Huft!


Sebenarnya bingung mau nulis apaan. Ada banyak hal yang berkecamuk dipikiran. Apalagi di masa periode pandemi saat ini. Bikin pikiran rasanya lari-larian ke sana kemari 😂.

Entah kenapa pagi ini tiba-tiba terpikirkan tentang uang yang berkaitan dengan si Coro. Ya, si makhluk super-super-super kecil yang lagi hits di jagat raya saat ini. Ketenarannya mengalahi artis siapapun. Haha.

Setelah membaca sebuah berita tentang sebuah lembaga keuangan yang akan menggelontorkan pinjaman untuk negara terdampak Coro. Saya merasa, kehadiran si Coro juga nggak jauh-jauh lah dari soal keuntungan demi keuntungan.

Kita mungkin menyadari bahwa kehidupan ini nggak jauh-jauh dari uang. Semua serba uang. Butuh ini harus punya uang. Butuh itu harus punya uang. Agar sekedar tidak kelaparan, harus punya uang. Semua harus menggunakan uang. Seolah kreativitas kita terhenti akibat makhluk bernama uang.

Ya, ya. Saya juga mungkin nggak bisa kok hidup tanpa uang. Nanti makan apa coba?! Dan ya, saya salah satu orang yang kehilangan kreativitas tersebut untuk hidup.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Kegiatan ekonomi seolah mandeg. Para pedagang kesepian pembeli, karena pembeli takut keluar rumah akibat dihantui Coro. Begitu pula para kang ojek kesepian pengorder. Perekonomian melemah. Pertanyaan "besok bisa makan apa?" terus berkelebat dipikiran banyak orang. Terutama mereka yang penghasilannya datang harian.

Tentu mereka tidak bisa disalahkan. Karena memang kita hidup di era serba uang. Sehingga saya berpikir, "Adakah cara hidup yang nggak harus selalu bergantung dengan uang? Terutama saat masa pandemi seperti ini?".

Tentu ada. Yang paling mendasar adalah tentunya bergantung pada Allah semata. Namun bukan berarti hanya mengingat Allah tapi tidak ada ikhtiar untuk tetap hidup. Melainkan segala ikhtiar yang kita lakukan perlu lah selalu mengikutsertakan Allah.

Namun kenyataannya selama ini, apakah kita sudah mengikut sertakan Allah dalam tiap sendi dan detik kehidupan kita? Karena disadari atau tidak, peran Allah sering dipisahkan dengan banyak hal dikehidupan kita. Apalagi soal penghidupan.

Padahal siapa lagi yang memberi rezeki kalau bukan Allah?

Siapa lagi yang paling mampu menjamin hidup manusia kalau bukan Allah?

Ya, saya rasa kehadiran Coro ini adalah untuk menampar umat manusia. Bahwa selama ini manusia tanpa sadar telah menjadi "sekuler". Melupakan Allah pada tiap detik dan sendi kehidupan. Namun datang kepada Allah ketika sedang butuh.

Allah mengingatkan kita melalui Coro bahwa Dia lah satu-satunya tempat berharap, bersandar dan meminta. Dia lah satu-satunya yang paling mampu memberikan rezeki kepada manusia. Namun nyatanya manusia seringkali lupa kan dengan Allah? Lupa mengikutsertakan Dia pada tiap apapun dalam hidup ini.

Ya, termasuk saya. Yang sering dzolim dan lupa kepada Allah. Huft, dasar aku!

Nah, apa hubungannya dengan uang?

Saya merasa kok uang itu hadir sebagai bentuk menantang Tuhan ya?

Eh, maksudnya gimana?

Jadi begini.

Dalam kondisi pandemi parah  begini, tentu kita nggak bisa memungkiri bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Hal ini selanjutnya akan mempengaruhi kondisi keuangan keluarga. Tentunya juga akan mempengaruhi isi perut, kesehatan fisik, kesehatan mental dan lain-lain.

Dalam kehidupan modern ini, semua itu membutuhkan uang untuk memenuhinya. Tapi jika tidak ada uang, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan dasar soal pangan?

Nah, si pembuat uang seolah menantang mereka yang percaya pada Tuhan. Seolah si pembuat uang berkata, "Mana Tuhan yang katanya akan membantumu?"

"Mana Tuhan yang katanya akan mencukupkan kebutuhanmu?"

"Katanya Tuhan bisa memenuhi kebutuhanmu. Tapi saat terpuruk seperti ini. Tuhan tidak juga datang membawakanmu makanan".

Huft, kemudian mereka tertawa melihat orang-orang yang percaya Tuhan terseok-seok. 

Huft!

Disinilah keimanan kita diuji. Akal kita, hati kita, nafsu kita diuji oleh makhluk bernama uang. Ketambahan lagi oleh makhlul bernama Coro.

Allahu a'lam bishawab.

Rasa-rasanya memang kita perlu menepi. Mengunjungi ruang sunyi. Merenungi segala dosa yang kita perbuat. Kesalahan apa yang telah kita buat. Kebodohan jenis apa yang sudah kita lakukan.

Momen self lockdown saya rasa bisa kita jadikan sebagai momen untuk kembali ke Allah. Membangun konektivitas denganNya setelah lama tak terhubung. Merasakan kembali kehadiranNya. 

Namun yang menjadi tantangan adalah ketika pandemi berakhir. Akankah kita masih mengingatNya setelah bencana berlalu?.

Astagfirullah.

Tentunya tulisan di atas hanyalah pemikiran saya semata. Kebenaran hanya milik Allah. Saya hanyalah manusia remeh temeh yang masih dalam ranah duga sangka. Mohon maaf jika ada yang salah. Tegur saya jika saya keliru 🙏.

Sorry-sorry juga ini tulisan kenapa banyak nggak nyambungnya yak 🤣. Dah ah, balik kanan. Grak. Majuuu jalan!


Post a Comment

0 Comments