PEKKA Berbagi Kisah Juang di Konferensi Ibu Pembaharu


Ibu Profesional benar-benar bikin saya nggak berhenti ter wow-wow dengan narasumber yang di undangnya. Salah satunya Ibu Nani Zulminarni, pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga atau disingkat PEKKA.



Ketika saya menyimak talkshow Ibu Nani di Konferensi Ibu Pembaharu tanggal 19 Desember 2021 lalu, saya tetiba teringat dengan pernyataan seorang teman saat kami berdiskusi melalui aplikasi WA. Kurang lebih doi bilang gini, "Kita memilih menjadi kaya untuk bersedekah. Daripada mengajak saudara kita untuk kaya bersama-sama". Wadidaw, jleb banget nggak tuh bund pernyataannya 🀣.


Namun saya rasa, pernyataan tersebut secara tidak langsung sudah terjawab oleh aksi nyata Bu Nani melalui PEKKA yang beliau dirikan. Bahkan PEKKA sudah jauh lebih dulu berdiri dan bergerak di akar rumput sejak tahun 2001.


Profil Singkat Narasumber


Sumber IG @ibu.profesional.official


Ibu Nani Zulminarni, pendiri Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga atau PEKKA. Beliau juga adalah Ashoka Leader untuk Asia Tenggara. Selain PEKKA, ada beberapa LSM lainnya yang beliau dirikan namun tujuannya adalah sama yaitu memperjuangkan hak-hak perempuan yang termarjinalkan.


Dari aksinya tersebut beliau mendapatkan beberapa penghargaan, seperti :

  • Lencana Bakti Kesra Utama, Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Republik Indonesia, Oktober 2014

  • Perempuan Inspiratif Nova, Desember 2014

  • Kick Andy Hero, Maret 2015

  • Anugerah Seputar Indonesia RCTI 2015

  • International Adult and Continuing Education Hall of Fame Award 2017


Wow, maa syaa Allah! Keren banget kan narasumbernya 😍. Sayang banget rasanya bagi saya kalau nggak menyimak dan menyerap semangat dari beliau 🀩.


Berkenalan dengan PEKKA


Sumber Twitter Yayasan PEKKA

Melihat lamanya PEKKA sudah malang melintang di akar rumput dengan banyaknya aksi yang mereka lakukan, saya kok merasa kuper banget ya. Karena saya baru tahu tentang PEKKA ini ya di Konferensi Ibu Pembaharu ini πŸ˜‚.


Seperti yang sudah saya sampaikan di awal bahwa PEKKA bergerak untuk memberdayakan perempuan yang memiliki peran ganda sebagai kepala keluarga. Namun pergerakan PEKKA lebih banyak ditemui di desa-desa, terutama pada perempuan dengan kesejahteraan ekonomi yang masih rendah. 


Oleh karenanya Bu Nani bilang kalau PEKKA emang nggak terkenal amat. Karena mainnya di akar rumput, bukan di tingkat nasional πŸ˜‚.


Pada awalnya, penggunaan terminologi perempuan kepala keluarga pada PEKKA mendapatkan penolakan di berbagai daerah. Hal ini dianggap bertentangan dengan ajaran agama. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Bu Nani untuk memberdayakan para perempuan yang sekaligus berperan sebagai kepala keluarga.


Jika menurut pemerintah, perempuan kepala keluarga diartikan sebagai perempuan yang berstatus janda namun memiliki peran ganda sebagai kepala keluarga. Berbeda dengan PEKKA, yang mana perempuan kepala keluarga memiliki arti yang lebih luas. Bagi PEKKA, perempuan kepala keluarga tidak hanya berstatus janda. Namun perempuan yang masih punya suami tapi harus menjadi tulang punggung karena suaminya sakit atau karena hal lainnya. Perempuan yang masih lajang namun mencari nafkah untuk keluarganya pun dapat dikatakan sebagai kepala keluarga.


