Sebuah Konsekuensi


Sudah setahun ini saya mulai mengelola sampah rumah tangga saya sendiri. Mulai dari memilah sampah kering yang bisa masuk ke bank sampah. Minyak jelantah untuk disumbangkan. Sampah sayur dari dapur dan lain sebagainya.

Bagian paling menantang dari pilah dan olah sampah ini adalah sampah organik. Ternyata untuk mengelola sampah organik membutuhkan pengetahuan yang tidak sepele. 

Selain itu juga butuh komposter yang setidaknya memadai, walaupun sederhana. Sehingga pengolahannya akan lebih mudah.

Akan tetapi saat ini saya terkendala banyak hal. Seperti lahan sempit, komposter yang belum memadai, ketersediaan tanah dan sampah daun kering, dan banyak lagi lainnya. 

Saat ini saya masih sebatas menggunakan pot sebagai komposter. Penggunaan komposter pot tentunya sangat membantu untuk saya pribadi, walaupun tentunya masih belum yang memadai betul. Huhu. 

Namun setidaknya saya nggak buang sampah sayur via kang sampah deh.

Akan tetapi kondisi ini kadang membuat saya mengeluh. Apalagi ketika pot mulai penuh. Itu artinya saya harus memindahkan sampah dari pot ke karung. Tapi saat mindahinnya saya rasanya pingin nangeeesss.

Baunya itu lhoo. Ya Allah 😭😭😭😭😭 bikin saya pingin pengsaaaannn.

Sebenarnya sampah yang dikompos idealnya nggak akan bau. Selama cara, proses dan juga bahan yang digunakan tepat.

Lha ini saya banyak nggak menggunakan kaidah perkomposan yang benar. Sehingga saya harus menanggung konsekuensi kebauannya. Huft!

Tapi nggak apa-apa. Biar jadi pengalaman. Semoga selanjutnya bisa punya komposter yang lebih memadai. Biar nggak sambat terus akunya. Wkwkw. Padahal saya sendiri yang memilih untuk mengelola sampah saya sendiri. Hihi.

Selain itu, tantangan lain yang saya hadapi adalah gangguan tikus 😩😩😩. Kadang tikus ini tuh suka ngebolongin karung komposan saya. Ya Allah, rasanya pingin saya bedil itu tikus. Tapi saya nggak punya bedil. Jadinya cukup merasa ingin saja. Wkwkwk. #ApaSih

Namun dibalik itu semua, saya merasa beruntung memiliki support system yang selalu mendukung saya. Siapa lagi kalau bukan suami saya yang ter ter ter ter daaahh 🤣.

Alhamdulillah.

Semoga ikhtiar mengelola sampah sendiri terjaga keistiqomahannya. Biar nggak nambah sampah di TPA euy. Kasihan bapak tukang sampahnya pasti kebauan. Huhu.

Post a Comment

0 Comments