Sweet Little Girl

 


Sebenarnya ini bukan tulisan yang penting-penting amat. Baguspun juga tidak. Jadi agak percuma untuk dibaca sampai akhir. Tapi jempol saya agak gatal karena ingin mengabadikan tentang si gadis manis ini. Karena saya merasa, secara tidak langsung saya belajar banyak banget dari dia. Sebut saja namanya XXY (Re : Xixiy). Karena nama samaran Bunga udah terlalu sering. Kasihan juga semua mbak-mbak bernama Bunga, namanya dicatut mulu.


Awal mula berkenalan dengan XXY adalah ketika doi lagi ngobrol santuy di bok-bokan depan kontrakan saya bersama temannya. Ceritanya waktu itu saya baru aja sebulan pindah ke kontrakan ini. Karena kedengarannya si XXY ini ceriwis gitu, isenglah saya samperin mereka dan menyapa mereka.


XXY ini anaknya ramah banget banget. Bahkan baru aja kenal dia udah cerita banyaaaaaaaakkkk banget sama saya. Beda banget dengan temannya yang pendieeeeeemmmmmmmm banget. Sejak saat itu saya jadi akrab dengan mereka. Tiap kali ketemu pasti disapa mereka. 


Pada awalnya dia sering main ke rumah. Tapi lama-lama saya agak merasa terganggu karena dia kalau main udah kayak main di padang savana 不. Selain itu juga dateng ke rumah hampir tiap hari. Sedangkan saya mau ngerjain ina inu jadi tertunda. 


Akhirnya tiap jam 10 pagi saya sudah gembok gerbang rumah. Karena biasanya dia pulang sekolah jam 10 gitu 不. Soalnya kalau gerbang nggak digembok, pastiiii dia bakalan masuk dan mecungul di jendela.


Tapiiii, meski gerbang udah di gembok. Dia dan temannya nggak putus asa dwong. Bahkan dia sampe naik-naik pagar rumah sambil teriak-teriak panggilin saya. Dan sesekali dia teriak, "Tante cantik. Bukain pintu dong". 不不不. Tapi nggak saya gubris karena waktu itu saya lagi selesaikan pesanan rajut sambil sembunyi dalam kamar. Walaupun saya sebenarnya malu dan sungkan sama tetangga. Selain itu juga saya khawatir dia nanti dimarahin sama neneknya. Karena neneknya ya begitu deeh kalo marah .


Tapi menariknya nih ya. Walau saya nggak menggubris panggilannya dia, dia dan temannya langsung mengalihkan perhatian dengan bermain bareng dijalanan depan rumah. Mereka langsung kayak main peran gitulah. Jadinya saya mbatin, "Wah, anak ini amazing sekali".


Kemudian, suatu hari XXY berlarian kearah saya lalu memeluk saya dan mengatakan, "Tante, aku sayang tante". Aw aw, hati saya langsung melting dengan ungkapannya dia. Lalu saya jawab, "Wah, terima kasih. Tante juga sayang sama XXY". Terus doi menunjukkan ekspresi melting.


Kebetulan XXY ini ekspresif buanget. Udah gitu dia aktif banget banget. Akan tetapi nggak jarang keaktifannya sering disalah artikan oleh orang dewasa, pun termasuk yang ada di rumahnya. Yups, dia sering dianggap nakal. Bahkan saya sering banget mendengarkan dia menangis dan berteriak, "Ampuunn.. ampuunn", karena dimarahi dan dipukul oleh neneknya. 


Tapi meski kayak gitu nggak bikin dia kapok sih. Kadang ya tetap saja dia melakukan sesuatu yang menjadi sumber kemarahan neneknya. Salah satunya pergi main tanpa ijin . 


Tapi dari dia saya belajar bahwa, "terlalu sering memarahi anak hanya karena nggak penting-penting amat akan membuat dia takut untuk jujur dan bertanggung jawab". Sebenarnya ada banyak hal yang membuat saya berkesimpulan seperti itu. Namun akan menjadi amat panjang jika saya uraikan satu per satu .


Nah, beberapa hari lalu menjadi momen paling menggelitik saya. 


Ceritanya saya pergi mengantarkan pesanan tetangga saya yang rumahnya diujung gang sana. Kebetulan dia lagi main sama 2 orang temannya disana. Kemudian saya diperkenalkan dengan teman mainnya itu. Karena kebetulan keluarga si teman mainnya ini adalah warga baru di RT kami.


Pas udah mau pulang nih, dia menyetop saya. Sambil menyilangkan tangan dan mendongak ke arah saya dia bertanya, "Tante udah berapa tahun menikah?". Saya jawab, "Sudah 3 tahun. Memang kenapa?". Lalu dia bertanya lagi, "Kok tante belum punya anak?". Saya jawab, "Karena belum dikasih sama Allah". Terus dia bilang, "Yaaaahh". Lalu menyertakan do'a, "Semoga segera ya tante". Untuk mengakhiri percakapan itu saya ucapkan terima kasih untuk do'a tulusnya.


Saya sih nggak baper ya ditanyain kayak gitu. Lha wong masih bocah piyik kok 不. Tapi ada hal yang cukup menggelitik saya ketika saya beranjak pulang. Masak nih dia bilang gini ke kedua teman mainnya yang nggak kalah piyik dari dia, "Iya, tante Mia itu udah 3 tahun menikah tapi belum punya anak". Omongannya itu udah kayak mamak-mamak rumpik yang lagi gosipan 不不不不不.


Ya Allah. Itu bocah dapet inspiresyen darimanaaaaaaaa cobak sampe bilang gitu ke teman piyiknya. Saya merasa nggak umum aja sih melihat ada anak piyik kelas 2 SD cerita kayak gitu ke teman yang lebih piyik dari dia 不不不不不不不不不不不不.


Saya mendengar dia ngomong gitu ke temannya cuma bisa ketawa saja. 


Adooh adoooohhh… Saya jadi agak suudzon kalau-kalau dia ngomong gitu karena terinspiresyen neneknya. Karena ku tahu banget neneknya hobi gosipan. Makanya udah beberapa bulan ini saya agak menjauh dari neneknya gegara kalau ngobrol sama beliau ujung-ujungnya ada saja yang digosipin. Mengingat dosa saya yang udah segambreng, maka lebih baik saya menjauh saja.


Yhaaa… Malah ngomongin neneknya. Ghibah wooii ghibaaaahhh 不不不


Hmm, selalu ada saja surprise bermakna sekaligus menggelitik yang 'dihadiahi' oleh XXY. Kujadi bertakon-takon, "Besok apa lagi yak" 不不不不不不不.


Yasudah, segitu saja cerita tidak jelas dan tidak berbobot dari saya. Mohon maaf sudah membuang-buang waktu para pembaca budiman.


Bhay!


Post a Comment

0 Comments