Saat ini PEKKA sudah tersebar di sekitar 34 provinsi dengan area organisir utamanya adalah desa-desa. Untuk perkumpulan perempuan kepala keluarga di tingkat desa disebut dengan serikat PEKKA. Jika desanya terlalu luas, maka mereka membentuk unit lebih kecil yang lebih mudah dijangkau seperti tingkat RW atau RT.


Bahkan kerennya lagi nih, PEKKA menyentuh daerah-daerah yang jarang bahkan hampir tidak tersentuh oleh bantuan pemerintah 😌. 


Kisaran usia member PEKKA amat beragam. Namun dari data yang PEKKA miliki, ditemukan bahwa makin kesini usia perempuan yang sudah menjanda semakin muda dibandingkan dulu saat awal berdirinya. Bahkan ada yang usianya masih belasan tahun.


Wah, temuan yang menarique πŸ€”


Ekonomi sebagai entry point PEKKA 

Dari hasil observasi, ditemukan beberapa permasalahan yang dialami oleh perempuan kepala keluarga. Utamanya adalah masalah ekonomi dan adanya rasa terkucilkan. Sehingga yang menjadi entry point bagi PEKKA adalah bidang ekonomi. 


Selain itu juga perempuan punya potensi besar dan peranan yang cukup krusial dalam bidang ekonomi. Coba saja kita perhatikan sebagian besar pedagang adalah perempuan. Selain itu juga perempuan punya daya untuk menjadi produsen.


Sehingga akhirnya PEKKA mencoba untuk memberdayakan mereka melalui beberapa unit usaha seperti PEKKA mart. Untuk modal awal dari PEKKA sendiri berasal dari koperasi simpan pinjam. 


Pada awalnya mungkin sulit untuk mengajak ibu-ibu menabung uangnya. Karena mereka beranggapan dirinya nggak mampu secara finansial dan sebagainya. Namun PEKKA mendekati mereka dengan mengajak mereka berpikir dan akhirnya membuat ibu-ibu tersebut menyadari bahwa mereka banyak menggunakan uang untuk sesuatu yang tidak perlu banget 😌.


Selain itu, PEKKA mencoba untuk mengembalikan peran perempuan sebagai produsen. Namun ia juga bisa menjadi konsumen. Sehingga mereka bisa menciptakan rantai ekonominya sendiri ditengah gempuran ekonomi global yang banyak dikuasai oleh kapitalis. Oleh karenanya PEKKA melakukan gerakan produksi bahan lokal.


Misalkan ada anggota yang bercocok tanam sayuran atau memproduksi barang pokok lainnya. Si anggota tersebut dapat menitipkan produknya melalui PEKKA mart.


Hal keren lainnya yang dilakukan oleh organisasi ini adalah membangkitkan semangat leadership pada perempuan. Selain itu juga PEKKA menggali potensi-potensi menonjol yang ada di anggotanya. Meskipun awalnya banyak dari mereka yang merasa rendah diri hanya karena tingkat sekolahnya rendah.


Namun Bu Nani sendiri meyakinkan mereka bahwa setiap perempuan itu pasti punya potensi besar asal mau untuk berdaya. Sehingga tingkat sekolah tidak menjadi soal. Karena bagi beliau, sekolah paling utama adalah kehidupan. Nggak masalah jika tidak sekolah ataupun hanya lulusan SD. Asalkan mau berorganisasi, pasti bisa menjadi leader yang handal dan bisa semakin berdaya.


Beliau juga menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat. Makanya nih akhirnya banyak perempuan yang bergabung dengan PEKKA dan semangat untuk berdaya.


Selain memberdayakan perempuan kepala keluarga di akar rumput, Bu Nani juga melakukan advokasi ke pemerintah guna memperjuangkan hak-hak perempuan. Beliau menyampaikan kepada pemerintah bahwa memang benar ada perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga dengan menunjukkan data sebagai bukti. Karena selama ini perempuan kepala keluarga mengalami invisibilitas sehingga kurang tersentuh oleh pemerintah.


Kemudian Bu Nani juga mengingatkan bahwa kemiskinan tidak bisa hanya diatasi dengan bantuan berupa uang. Namun juga perlu adanya pemberian kesempatan untuk berdaya dan berkarya serta rasa aman bagi perempuan kepala keluarga.


