Tidak Ada Perjuangan Tunggal Dalam Persalinan dan Pengasuhan Anak

Ibu sedang berjalan


Suatu hari seorang teman membagikan kisah bersalinnya yang diunggah ke laman blog pribadinya. Kebetulan saat saya membaca ceritanya itu, saya masih mengandung 8 bulan. Iseng-isenglah saya baca ceritanya dan menemukan hal yang membuat saya jadi banyak merenung saat itu. 


Intinya dalam salah satu paragrafnya ia menyampaikan bahwa dalam sebuah persalinan tidak ada perjuangan tunggal. Baik ibu dan janin dalam rahim sama-sama berjuang, sama-sama bertaruh nyawa, sama-sama merasakan sakit. Tidak hanya ibu dan janin, tentu si calon ayah juga ikut berjuang. Bahkan ikut berjuang sejak awal istrinya hamil. 


Pernah juga saya melihat unggahan video seorang bidan yang memperlihatkan ilustrasi kondisi janin saat terjadi kontraksi. Pada video tersebut, terlihat si janin berusaha untuk keluar dari jalan keluarnya. Saya nggak bisa membayangkan seperti apa rasa sakit yang harus dialami si janin saat itu. Karena ia terlihat mendorong-dorong dirinya. Ya bayangin aja sih badannya segede itu, harus keluar dari jalan lahir yang nggak sama gedenya dengan badannya πŸ€”. Selain itu badannya yang masih amat ringkih harus berusaha sekuat itu untuk mengeluarkan dirinya. 


Ya emang sih serviksnya lentur, badan bayi pun juga demikian. Tapi dia juga pasti merasakan sakit dan lelah 😒. 


Kemudian tak lama berselang, seorang teman mengabarkan melalui media sosialnya bahwa anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki, qodarullah, meninggal. Teman saya ini bersalin secara normal di usia kandungan 36 minggu sekian hari. Baru sekitar 2 minggu setelah pengumuman itu saya ke rumahnya untuk menjenguk bersama teman lainnya. 


Sebenarnya waktu saya menjenguk beliau, saya nggak berniat menanyakan kronologinya. Saya hanya ingin tahu keadaan beliau. Namun beliau bercerita sendiri. Yang pasti di akhir cerita ia mengatakan, "mungkin paru-parunya (apa jantung ya dia bilang. Lupa deh saya πŸ™ˆ) udah nggak kuat kali ya".




Dari ketiga hal tersebut saya merasa seolah diingatkan bahwa saat bersalin, bukan hanya saya yang akan berjuang. Bukan hanya saya yang akan merasakan sakit. Bukan hanya saya yang akan bertaruh nyawa. Tapi janin dalam rahim saya pun akan demikian. 


Lalu selintas saya teringat dengan persalinan pertama saya, menjelang akhir 2018 lalu. Hal itu kemudian menambah kesadaran saya bahwa YA, bukan hanya saya yang berjuang, yang merasakan sakit bahkan bertaruh nyawa. Karena saat itu janin saya juga bertaruh nyawa. Sampai akhirnya ia hanya menghirup udara dunia amat sangat sebentar saja setelah berjuang.


Dalam Pengasuhan pun Tidak Ada Perjuangan Tunggal



Setelah saya melahirkan, akhir Agustus 2021 lalu. Pemikiran tentang tidak ada perjuangan tunggal dalam persalinan menjadi berkembang. Bahwa dalam proses pengasuhan pun tidak ada perjuangan tunggal. Baik saya sebagai ibu, suami saya sebagai ayah, dan anak saya, Hening, kita semua sama berjuangnya. 


Mungkin yang terlihat adalah hanya orang tua yang berjuang dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anaknya. Namun padahal anak pun juga nggak kalah berjuangnya untuk memahami dunia yang amat baru dia lihat. Berjuang dalam memahami setiap momen yang amat baru dia alami. Berjuang untuk mengenali dirinya dan perjuangan anak lainnya yang seringkali kurang disadari. 


Memang betul menjadi orang tua itu melelahkan, baik secara fisik maupun mental. Tapi saya rasa anak juga nggak kalah lelahnya sih. Anak juga memiliki areanya sendiri untuk berjuang dari waktu ke waktu. 


Karena setiap kali saya memandang Hening, saya jadi berkesimpulan bahwa jadi anak bayi pun nggak mudah ya ternyata. Emang bener sih segala kebutuhannya masih amat bergantung pada kami. Tentu rasanya lelah, letih, lesu ngadepin bayi yang apalagi sekarang lagi aktif banget. 


Namun tiap kali saya melihat dia belajar tengkurap, ketika dia berusaha untuk tidur, dan ketika dia berusaha menyampaikan kebutuhannya dengan caranya, tentu semua itu nggak mudah bagi seorang bayi. 


Akhirnya hal ini menambah kesadaran saya bahwa jadi orang tua nggak boleh egois ya. Nggak boleh superior. 


(((Inget-inget ini Mia. Ingeett!!!)))) 


Jangan mentang-mentang udah capek lahir batin. Capek ina inu ngurusin anak. Lalu menjadikan semua rasa capek itu sebagai alat agar anak menjadi penurut. 


Padahal nurut itu cuma ke Allah. Kalau ke orang tua mah namanya bakti 😌. 


Terus kalau dipikir-pikir ya, energi buat ngurus anak datangnya dari Allah. Kemudahan untuk bisa melahirkan karena rahmat Allah. Kemudahan untuk melalui masa penyembuhan juga karena rahmat Allah. Kemampuan untuk menjalani hari sebagai orang tua juga datangnya dari Allah. Semuanya dari Allah. Ya masak mau jadi superior sih ke anak sendiri, lalu menjadikan semua itu sebagai alat agar anak tunduk ke orang tua. Terutama ketika anak melakukan hal yang bikin tanduk mau mencolot πŸ˜‚. 


Karena bagaimanapun antara orang tua dan anak itu adalah hubungan batin yang diliputi kasih sayang. Maka sudah seyogyanya dalam tiap prosesnya menyertakan nilai kasih sayang. Agar kelak anak berbakti ke orang tuanya dengan bakti yang penuh kasih sayang. Bukan bakti karena ada rasa utang budi. 


Memang ya ber lillahita'ala secara kaffah itu berat, terutama ketika sudah menjadi orang tua dan mengalami hal yang tidak diinginkan. 


Saya pribadi sadar diri banget kalau saya orangnya egois banget. Makanya saya sampai meminta suami saya untuk mengingatkan bahwa tidak ada perjuangan tunggal dalam bersalin dan membesarkan anak. Makanya juga saya menuliskan hal ini, agar saya punya catatan yang akan selalu menjadi pengingat untuk diri saya. Terutama ketika misal anak saya melakukan sesuatu yang bikin saya mudah esmoni 😌. 


Lama-lama tulisan ini isinya kayak emboh 🀣. Maapkeun yaa wahai pembaca budiman ❤


((NB : Semua ilustrasi bersumber dari Canva )) 

Posting Komentar

1 Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