Ketawadhu'an Dalam Menulis


Kemarin saya membaca tulisan di menu Ménék Belimbing caknun.com. Tulisan tersebut berjudul Menunggu Anak Istri di Gua Lockdown.

Ketika membaca tulisan tersebut sampai habis, seketika saya tertegun. Serasa ada yang menampar saya namun tidak kasar. 

Tulisan tersebut adalah tentang hikmah yang dapat diambil dari peristiwa pandemi saat ini. Mungkin kita risau dengan pandemi ini. Gelisah dengan kondisi perekonomian kita. 

Akan tetapi kejadian ini -insyaa Allah- diijinkan oleh Allah untuk terjadi sebagai bentuk rahmatNya kepada kita. Semoga kita bisa menyadari hal ini.

Tulisan tersebut juga ditulis dengan gaya penulisan yang sangat bersahaja, penggunaan diksi yang mudah dipahami, sehingga orang awampun mudah untuk memahami pesan dalam tulisan.

Tulisan tersebut menyadari saya betapa pentingnya menulis dengan penuh ketawadhu'an agar pembaca mudah menerima pesannya. Selain itu juga ketawadhu'an dalam menulis -insyaa Allah- menunjukkan pribadi sang penulis. 

Penulisan yang bersahaja nantinya akan lebih mudah menyentuh hati pembaca dan membangun kesadaran positif pada pembaca. 

Memang perlu diakui bahwa menulis itu pada dasarnya sangat mudah. Akan tetapi menulis dengan penuh kesahajaan, kerendahan hati, ketajaman akal, kelembutan hati itu bukan perkara mudah.

Perlu kemampuan membaca yang baik agar bisa membuat tulisan yang baik. Selain itu juga dibutuhkan pengetahuan yang mendalam perihal makna kata, agar pesan yang disampaikan tepat sasaran.

Huhu…

Kadang saya merasa bersalah membaca tulisan-tulisan saya yang ditulis dengan gas poll rem blong 🤣. Astagfirullah.

Mulai sekarang saya harus belajar lebih serius lagi agar bisa memiliki kemampuan membaca yang baik. Atau minimal bisa menyajikan tulisan yang baik tanpa harus ngegas.

Insyaa Allah..

Mohon dimaafkan jika sekiranya ada tulisan-tulisan saya yang menyakiti hati ya 🙏.

Post a Comment

0 Comments