Tantangan yang dihadapi PEKKA

Tentunya dalam setiap gerakan selalu ada perjuangan berliku yang dilalui, termasuk oleh Bu Nani dengan organisasi yang didirikannya. 


Seperti yang sebelumnya saya sampaikan bahwa bu Nani pernah mendapatkan penolakan karena terminologi yang digunakan dalam organisasi ini. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau untuk tetap memperjuangkan hak perempuan kepala keluarga dan tetap menggunakan terminologi tersebut.


Selain itu Bu Nani juga pernah mendapatkan fitnah karena dikira akan memperdagangkan janda muda. Soalnya pas sosialisasi PEKKA di Jawa Barat beliau mengumpulkan para janda muda gitu. Eh, dikiranya human trafficking 😌


Terus nih yang nggak kalah gregetnya adalah terdapat penghasutan. Tahu nggak yang jadi akar masalahnya apa? Ya apalagi kalau bukan adanya program bantuan yang datang dengan sekedar ngasi uang tapi nggak diberdayakan. Bahkan nggak dididik untuk mengelola uang tersebut.


Karena terbiasa dapat bantuan model begitu, membuat PEKKA kesulitan untuk mengajak perempuan menabung dan mengelola hasil tabungannya untuk diputar menjadi usaha. 


Yang nggak kalah menohok adalah ketika Bu Nani mendapatkan hinaan ketika beliau berkunjung ke salah satu desa gitu di Aceh. Beliau dianggap tidak becus mengurus suami karena beliau sendiri bercerai. Dikatain begitu dihadapan banyak orang pula.


Wah, mendengar hinaan seperti itu malah melucuti semangat Bu Nani untuk berjuang melawan stigma terhadap janda. Ada pernyataan beliau yang saya suka banget saat Konferensi Ibu Pembaharu kemarin. Beliau bilang, "Saya nggak mau ditaklukkan oleh penghinaan. Nggak mau saya".


Bisa dibayangkan mental Bu Nani mental baja banget. Kereenn 🀩!


Namun Bu Nani mengatakan bahwa pada awal PEKKA bergerak bisa dikatakan 90% nya gagal. 


Tapi hal ini jadi pengingat banget bagi kita bahwa tidak ada pergerakan yang mulus-mulus saja. Pasti ada tantangannya, ada gagalnya. Sehingga kita jangan sampai putus asa. Ingat kan yang selalu disampaikan Bu Septi, "Fokus pada solusi, bukan pada masalah. Jadikan masalah sebagai tantangan!" 🀩.


Nasehatin diri sendiri lagi 😌.


Akhirnya setelah lebih dari satu jam Bu Nani berbagi cerita di Konferensi Ibu Pembaharu, beliau menyampaikan closing statement yang menggugah semangat banget. 


  • Jadikan pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan yang tak terbantahkan. Karena pengalaman perempuan bisa dikatakan setara dengan pengetahuan.

  • Tetap belajar, karena belajar itu sepanjang hayat. 


Selain itu Bu Nani juga mengingatkan agar jangan pernah meremehkan diri sendiri. Apalagi kalau sampai bilang, "Saya hanya ibu rumah tangga". Jangan lagi ada kata saya hanya. Karena setiap perempuan itu punya potensi besar asalkan mau berdaya.


Hhmm, saya merasa dapat teguran keras nih 😌 #plakplakplak


Nggak terasa tulisan saya sudah sepanjang jalan kenangan. Udah nulis sebanyak ini pun saya rasa masih banyak kurangnya. Masih banyak yang belum tersampaikan. Huhu. Namun semoga mendatangkan manfaat bagi yang membaca dan yang paling penting kalian nggak bingung pas baca artikel ini 🀣.


Ngomong-ngomong, Konferensi Ibu Pembaharu masih berlangsung lho. Cuuuss ke web nya langsung ya πŸ˜‰πŸ˜‰.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Kereeeeeewwwwn banget 😭

    Makasih mb Emir sudah menuliskannya disini. Semangatnya sampai nih ke ❤️

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