Melegakan Rumah, Hati dan Pikiran Melalui Metode Konmari


Holaa, Makgaeess. 
(Gegara seorang teman di kelas Bunda Sayang, Ibu Profesional. Saya jadi ikutan bilang makgaes. Wkwk)

Saya rasa pasti sudah banyak yang tahu tentang metode Konmari. Itu lho seni beberesan rumah yang lagi hits, yang diusung oleh Mbak Kondo Marie dari Jepang itu.

Pertama kali saya mengenal tentang metode Konmari ini sekitar akhir tahun 2017. Waktu itu saya baru aja menikah, masih tinggal di rumah kosan dengan kamar seadanya dan tentunya lemari hanya 1. Ukurannya kecil pula dan harus digunakan untuk berdua. Sehingga saya mengatur strategi agar pakaian kami cukup dalam 1 lemari.

Awalnya saya masih ikut cara di video lifehacks gitu. Kemudian suatu ketika saya scroll down Facebook, seorang teman bercerita tentang decluttering dan me-mention nama metode Konmari. Tanpa pikir panjang langsung saya telusuri tentang Metode Konmari. 

Setelah membaca artikel dan melihat-lihat cara melipat pakaian ala Kondo Marie, saya pun tertarik untuk menerapkannya. Langsung deh hari itu mumpung suami masih kerja, saya keluarkan semua isi lemari pakaian. Kemudian mulai melipat ala metode Konmari.

Setelah selesai, semua beres, rasanya langsung puas dan lega banget. Maa syaa Allah. Tiap kali buka lemari rasanya langsung bahagia banget gitu. Ada yang mengalami hal yang sama dengan saya?

Isi lemari pakaian benar-benar jadi rapi banget. Selain itu mau ambil pakaian juga nggak khawatir ada lipatan yang tergeser. Metode ini benar-benar recommended banget. Jujur aja, saya nggak pernah sebahagia itu ketika membuka lemari pakaian. Wkwk. Lebay ya?!

Idealnya lemari pakaian yang disarankan adalah menggunakan drawer. Namun karena lemari yang ada di kosan ya hanya lemari biasa dengan 2 pintu. Maka saya mensiasati dengan cara saya saja. Namun cara melipat dan menyusun pakaiannya tetap menggunakan kaidah Konmari. 

Semenjak hari itu saya langsung jatuh cinta dengan metode ini. Karena bisa bikin sebahagia itu hanya karena  melihat isi lemari pakaian yang rapi pake banget. Wkwkwk. Tapi saya pribadi belum berkonmari secara total sih. Namun setidaknya saya memulai dari apa yang saya bisa.

Bagaimana Memulainya?
Bhaique~
Saya akan bercerita menurut pengalaman pribadi saya ya. Pertama kali saya memulai metode Konmari ini dari isi lemari pakaian. Pertama-tama saya belajar terlebih dahulu bagaimana melipat pakaian ala Konmari. Baru deh saya mengeksekusi isi lemari saya. 
Melipat dan menata sesuai kaidah Konmari

Namun ternyata langkah yang saya ambil keliru. Menurut bukunya Marie Kondo yang berjudul
The Life-Changing of Tidying Up, yang pertama kali harus dilakukan adalah decluttering secara menyeluruh. Sedangkan saya melakukan decluttering setelah pindah dari rumah kosan ke rumah kontrakan. Wkwk.

Tapi nggak apa-apa lah menurut saya. Karena saya mencoba untuk menemukan saripatinya kemudian menerapkan sesuai kondisi. Tsaaahh. Pembelaan diri ini mah yaaa..

Menurut Mbak Marie untuk memulai decluttering dan merapikannya, kumpulkan dulu barang-barangnya sesuai kategori barang tersebut.

Misalnya nih dimulai dari pakaian. Kumpulkan semua pakaian yang ada di rumah. Kemudian pilah mana pakaian yang membuat diri bahagia setiap melihatnya, menyentuhnya dan menggunakannya. Karena pasti di rumah kita ada banyak sekali pakaian yang dibeli karena pingin, tapi jarang digunakan. Lalu ada pakaian yang sudah jadul namun tidak di declutter. Ya nggak?

Nah daripada harus menumpuk barang yang jarang bahkan nggak dipakai. Lebih baik disedekahkan jika masih layak. Bagaimana jika sudah tidak layak? Sependek yang saya tahu ada komunitas yang mau menerima, namanya kekno klambimu. Tapi bukan berarti mereka ‘tempat sampah’ lho ya.

Pada dasarnya memulai untuk berkonmari ini cukup mudah kok. Asalkan punya niat yang kuat untuk memilah mana yang butuh, mana yang sekedar ingin, mana yang membahagiakan, mana yang kesenangan sesaat.

Prinsip yang harus dipegang ketika melakukan decluttering menurut Mbak Marie adalah jangan fokus pada apa yang akan dibuang. Namun fokuslah pada apa yang hendak disimpan. Hal ini karena jika kita fokus pada apa yang dibuang malah bikin kita nggak bahagia. Begitu.

