Memulai Untuk Mengurangi Sampah Rumah Tangga Dengan Cara Sederhana

 

Salah satu hal yang mungkin bikin kepala banyak orang jadi pening adalah soal sampah. Terutama mamak-mamak sih yang banyak mengalami hal ini. Apalagi kalau tinggal dilingkungan yang truk sampahnya datang mengangkut sampah hanya seminggu sekali. Wah, bakalan tambah pening melihat sampah yang makin numpuk. Apalagi kalau sampah organik yang mudah berbelatung. Hiii~


Permasalahan sampah ini memang sesuatu yang nggak mudah untuk diatasi. Apalagi oleh orang yang belum terbiasa mengelola sampah rumah tangganya sendiri. Akan tetapi bukan berarti nggak bisa ya. Saya rasa siapapun pasti bisa, asalkan mau. Meskipun belum mampu untuk menerapkan zero waste. Namun setidaknya mau untuk melakukan less waste. Dan yang paling penting adalah jangan sampai buang sampah ke sungai 😫. Jangan yaaa πŸ™ƒπŸ˜‰. 


Saya pribadi pun termasuk yang belum mampu untuk melakukan zero waste. Namun sudah mulai melakukan less waste  sejak 2018, meskipun nggak less amat. Tapi setidaknya untuk sampah organik nggak sampai saya masukkan ke tong sampah. 


Ada beberapa cara sederhana yang saya lakukan untuk mengurangi sampah rumah tangga saya agar tidak berakhir di TPA. Cikidooott~


Membawa Wadah Sendiri

Pada awalnya membawa wadah sendiri entah saat belanja ke pasar atau saat beli makan bukan hal yang mudah. Berasa rempong gitu karena jadi bawa printilan macam thin wall dan grocery bag dari kain tile. Tapi setelah pulang berbelanja dan menyadari hanya sedikit sampah plastik yang terbawa pulang bahkan hampir nihil, rasanya kerempongan tersebut terbayar tuntas. Lambat laun, bawa wadah sendiri nggak terasa rempong karena terbiasa. 


Cara ini tentu bukan hal yang baru. Tapi nggak semua orang mau melakukannya. Hehe


Menurut pengalaman saya pribadi, membawa wadah sendiri saat berbelanja lumayan membantu untuk mengurangi sampah rumah tangga, utamanya plastik atau sampah anorganik. Meskipun saya belanja untuk keperluan seminggu, ya saya tetap membawa wadah sebanyak yang saya butuhkan. Bisa kebayang sih rempongnya, tapi demi mengurangi plastik yang terbawa ke rumah, kenapa tidak? 


Karena kalau belanja ke pasar gitu mesti plastiknya berlapis-lapis. Apalagi kalau beli ikan yang amis gitu. Plastiknya bisa 3 lapis sendiri πŸ˜‚. Itu baru satu jenis ikan, belum ikan lainnya. Belum sayurnya dan lain sebagainya. Udah bawa berapa plastik tuh pulang untuk sekali belanja. 


Ya, memang sih belanja ke pasar kadang nggak tiap hari. Tapi kalau kita perhatikan sumber sampah plastik kita ada banyak banget lho. Belum beli cemilan, sampah dari bungkus paketan, sampah dari kemasan go food dan lain sebagainya. Dalam seminggu udah full tuh tong sampah. 


Oleh karenanya mengurangi sampah anorganik dengan membawa wadah sendiri saat belanja ke pasar atau saat membeli makanan sangat membantu banget. Jika dirasa bawa wadah untuk belanja ke pasar sangat memberatkan, bisa dimulai dengan membawa wadah saat beli makanan. Nanti lama-lama pasti bakalan seneng bawa wadah sendiri buat belanja. Karena sudah merasakan manfaatnya dan lama-lama jadi terbiasa. Hihi. 


Namun bukan berarti saya sudah totalitas bawa wadah sendiri saat belanja ke pasar atau untuk beli makan. Ya kadang kalau pas kelupaan, terpaksa diwadahin plastik. Hho. Pokok nggak sering-sering πŸ˜‚. Kan sudah kubilang kalau saya masih pada tahap less waste belum zero waste 🀣 #alasan!. 


