka saya akhiri sampai disini. 


Bhay! 

Emiria Letfiani
A Wife, A Mom, A Storyteller

Related Posts

Post a Comment