Logika


Pernah suatu hari seorang teman update status di WA storynya. Kurang lebih bunyinya seperti ini : "Logika adalah akal sehat yang terjajah hawa nafsu". Karena saya penasaran, lalu saya memberi komen, "Maksudnya apa?".

Kemudian si teman menjelaskan, tapi saya masih nggak paham juga. Lalu si teman meminta saya untuk menanyakan hal tersebut ke teman yang lain. 

Si teman yang lain sudah menjelaskan, bahkan memberi rekaman diskusi terkait pernyataan tersebut. Tapi saya masih juga nggak paham ๐Ÿคฃ. Hu, lemot deh aku!

Akhirnya saya berpikir, "Ya sudahlah. Kalau belum ngerti juga berarti belum waktunya untuk mengerti". ๐Ÿคฃ #Alasan

Sampai pada suatu hari, saya menonton vlog seorang artis. Pada vlog wawancara tersebut, si artis menyampaikan pernyataan jujur tentang masa lalunya, masa lalu istrinya dan juga terkait kehamilan istrinya di luar pernikahan.

Dia menceritakan soal itu dengan sangat santai.  Menurut saya sih ya iya sih bener harus jujur, tapi gimana ya reek. Itu kan aib banget. Nggak harus diungkapkan pada khalayak ramai juga ๐Ÿ˜‚. 

Jujur memang harus, tapi ada kejujuran yang tidak harus diungkapkan ke khalayak ramai. Khawatirnya nanti pemikirannya dia malah dijadikan pembenaran umum ๐Ÿคฃ.

Lalu saya coba menonton videonya yang lain. Saya melihat hampir kebanyakan videonya berisi tentang pernyataan pembenaran persepsinya ๐Ÿ˜‚. Hal ini membuat saya kurang respek gitu ke dia. 

Terus kapan lalu saya menonton video Cak Nun. Dalam video tersebut Cak Nun berkata, "Kita ini pandai berkata tapi tidak pandai berbahasa".

Lalu saya mencoba mengkorelasikan pernyataan Cak Nun, vlog si artis dan status si teman soal logika. Aha, sepertinya saya menemukan jawaban soal makna logika.

Dasar Penalaran
Jadi begini, pemaknaan logika ini sangat mudah dipahami dari perspektif kebenaran. Pada dasarnya kebenaran itu terbagi menjadi 3 yaitu kebenaran yang berasal dari Allah langsung, kebenaran diri sendiri, kebenaran kelompok.

Kebenaran yang sudah pasti benar tentunya yang berasal dari Allah langsung. Sedangkan dua kebenaran lainnya hanyalah persepsi yang dibuat manusia sendiri.

Nah, kebenaran dari diri dan kebenaran kelompok itulah yang disebut sebagai logika. 

Kenapa bisa begitu?

Kita balik ke contoh si artis tadi. Ya benar sih dia nggak mau munafik, lebih memilih jujur kalau dia menghamili istrinya sebelum sah. Kejujurannya itu memang benar dan apa yang dia lakukan memang benar adanya seperti itu.

Namun dia juga berdalih walaupun dia sudah menghamili istrinya diluar nikah, tapi dia bertanggung jawab. Bahkan dia menafkahi istrinya dengan baik. Menjaga istrinya dengan baik. 

Lalu dia membandingkan dirinya dengan orang lain yang hamilnya setelah sah, tapi kadang ditelantarkan. 

Kalau begini ceritanya kan dia melakukan pembenaran dan mencari pembelaan.

Saya pribadi menghargai kejujurannya dan sangat menghargai tindakan tanggung jawabnya. Akan tetapi menyampaikan aib di hadapan publik, lalu membuat pembelaan diri, menurut saya ya nggak pantas juga.

Silakan saja jika ingin menceritakan hal tersebut secara blak-blakan. Akan tetapi biarlah cerita tersebut hanya untuk konsumsi kalangannya sendiri. Bukan konsumsi publik.

Lha nanti kalau malah dicontoh gimana?

Ya, benar sih salahnya yang mencontoh. Tapi ada baiknya dirinya sebagai public figure, pengguna sosial media aktif, dan terkenal tidak membongkar aibnya di ranah publik. Mana itu video juga akan bertengger lama di sosial media ๐Ÿ˜….

Nah, itulah yang disebut dengan logika. Dia emang mikir pake otaknya, tapi hasil pemikiran yang dia utarakan itu adalah pemikiran yang disertai hawa nafsu. Terlalu mengumbar dan hanya merupakan pembenaran diri.

Lalu apa kaitannya dengan pernyataan Cak Nun?

Nah, kita bisa telusuri dari si kata logika itu berasal. Asal sebuah kata akan mempengaruhi pemaknaannya. 

Mungkin akan ada yang bertanya, "Memang kondisi akal yang sehat itu seperti apa sih?".

Sependek yang saya tahu, akal yang sehat adalah akal yang bebas dari duga sangka dan selalu melibatkan Allah di dalamnya.

Karena di al-Qur'an juga nggak ada kata logika. Yang ada hanyalah akal atau mungkin berpikir. Itupun orang berakal dengan orang berpikir maknanya bisa jauuhh banget.

Nah lho? Tambah pusing kan?

Saya juga ๐Ÿคฃ

Apa dong kata yang bisa digunakan untuk menggantikan kata logika?

Bisa menggunakan kata nalar atau dalam bahasa inggris : make sense.

Dah ah! Saya hanya ingin menuangkan pikiran biar nggak penuh. 

Tenang aja, saya juga masih sering berpikir dengan logika. Belum sampai dengan akal sehat. Soalnya saya sendiri juga masih berjuang mengendalikan hawa nafsu biar nggak bodoh terus ๐Ÿ˜‚.

Ah ya, apa yang saya tulis juga belum tentu benar ya teman-teman. Bisa jadi tulisan saya ini bersumber dari hawa nafsu semata. Bukan akal sehat saya. Hihi

Allahu a'lam bishawab.

Post a Comment

0 Comments