Kufur Nikmat




Ketika membaca Lã Tahzan, ada sebuah sabda Rasulullah yang membuat saya merasa ambyar. Bunyinya adalah :


"Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela. Keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah".


Membaca hadist tersebut membuat saya merasa tertampar-tampar. Bagaimana tidak?! Sebagai contoh adalah ketika saya merajut. 


Seringkali saya mengeluh karena rajutan saya rasanya nggak kelar-kelar. Padahal sudah dikerjakan seharian tapi dapetnya rasanya masih sedikit saja. 


Karena hadist tersebut membuat saya menyadari bahwa keluhan semacam itu adalah tindakan yang bodoh. Karena seharusnya yang saya panjatkan adalah rasa syukur yang besar karena Allah sudah memberikan saya kesehatan agar bisa merajut dengan nikmat. 


Urusan kapan kelarnya kan tergantung seberapa tekun saya mengerjakan. Karena yang terpenting adalah saya bisa menikmati apa yang sedang saya kerjakan. Serta mensyukuri nikmat tersebut.


Lalu kufur nikmat lainnya yang saya lakukan adalah soal makan. Kadang tuh kalau beli makan suka lupa minta nasinya setengah porsi saja. Sehingga kadang saya sudah kenyang duluan sedangkan nasi masih banyak.


Dalam usaha menghabiskan makanan tersebut, saya jadi cereweeeettt banget. Malah jadi banyak meracau karena seharusnya tadi mintanya setengah porsi saja. Atau meracau kekenyangan dan segala macam.


Aduh, sumpahlah rasanya kuingin berkata, "tempeleng saja umatmu satu ini, ya Rasulullah" 😂😂.


Karena hadist tersebut membuat saya tersadar bahwa ternyata hampir setiap hari saya telah kufur nikmat. Saya sering mengeluhkan hal-hal yang seharusnya tidak dikeluhkan. Saya sering mengutuk sesuatu yang seharusnya tidak dikutuk.


Namun berkat kemurahan hatiNya, disediakan ruang bagi hamba dzalim ini dengan jalan istigfar. Guna menenangkan hati dan pikiran agar tidak lagi mengeluh apalagi merutuki sesuatu yang tidak penting.


Alhamdulillah nya lagi, Allah juga sudah memberikan perangkat lunak seperti akal dan hati sebagai alat kesadaran untuk meredam nafsu yang terlalu bergejolak. 


Syukur alhamdulillah, kok ya Allah juga sabarnya seluas semesta ciptaanNya. Sehingga Dia masih memberi kesempatan bagi si dzolim ini untuk menyadari kebodohannya.


Setiap hari saya selalu berharap semoga Allah nggak murka sama saya. Semoga juga Allah nggak mendepak saya dari orbitNya akibat kebodohan saya. Dan semoga Allah sedikit menyunggingkan senyum ketika hambaNya yang bodoh ini melakukan kebodohan 😂.


"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)


Post a Comment

0 Comments