Setelah dari lemari pakaian, saya melakukan decluttering pada benda-benda sentimentil. Benda sentimentil ini seperti benda-benda penuh kenangan gitu lah pokoknya. Awalnya saya menyimpan benda sentimentil ini dalam box container. Kemudian secara perlahan saya coba longsorkan ke orang lain biar lega.

Alhamdulillah setelah benda sentimentil diikhlaskan, box container jadi lengang. Sehingga saya bisa manfaatkan untuk meletakkan mukenah, sarung dan sajadah.

Setelah itu saya declutter benda-benda lainnya seperti headset yang sudah rusak, gelas yang tidak terpakai, tas, kertas-kertas dan lain sebagainya. Sehingga barang-barang yang ada di rumah adalah barang yang pasti dipakai dengan intensitas yang sering. 

Lalu saya bawa kemana barang-barang yang di declutter?

Sebelum melongsorkan barang-barang tersebut saya melakukan pemilahan terlebih dahulu. Mana barang yang bisa disumbangkan dan mana barang yang bisa diberikan kepada bapak rombengan. Rasanya lega banget lah sudah ngerombengin 2 karung lebih. Wkwkwk.

Hmm, tapi ada 1 kategori barang yang sulit untuk saya declutter yaitu buku. Wkwkwk. Ini sih dilema banyak mamak-mamak ya. Apalagi yang punya buku macam Halo Balita, Nabiku Idolaku, Wow Amazing Series, udah pasti nggak bakal di declutter deh. Karena masih bisa dipakai untuk adek-adeknya nanti. Wkwkwk.

Buku best seller Halo Balita

Bagi saya buku-buku yang saya miliki adalah harta warisan untuk anak-anak saya. Makanya saya nggak akan mau
declutter. Soalnya saya kan pemilih banget kalau beli buku. Heuheu 

Apa Prinsip Metode Konmari?
Kalau dari apa yang saya pelajari secara otodidak tanpa ikut komunitasnya. Saya menyimpulkan bahwa metode Konmari ini mengajak kita untuk memaknai dan menghargai setiap barang yang kita miliki. Oleh karenanya nih, Marie Kondo menyarankan ketika melakukan decluttering dan memutuskan untuk menyingkirkan barang tertentu, ucapkanlah terima kasih kepada barang tersebut.

Ya, memang sih barangnya nggak bisa mendengar ataupun nggak bisa merasa. Namun bagi Mbak Marie mengucapkan terima kasih kepada barang sebelum berpisah adalah bentuk dari apresiasi pemanfaatan barang tersebut. Sehingga kita nggak akan merasa berat hati untuk melepaskannya.

Kemudian menata dan meletakkan barang dengan baik pun adalah bentuk apresiasi atas keberadaan barang tersebut. Sehingga menurut Mbak Marie kita nggak bisa menata barang hanya sekedar dilihat dari estetikanya juga. Namun bagaimana kita memaknai kehadiran benda tersebut dan benda tersebut memberikan kebahagiaan bagi kita. Oleh karenanya tagline dari Mbak Marie adalah Spark Joy.

Lalu setelah membaca bukunya, saya merasa Mbak Marie ini islami sekali ya. Wkkwkwk. Memang sebenarnya Mbak Marie tidak melarang untuk memiliki ini dan itu. Akan tetapi milikilah barang yang sudah pasti terpakai, membahagiakan dan mengandung makna. Ya anggap saja ini adalah ajakan zuhud 4.0. Xixixi.

Apa Efek Samping Metode Konmari?
Semenjak mempraktikkan metode Konmari ini. Saya merasa mendapatkan banyak sekali efek samping positifnya. Apa aja sih efek sampingnya? Kuy disimak biar tertular. Wkwkwk

Gaya Hidup Berubah
Entah ya, semenjak saya mencoba mempraktikkan metode Konmari, saya merasa hal ini membawa perubahan pada gaya hidup. Mulai dari mengurangi membeli barang yang sekedar ingin sampai mempengaruhi pola konsumsi agar bisa less waste

Sehingga saya mulai bisa mengendalikan diri terhadap segala jenis diskon. Kecuali diskon buku. Wkwkwk. Duh ini berat bagi orang yang mikirnya, beli aja dulu baca kemudian. Wkwkwk.

Metode ini benar-benar mengubah mindset saya yang mana dengan memiliki barang sesuai kebutuhan maka saya akan mengurangi barang yang terbuang. Begitu juga dengan pola konsumsi. Sehingga saya termasuk yang mulai jarang beli cemilan agar nggak ruwet mengurusi sampah plastiknya. Wkwkwk. Lalu saya beralih dengan nyemilin buah. Heuheu.

Kan lumayan ya bisa sekalian mengembalikan diri untuk seimbang dengan alam.