Membuang Sampah Organik ke Komposter Sederhana

Dulu banget saya pernah bercerita tentang komposter super sederhana yang saya buat bersama paksu. Cuma pake ember gedeee dan kardus, jadi deh tuh komposter. Hahah. 


Sejujurnya niat bikin komposter ini bukan untuk menghasilkan kompos, tapi lebih ke menghindari buang sampah organik yang berakhir ke TPA. Sejauh ini lumayan banget sih itu tong komposter bisa dipakai sejak akhir 2019 sampai sekarang. Pernah penuh tentunya kemudian saya timbun dengan tanah dan biarkan sebulan lebih. Ntar pasti sampahnya terurai dan menyusut. Sehingga bisa saya isi lagi. 


Ketika komposternya penuh, saya memanfaatkan pot yang ada di rumah. Caranya pada bagian paling dasar pot saya isi tanah dan daun kering. Nah baru deh saya isi sampah organik kemudian saya timbun lagi dengan tanah. 


Untuk memanfaatkan pot sebagai komposter kudu punya beberapa pot ya. Jadi kalau yang satu penuh, bisa pakai yang lain. Pot yang sudah penuh saya biarkan sebulanan sampai terurai, udah gitu saya tumpahin ke taman super mini di depan rumah πŸ˜‚. Lagian saya nggak rajin bercocok tanam, jadilah bekas komposan tadi saya tumpahin gitu aja di sisa halaman tersebut dan saya ratakan πŸ˜‚. Bener-bener cara yang sesat πŸ˜†✌. 


Sebenarnya mengompos sampah organik ada caranya. Tapi balik lagi untuk sementara ini niatan saya adalah mencegah sampah organik terangkut ke TPA. Maka saya mengompos dengan cara saya saja. Cara paling mudah untuk pemalas macam saya πŸ˜‚. 


Mencegah sampah organik terangkut ke TPA penting banget sih. Karena sampah organik yang bercampur dengan sampah anorganik, kemudian menghasilkan cairan lindi dapat merusak lingkungan lho. Apalagi jika air lindinya terserap oleh tanah. Selain itu juga sependek ingatan saya, pembusukan sampah di TPA dapat menghasilkan gas metana yang menguap ke udara. Nah gas ini nantinya yang merusak lapisan ozon dan menyebabkan perubahan iklim. Hmmm, ngeri kaan? 


Oleh karenanya, yuk deh kita usahakan sampah organik kita nggak sampai terangkut ke TPA. 


Memanfaatkan Bank Sampah

Saya rasa cara ini adalah yang paling gampang ya, yaitu memasukkan sampah kering ke bank sampah. Tentu sampah kering yang bisa dimasukkan ke bank sampah ada kriterianya. Seperti botol, thin wall bekas, dan lain sebagainya. 


Saya termasuk lumayan rajin ngumpulin sampah kering. Alhamdulillah di lingkungan saya ada bank sampahnya. Sehingga saya bisa dengan mudah menyalurkan sampah kering saya. 


Semisal pun nggak punya bank sampah, manfaatkan tukang rombeng atau pemulung yang sering lewat. Lumayan kan nggak nyumbang sampah ke TPA. Hihi


Itulah cara-cara sederhana yang saya lakukan untuk mengurangi sampah yang terangkut ke TPA. Cara-cara ini tentu bukan suatu hal yang baru dan revolusioner, tapi untuk memulainya bukan perkara mudah. Apalagi soal sampah ya, yang mana sampah adalah objek menjijikkan yang bikin males banget untuk diurus. 


Akan tetapi saya rasa, mulai sekarang penting banget bagi kita untuk mengurangi sampah yang terangkut ke TPA. Selain sampah di TPA yang udah mulai menggunung, juga kita perlu punya cara untuk berkasih sayang dengan bumi. Hehe. 


Semangat mengurangi sampah rumah tangga. Meski tidak mudah, tapi kamu pasti bisa. Karena langkah kecil yang kita lakukan, jika dilakukan secara bersama-sama insyaa Allah akan memberi dampak besar untuk bumi ❤. 



Posting Komentar

0 Komentar