Harmoni Dalam Beda



Saya terinspirasi dari Tashoora, band indie asal Jogja untuk menuliskan hal ini. Karena entah ya, saya menemukan hal yang berbeda dari Tashoora. Sehingga saya keidean untuk menulis topik ini.


Jika biasanya dalam sebuah band, vokalisnya hanya satu orang atau mungkin beberapa tapi nyanyinya bergiliran. Walaupun nyanyinya bersamaan, pasti ada suara yang terdengar lebih dominan. Ya nggak apa-apa, lagian hal itu bukan bermaksud untuk menonjolkan diri.


Tapi saya melihat Tashoora ini berbeda. Dari awal nyanyi sampai akhir, ketiga vokalis utama bernyanyi bersamaan. Menariknya, tidak ada terdengar suara siapa yang lebih dominan. Tapi kita bisa mendengar warna suara yang berbeda dari masing-masing vokalis.



Bahkan nih naik turunnya nada, suara mereka masih terdengar senada seirama. Menurut saya ini keren banget sih.


Mungkin Tashoora bukan satu-satunya band yang memiliki konsep demikian. Tapi karena yang baru saya tahu hanya Tashoora, maka band ini yang saya jadikan contoh 😊.


Menurut pandangan saya, Tashoora dan band lainnya tentunya adalah representasi dari harmonisasi dalam keberagaman hidup. Yang mana masing-masing orang membunyikan alat musik yang berbeda, masing-masing vokalis memiliki warna suara berbeda, tapi mereka masih tetap bisa senada seirama sehingga menghasilkan harmonisasi bunyi.


Coba bayangkan, jika dalam sebuah  band mainnya nggak jelas!


Antara pemain bass, gitar, keyboard, drumnya tidak seirama. Lalu vokalisnya juga nyanyi nggak jelas. Sudah pasti permainannya berantakan dan nggak layak untuk dipentaskan. Karena tidak ada harmonisasi sama sekali antar pemainnya.


Hancur

 Pixabay.com

Sehingga sebuah band bisa mencapai harmonisasi dalam musik mereka karena mereka berlatih terus. Saya rasa salah satu hal yang mereka latih juga adalah mengendalikan ego. Sehingga dalam pentas musik, bukan soal siapa yang paling baik mainnya. Melainkan bagaimana caranya menyajikan musik yang enak didengar yang bisa menghadirkan kebaikan.


Saya rasa begitu juga dengan hidup.


Berbeda itu adalah fitrah, seperti keberagaman jenis alat musik yang tentunya mengeluarkan warna bunyi yang berbeda. Tapi ketika dimainkan secara bersamaan dengan komposisi nada yang dibuat oleh sang komposer, membuat bunyi yang berbeda terdengar sangat harmonis. Sangat indah untuk dinikmati.


Harusnya kehidupan manusia kan juga begitu ya. Yang mana perbedaan bukan menjadi tembok raksasa yang menghalangi untuk bisa hidup harmonis. 


Namun harusnya perbedaan menjadi sebuah media belajar bagi kita untuk bisa saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sehingga kita bisa hidup seirama dan juga harmonis.


Harmoni
Steemit.com

Hal yang membuat perbedaan dalam kehidupan tidak lagi terlihat dan terasa indah adalah nafsu ego manusia


Setiap manusia memang pasti punya nafsu. Karena nafsu adalah salah satu perangkat lunak untuk keberlangsungan hidup manusia. Akan tetapi nafsu harus tetap terkendali, agar tidak mengganggu sistem lainnya dari diri manusia.


Biasanya nafsu ego ini pula yang menyebabkan kita mempertengkarkan perbedaan dengan menjunjung kebenaran kita masing-masing. Seolah-olah energi kita melimpah ruah untuk saling berdebat perihal 1 kebenaran yang tampak berbeda akibat berbedanya keluasan sudut pandang masing-masing.


Apakah mudah mengendalikan nafsu ego?


Tentu tidak. Kecuali memang atas seizinNya seseorang sudah mampu mengelola nafsu dan perangkat lunaknya yang lain dengan baik. 


Oleh karenanya kita perlu berlatih untuk mengendalikan nafsu ego kita. Seperti sekumpulan pemain musik dengan ragam alat musik, yang mana mereka terus berlatih agar bisa memberikan penampilan terbaiknya.


Saya pribadi, sebagai seseorang yang amat egois, mengakui betapa sulitnya untuk mengendalikan nafsu ego saya 😭. Susah banget banget, ya Allah. Kadang merasa bersalah kalau sudah mulai kebawa emosi dan egoisme diri. Hal ini yang sering mengganggu proses komunikasi saya dikeseharian.


Sepertinya saya harus mengikuti do'a Rasulullah yang menurut saya romantis banget. Bunyinya :


"Ya Allah, saya meminta padaMu keadilan pada saat marah dan lapang dada".


Menurut saya penggunaan diksi dalam do'a tersebut menjadikannya amat indah untuk dipanjatkan. Saya mendapatkan do'a di buku Lã Tahzan halaman 74. 


Tentu kita semua kita sangat berharap bisa hidup beriringan secara harmonis di tengah keberagaman. Walaupun memang untuk bisa mengendalikan ego nafsu kita tidak pernah mudah.


Semoga Allah selalu memberikan kita bimbingan dan juga kelembutan jiwa agar mampu menghidupkan kehidupan sosial yang harmonis. Layaknya bunyi-bunyi indah yang keluar dari ragam alat musik yang terkomposisi dengan baik 🙃.


Post a Comment

0 Comments