Keuangan Aman Terkendali
Karena gaya hidup berubah tentunya akan memberikan efek yang super positif terhadap keuangan. Sekalipun ada super big sale pun, saya masih bisa mengendalikan diri. Heuheuheu. Karena ternyata untuk melakukan perubahan memang perlu untuk menyentuh hati dan pikiran terlebih dahulu. Hihi.

Selain itu alhamdulillahnya di akhir bulan masih ada aja sisa uangnya. Yah, lumayan lah ya bisa buat ikutan arisan Nabiku Idolaku. Tabung aja dulu bukunya dari sekarang biar kalau sudah punya anak nanti sudah ada yang bisa dibaca. Xixixi. 

Nabiku Idolaku

Ringan Saat Bebersihan Rumah
Ini tuh bagian yang nggak kalah menyenangkannya dari praktik metode Konmari. Jadi ceritanya saya sudah 2x pindahan selama tinggal di Sidoarjo. Rumah kontrakan saya yang pertama tuh sudah ada barang si pemilik kontrakan. Rasanya tuh tiap hari waktu saya banyak terkuras untuk membersihkan rumah dan perabot. Karena bagaimanapun saya harus menjaga perabot si pemilik kontrakan ya.

Kemudian saya pindah kontrakan lagi ke rumah yang kosong melompong. Sehingga saya harus membeli beberapa perabot seperti kasur dan lemari pakaian. Kemudian saya declutter lagi barang-barang yang sempat terpendam dalam kardus. Lalu menata semua barang dengan efisien dan efektif.

Karena kondisi kontrakan yang lebih lega dan juga penataan barang yang nggak bikin harus bolak balik dibersihkan. Kegiatan bersih-bersih rumah pun nggak memakan waktu banyak dan membahagiakan. Udah gitu kalau mau bersih-bersih jadi mudah banget. Hihihi.

Saya berkesimpulan bahwa ternyata hidup dengan sedikit barang tuh benar-benar melegakan dan membahagiakan banget. Alhamdulillah

Kebahagiaan Bertambah
Pernah suatu hari saya sharing tentang metode ini di WA story. Kemudian ada teman yang penasaran dengan metode ini lalu doi pun kepo-kepo dan mempraktikkan metode Konmari. Setelah beberapa minggu, doi ngejapri saya bilang bahwa momen melipat pakaian dan menatanya di lemari adalah momen yang paling dia tunggu. Wkwkwk.

Ternyata dia pun merasakan hal yang sama setiap kali membuka lemari pakaian. Ya ampun, bahagia bisa sesederhana itu ya makgaes!

Tentunya dengan bertambahnya kebahagiaan menjadi hal yang patut saya syukuri karena ini adalah bonus dari sebuah usaha ya. Saya senang karena metode ini telah memberikan perubahan yang bermakna terhadap diri saya.

Alhamdulillah ya, bersyukur karena ada manusia yang mampu mengubah mindset banyak orang tentang kepemilikan barang. Walaupun sebenarnya metode ini bukan barang baru juga sih. Karena sejatinya konsep hidup seperti ini sudah lebih dulu dilakukan oleh nenek moyang kita. 

Tapi namanya manusia ya kadang kudu membuka sekian banyak pintu dan melalui sekian banyak jalan untuk tersadar. Hihi.

Bhaiquelah~

Sekian ngecepret saya kali ini. Semoga pembaca yang baik hati mendapatkan manfaatnya. Jika ada teman-teman yang memiliki pengalaman berbenah menyenangkan, share yuk di kolom komentar.

Post a Comment

4 Comments

  1. Aku juga udah memulai dikit-dikit menerapkan metoda konmari ini mbak. hasilnya tiap liat isi lemari jadi lebih lega dan ngak sumpek.

    ReplyDelete
  2. Aku termasuk tim gagal metode KonMari, haha.. sempat rapi beberapa waktu, tapi ketombe balik lagi... eh, balik berantakan lagi maksudnya. Tapi banyak poin-poin yang ku adopsi dari metode KonMari, meski belum bisa 100%. Yang paling kuingat adalah, trik menyembunyikan barang milik orang lain sebelum membuangnya. Misal, celana jins sobek2 suami. Kadang sukses, tapi pernah gagal juga.. sebelum sempat declutter, sudah ketauan... hahaha.. masuk lagi deh ke lemari.
    Tapi memang bener, hidup dengan hanya sedikit barang tapi bermanfaatjauh lebih tenang ketimbang hidup dengan banyak barang yang sudah tidak terpakai. InsyaAllah mau belajar lagi metode KonMari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwk, aku juga nggak menerapkannya 100%. Pokoknya bisa nemu esensinya aja deh. Biar nggak sambatan amat akunya gegara rumah berantakan.

      Selain itu juga pas bersih2 jadi lebih cepet dan asique semenjak menerapkan konmari
      Hihi

      Delete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