Bekerja


Pernah suatu hari seseorang mengajak saya ke majlis ta'lim. Lalu dalam ajakannya disertai bumbu ucapan, "Daripada bengong di rumah nggak ada kerjaan".

Uh wooww! Seketika saya tersadar bahwa sudah 2 tahun lebih ini saya adalah seorang pengangguran 🤣. Sebagai makhluk yang mudah baperan, sepulang dari acara kumpulan, saya merasa kehilang daya. Dalam hati saya bergumam, "Jadi selama ini saya nggak kerja ya?". 

Lalu saya bercerita ke Dana. Terus dia menanggapi, "Lha memangnya kamu selama ini di rumah cuma ongkang-ongkang kaki? Kamu pagi-pagi udah beberesan rumah. Kamu juga masak. Bukannya itu juga kerja?"

Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa melakukan pekerjaan rumah dan sebangsanya adalah pekerjaan pembantu. Huh, padahal dibalik pekerjaan rumah itu ada banyak sekali pembelajaran yang bermanfaat. Tapi saking jenis pekerjaan ini dianggap nggak penting amat, makanya selalu dikerjakan cepat-cepat tanpa mencoba memaknainya.

*****

Saya sering bertanya-tanya, "Yang disebut dengan bekerja itu yang seperti apa sih? Apakah harus di luar rumah dan memiliki nama profesi tertentu atau yang bagaimana?".

Sampai akhirnya saya menemukan tulisan Cak Fuad di website CakNun.com yang cukup menenangkan hati dan memberdayakan. 

Dari tulisan beliau, saya menyimpulkan bahwa yang disebut bekerja adalah mengerjakan apapun yang dirasa bermanfaat. Sekalipun membuka sosial media, asal digunakan untuk mencari informasi bermanfaat juga dapat dikatakan bekerja.

Yang disebut menganggur adalah jika kita tidak memberdayakan tubuh dan otak kita untuk sesuatu yang bermanfaat. Misalkan sepanjang hari kerjaannya ya hanya rebahan aja. Itu baru menganggur.

Walaupun rebahan selepas mengerjakan sesuatu itu perlu, sebagai bentuk mengistirahatkan raga agar tidak terlalu lelah. Kan ga masalah ya?

Namun jika rebahannya 24/7 ya ra umum tho ya? 

Masak mau rebahan 24/7 🤣.

****

Jika saya melihat diri saya sendiri, saya tidak sepenuhnya menganggur. Saya tetap bekerja walaupun di rumah saja. Saya tetap bekerja walaupun tidak linier dengan jurusan kuliah saya.

Setelah sholat subuh saya langsung beresin rumah, menyapu, siram tanaman, memberikan sentuhan lebih pada tanaman yang bermasalah, membersihkan kamar mandi, cuci piring, memasak, menulis, merajut, promosi jualan buku dan lain sebagainya.

Wah, jika diperhatikan ternyata pekerjaan yang saya lakukan ya banyak juga.

Memang tidak menghasilkan uang. Oh, sesekali menghasilkan deng dari jualan buku dan hasil merajut. Walaupun nggak seberapa, tapi saya sangat mensyukuri posisi saya saat ini

Mungkin banyak yang beropini bahwa perempuan juga harus punya uang. Biar nggak minta suami terus. 

Lha emang apa salahnya minta sama suami sendiri? Kan nggak minta suami orang. Lagian meminta sesuatu pada suami sendiri adalah cara belajar berkomunikasi yang baik. Sehingga dalam komunikasi tersebut tidak ada unsur kode, baper dan pemaksaan.

*****

Bagi saya bekerja penuh di rumah adalah sebuah privilege  yang luar biasa. Karena banyak perempuan yang ingin seperti posisi saya, namun karena sesuatu dan lain hal, mereka mau nggak mau harus bekerja di ranah publik. 

Oleh karenanya, saya bersyukur bisa melakukan semua ini dengan hati yang gembira. Alhamdulillah.

Selanjutnya saya tinggal menggali lebih dalam mengenai potensi yang Allah tanam dalam diri saya. Lalu mengembangkannya dan mengamal solehkannya.

*****

Walaupun sampai detik ini saya masih belum sampai pada tahap earning money by myself. Saya nggak pernah mengeluh sama sekali sih. Insyaa Allah pemasukan tetap dari Dana sangat cukup untuk kami. Namun saya juga tetap ada ikhtiar untuk bisa memiliki pemasukan sendiri.

Dana juga nggak pernah memaksa saya untuk bekerja atau di rumah saja. Dana selalu membebaskan saya untuk memilih bekerja di rumah atau di ranah publik. Selama saya bahagia, dia pun akan merasa demikian.

Namun saya lebih suka bekerja di rumah. Bekerja dengan cara yang saya suka. Bagi saya, bekerja seperti ini adalah cara saya untuk mensetting ulang diri saya. 

Jika ada orang yang lebih suka bekerja di ranah publik, ya nggak apa-apa. Kan setiap orang nggak harus bekerja dengan cara yang sama bukan? Selama kamu menikmati dan membuatmu merasa lebih dekat dengan Allah, go ahead!

Setiap hari saya berusaha untuk tidak iri dengan pencapaian siapapun. Tidak iri dengan teman yang sudah bergelimpangan harta.

Saya selalu merasa cukup dengan apa yang ada saat ini. Saya juga tidak menuntut untuk bisa punya ini dan itu.

So, bagi Anda yang mengalami hal yang sama dengan saya. Yang setiap hari bekerja di rumah saja. Jangan merasa tidak berdaya ya.  Anda tetap seseorang yang bekerja kok. Namun bekerja dengan cara yang berbeda.

Syukuri saja. Karena tidak semua orang bisa bekerja seperti yang kita lakukan. Prinsip yang bisa kita pegang cukup sederhana : pokoknya jangan sampai melakukan hal yang bikin Gusti Allah murka.

Post a Comment

0 Comments