Sereh


Sudah sejak lama saya minta ke Dana untuk mengurug sisa lahan yang hanya seupil depan kontrakan kami. Karena saya pingin banget bisa berkebun secara proper walaupun sisa lahannya hanya sedikit. Terus saya minta doi untuk mencari genteng bekas untuk mendinding keliling lahan tersebut.

Karena Dana nggak tahu tempat membeli genteng bekas. Lalu saya iseng bertanya ke tetangga sebelah kami, Pak Rosul, tempat membeli genteng bekas. Eh, alhamdulillah beliau ternyata punya sisa genteng bekas yang diletakkan di rumah kosong depan kontrakan. 

Alhamdulillah.

Nggak perlu otong genteng bekas jauh-jauh. Hihi

Kemudian pagi tadi setelah sholat subuh, akhirnya saya dan Dana mengeksekusi untuk mengurug si tiny garden. Tapi tadi pagi baru pasang gentengnya aja sih. 

Pasang gentengnya aja butuh effort banget, karena isi tanahnya akar melijo tok ๐Ÿ˜‚. Akhirnya yang terpasang masih 1 bidang saja. Sisanya besok, insyaa Allah.

Sembari pasang genteng dinding, saya juga mencabuti tanaman yang sudah ada. Agar mudah saat mengurug nanti. Salah satu yang kami cabut adalah tanaman sereh.


Saya takjub dengan sereh yang sudah beranak pinak ๐Ÿ˜. Awalnya saya hanya menanam 2 sereh. Namun yang satu mati dan yang tumbuh satunya lagi. Baru beberapa bulan saya menanam, anaknya sudah banyak banget.

Saya juga takjub dengan cara si sereh beranak pinak. Sepertinya dari lapisan sereh itu semacam membelah kemudian membentuk umbi baru. Gitu terus sampai beranak banyak. 

Maa syaa Allah ๐Ÿ˜ Karunia Allah luar biasa. 

Tiap kali melihat sereh yang saya tanam, seolah mengingatkan saya bahwa rejeki dari Allah ya seperti si sereh. Beranak pinak dan berlapis-lapis. 

Kadang kita nggak menyadari bahwa sebenarnya Allah udah ngasi rejeki yang berlapis-lapis. Namun seringkali yang dianggap rejeki adalah seperti pekerjaan, uang, harta benda dan sejenisnya.

Padahal badan yang sehat ya rejeki juga.

Pikiran yang sehat juga rejeki.

Bisa nafas lega setiap detik juga rejeki.

Bisa melihat dan mendengar juga rejeki.

Bisa makan dengan lega tanpa ada pantangan juga rejeki.

Bisa merasakan hangatnya matahari juga rejeki. 

Hujan dari langit juga rejeki.

Dan masih banyak lagi rejeki lainnya yang nggak disadari.

Terus kurang mudah apalagi coba? Allah sudah memberikan segalanya, tapi kita seringkali abai. Tiap hari berdo'a meminta dimudahkan rejeki. Padahal tiap detik rejeki dari Allah turun terus. Kurang loyal apa Gusti Allah kepada kita?

Sungguh Allah luar biasa dalam berkomunikasi dengan makhluknya. Luar biasa juga cara Dia mengingatkan manusia tentang kuasaNya. Ke Maha Besar annya.

Maa syaa Allah.

Allahu a'lam bishawab.

Post a Comment

0 Comments