Terima Kasih Liziqi


Kemarin saya menonton video terbaru dari Liziqi. Dalam video tersebut Liziqi menampilkan kemampuannya membuat pakaian dan juga sprei mulai dari 0. 

Ia menggunakan "tabungan kain" yang ia buat sendiri. Bayangin dong kain aja dia bikin sendiri dengan mendayagunakan sumber alam yang ada. Lalu dia juga membuat pewarna kain dari tumbuhan yang ia tanam terlebih dahulu.

Dari tayangan tersebut, dapat dilihat bahwa proses pembuatan pewarna kainnya memakan waktu cukup banyak. Nggak hanya sekedar merebus tanamannya saja. Namun juga merendam, menyaring dan segala macam. 

Lalu Liziqi juga membuat cetakan untuk gambar pada kain. Setelah semuanya selesai, ia mulai memotong dan menjahit kain tersebut. Menjahitnya pun manual, tidak menggunakan mesin.

Wah, ini perempuan benar-benar canggih sekali. Kesungguhan, keuletan, ketangguhan, keterampilan dan juga kreativitasnya sungguh membuat saya merasa iri 😭. Liziqi keren sekali.

Kemudian entah kenapa ketika menonton video tersebut, air mata saya meleleh nggak bisa ditahan. Bukan karena saya kagum dengan Liziqi. Hanya saja apa yang dilakukan Liziqi, bagi saya, menjadi pengingat atas rahman rahimNya.

Perenungan

Allah sudah menyediakan tempat bagi hidupnya manusia dengan sebaik-baiknya tempat. Pokoknya nggak akan ada yang menggantikan Bumi lah. Lalu Allah juga sebenarnya telah menyediakan segalanya, SEGALANYA, yang manusia butuhkan untuk bisa bertahan hidup.

Hanya dengan menabur biji buah ke tanah misalnya, biji buah itu bisa tumbuh. Sehingga manusia bisa memenuhi hak tubuhnya. Tentu tumbuhnya biji tersebut dengan kehendakNya. 

Saking sayangnya Allah ke manusia, Allah ngasi kita akal untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dalam kehidupan. Serta Allah juga memberi kita hati agar pengetahuan yang sudah diolah dapat diimplementasikan dengan bijak.

Tapi manusia juga diberi nafsu yang penggunaanya harus bijak juga. Nafsu jika salah mengelolanya akan membuat kita menjadi Fir'aun. Oleh karenanya nafsu nggak boleh ada di depan πŸ˜‚. Bahaya.

Namun nafsu juga penting dalam kehidupan kita. Agar kita memiliki daya juang. Ada gairah untuk hidup. Tapi ya itu, nafsu harus diolah dengan bijaksana dan tepat.

Sulit memang, namun itulah nikmatnya hidup 😍.

Lalu apa hubungannya uraian di atas dengan Liziqi?

Karena Liziqi mengingatkan saya secara pribadi bahwa Allah itu sangat sayang sama manusia. Sehingga Allah menyediakan segalanya untuk manusia. 

Tapi kita butuh pengetahuan agar kita bisa mengelola Bumi dan seisinya dengan baik. Agar keseimbangan kehidupan di Bumi dapat terjaga.

Akan tetapi kehidupan modern telah memerosotkan moralitas kita. Bukannya menjaga Bumi, malah dieksploitasi. Udah gitu dijadikan tempat sampah pula 😭.

Ya Allah, dasar aku!!! Dzolimnya nggak karu-karuan terhadap apa yang Engkau ciptakan 😭😭😭

Alasan untuk tidak berasyik-masyuk dengan Bumi tuh banyak banget. Entah lelah lah, ada kerjaan lebih penting lah, kurang lahan lah dan segala macam. Padahal mah alasan utamanya adalah malas

Hu, dasar aku!!! Kebanyakan alasan.

Mengaku cinta kepada Allah. Tapi hanya sekedar menanam dan merawat tumbuhan aja rasanya berat sekali.

Cintamu palsu, Emiria!

Hu, dasar aku!!! Mengaku mengaji al-Qur'an. Padahal hanya dibunyikan saja. Tanpa ada penghayatan mendalam. 

Padahal Allah udah memberi tahu bahwa al-Qur'an diturunkan dengan kalimat berulang di dalamnya. Karena Allah tahu bahwa ciptaannya satu ini kudu dikasih tahu berulang kali biar paham. Tapi masih aja nggak paham. Sehingga masih sering dzolim.

Hu, dasar aku!!

Terima Kasih Liziqi
Dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Liziqi. Walaupun mungkin tulisan ini nggak akan pernah sampai dihadapannya. Walaupun sampai, doi juga belum tentu ngerti karena kita beda bahasa πŸ˜‚. #GeEr

Saya berterima kasih kepada Liziqi karena dia telah menyadarkan saya akan kuasaNya. Dia juga menjadi pengingat betapa pentingnya membangun konektivitas dengan alam.

Dia juga menunjukkan bahwa kita nggak perlu buru-buru untuk mengerjakan ini dan itu. Nikmati saja. Agar makna yang terkandung dari apa yang dikerjakan dapat kita temukan.

Lalu dia juga menunjukkan bahwa cara hidupnya seperti itu, insyaa Allah, lebih resilient dalam segala kondisi. Apalagi ketika ada wabah seperti sekarang ini. Mungkin jika daerahnya dia di lock down selama setahun juga dia bisa santai. Karena sumber makanan dan kebutuhan lainnya tinggal dia ambil di kebun atau hutan.

Sekalipun dia nggak punya uang juga nggak masalah. Tapi dia punya kebun yang luas, yang berisi makanan, bahan bumbu dan kebutuhan lainnya.

Karena punya uang banyak, tapi jika tidak ada pasar atau swalayan atau supermarket yang buka. Mau makan apa coba? Makan uang? πŸ˜‚

Kan ada go food?

Kan pasar tutup. Dagangnya mau beli dimana coba? πŸ˜‚

Ah, pokoknya terima kasih lah. Walaupun saya mungkin tidak akan bisa mencapai cara Liziqi. Tapi dengan menonton Liziqi seharusnya menginspirasi saya agar menjadi lebih baik. Serta memiliki kesungguhan untuk membangun kembali konektivitas dengan alam. Tentunya dengan mengikutsertakan Allah di dalamnya.

Semoga. Semoga.

#AkuMulaiLebay
#TulisanNggakJelasBlas

Post a Comment

0 Comments