Komposter Baru


Alhamdulillah setelah sekian abad menginginkan punya komposter yang lebih baik dan layak. Akhirnya beberapa hari lalu terealisasi juga 😍.

Sebenarnya komposter yang saya buat ini jauh dari kata sesuai dengan kaidah per-komposter-an. Akan tetapi setidaknya komposter yang sekarang lebih layak lah dari pada komposter pot yang saya gunakan sebelumnya.

Tahun sendiri kan pot itu segimana gede? Heuheu..

Komposter Ember


Beberapa hari lalu akhirnya saya membeli ember untuk komposter. Mayan lah harganya untuk ukuran ember yang dijadikan komposter, 77.500 tjuuuyy 🤣. Mayan banget lah itu buat mamak ekonomis macam saya.

Memang segala sesuatu itu membutuhkan pengorbanan. Heuheuuu..

Tapi saya mikirnya mah, ketimbang saya galau karena sampah organik, ya nggak apa-apa. Lagian ukuran embernya juga gede banget, sekitar 70 liter gitu lah. Lega banget tuh saya kalo mau nyemplungin sampah organik. Tinggal plung cemplung 🤣.

Sedangkan dulu ketika masih menggunakan komposter pot, saya suka galau kalau potnya mulai penuh. Alhasil si komposter saya akali dengan menanggalkan kaidah pengomposan sederhana.

Harusnya kan tiap sampah organik dimasukkan harus dibarengi dengan sampah daun kering dan juga tanah. Nah, kalau saya sih nggak. Tanah dan daun keringnya saya masukkan nanti-nanti. Saya biarkan dulu si pot sampai penuh dulu dengan sampah organik, baru deh saya masukkan tanah dan daun kering. Wkwkwkw

Jika potnya sudah penuh, keesokannya saya menggunakan pot satunya lagi untuk mengompos.

Tapi cara saya ini tidak dibenarkan lho ya. Karena hal ini menyebabkan si komposter jadi mudah berbelatung karena unsur cokelat dan hitamnya kurang. Terus air lindinya jadi mbeleber keluar dari bawah pot. Wkwkk. 

Sungguh caraku ini tidak patut dicontoh, kisanak!

Tapi nggak apa-apa, saya biarkan menjadi kenang-kenangan semasa mengompos. Heuheuuu

Cara Membuat Komposter Ember Zuper Sederhana

Sesampai di rumah, Dana langsung ngebolongin embernya. Saya minta beliau membolongi bagian bokong ember, tutup ember dan dinding bagian atas. 

Karena kami tidak mempunyai bor, maka kami membolongi si ember dengan menggunakan obeng yang dipanasi. Proses membolonginya emang jadi nggak secepat menggunakan bor sih. Heuheu..

Mongomong, Bolongan ini penting banget agar ada udara keluar masuk. Sehingga si sampah organik mendapatkan oksigen guna proses pendauran. Selain itu juga agar sampahnya nggak rawan becek juga.


Eh tapi, becek atau nggaknya kompos juga bergantung dari unsur campuran kompos. Seperti daun kering ataupun tanah. Gituu.

Eh tapi itu kalau komposternya aerob ya. Jika membuat komposter anaerob beda lagi nantinya. Heuheu. 

Setelah membolongi si ember, pada bagian dasar ember saya berikan lapisan dari kardus. Gunanya adalah untuk menyerap air lindi agar air lindinya tidak mbeleber sampai ke tanah. Karena kabarnya air lindi yang masih pekat jika jatuh dan terserap oleh tanah dapat mencemari air tanah. Sehingga diusahakan agar unsur komposter sesuai kaidah agar tidak ada air lindi yang keluar dari komposter ya. 

Kecuali jika membuat komposter anaerob yang mempunyai saluran untuk air lindi. Sehingga air lindinya bisa dipanen. Air lindi ini bisa digunakan sebagai pupuk cair atau pun starter mikroba. Pokoknya gitu lah 🤣.

Lanjot soal komposter ember yang saya  buaatt...

Setelah komposter ember dibolongi dan diberikan lapisan kardus. Bagian atas lapisan kardus saya berikan sekam bakar sebagai starter komposter. Soalnya waktu itu saya punya sekam bakar banyak banget. Ya sudah sih saya manfaatkan saja. Lalu saya masukkan daun-daun dari tanaman yang habis saya babat, baru deh saya cemplungin sampah organik. 

sustaination.id

Setelah itu saya tumpukin lagi dengan daun kering dan tanah. Tujuannya agar hasil komposnya bagus, minim belatung, tidak becek dan no bauk-bauk.

Sebenarnya kuantitas daun kering dan tanah ini ada ketentuannya. Tapi saya pribadi gunakan apa yang ada saja. Hahaha

Oh ya, nanti sampah yang dikompos baiknya rajin diaduk-aduk ya agar sampah yang dikompos tercampur rata dan hasilnya juga jadi lebih bagus. Heuheu.

Selain itu juga perlu diberikan air bekas cucian beras agar proses daur sampahnya lebih cepat.

Gampang banget kan cara membuat komposter?! Ya iyalah bikinnya ala saya. Karena saya tuh nggak mau bikin yang ribet. Yang penting bagi saya, saya punya komposter agar sampah organik tidak terbuang ke TPA. Huhu.

((((Tolong jangan contoh saya yang ngompos sak karep e dewe ini ya!!!!!)))

Kasihan lah Bumi nya jika dibebani sampah terus. Udah beban sampahnya, gas dari sampah yang mencemari udara, air lindi yang mencemari tanah dan air tanah. Nah kan! Ada banyak banget masalah akibat sampah ini.

Sehingga mulai sekarang mending pilah aja deh sampahnya dan mulailah membuat komposter untuk sampah organik.

Tujuan Utama Saya Mengompos

Sebenarnya tujuan utama saya mengompos adalah agar sampah organik saya tidak terbuang ke TPA. Karena tahu sendiri kan akibatnya jika sampah organik sampai terbuang ke TPA?

Yups, akan menimbulkan beragam hewan kicik. Lalu akan menimbulkan zat methan yang jika menguap akan mencemari udara, sehingga suhu bumi meningkat. Kemudian juga air lindi yang diakibatkan sampah organik juga akan mencemari air tanah. Selain itu juga dapat membahayakan kesehatan juga.

Duh ngeri banget nggak sih akibatnya? 😢

Makanya nih saya pribadi berusaha banget agar sampah organik saya tidak terbuang ke TPA. Oleh karenanya saya membuat komposter sederhana yang sekiranya saya mampu buat dengan tingkat kemalasan saya yang amat sangat 🤣.

Rencana kedepannya, saya berharap hasil komposnya dapat saya gunakan sebagai pupuk. Tapi itu nanti jika saya udah rajin bercocok tanam. Haha.

Nah, soal gimana panennya jadi urusan nanti aja. Haha. Nanti saya ceritakan lagi. Insyaa Allah kalau ingat 🤣. 

Nah, demikianlah cerita nirfaedah saya soal komposter baru saya. Ceritanya saya memang pamer sih punya komposter baru. Pamer yang nggak penting banget 🤣.

Bhay!

Post a Comment

0 Comments