Peringatan yang Selalu Diabaikan


Hampir setiap tahun, beberapa kota di Indonesia mengalami banjir ataupun tanah longsor. Peristiwa alam sejenis ini -menurut saya- tidak bisa disamakan seperti gempa bumi, gunung meletus maupun tsunami.

Gempa bumi, gunung meletus maupun tsunami terjadi karena menjadi bagian dari proses ilmiah alam. Sedangkan  banjir dan longsor sedikit banyak terjadi karena ada campur tangan manusia.

Coba sesekali kita renungi, apa yang sudah kita perbuat terhadap saudara tua kita yaitu alam raya ini. Banjir tidak akan terjadi secara dahsyat jika kita mengelola alam sesuai fitrahnya. Begitu Pula longsor tidak akan terjadi jika kita memahami fitrahnya.

Peringatan melalui peristiwa alam ini selalu terjadi hampir setiap tahun. Tapi seringkali kita abai terhadap datangnya peringatan tersebut.

Kemudian kita ribut membully pemimpin daerah karena lidahnya yang keseleo. Seolah-olah yang salah adalah pemimpin daerah itu saja.

Tapi pernahkah kita mencoba menyalahkan diri kita sendiri?

Ah, manusia mana yang mau menyalahkan dirinya.

Padahal kita sebagai rakyat juga sering abai terhadap alam. Lupa caranya bermesraan dengan alam.

Coba saja lihat orang-orang di jalan, membuang sampahnya sembarangan. Bahkan kadang ada yang membuang sampahnya secara enteng ke  sungai. Jangankan sampah ukuran kecil, sampah ukuran besar pun dibuang ke sungai. Seperti kasur dan lainnya.

Dzolim kan?

Itu baru secuil perilaku-tak-pantas. Masih banyak lagi perilaku-tak-pantas yang sudah kita lakukan sebagai manusia.

Padahal kita memiliki tugas yang mulia yaitu sebagai khalifah fil 'ardh. Kita juga diberikan hak prerogatif untuk mengelola bumi ini. 

Namun apa yang sudah kita lakukan terhadap bumi?

Alih-alih berkasih sayang, kita malah memperkosanya secara tak wajar.

Kita hanya menganggapnya seolah seperti benda mati. Padahal bumi juga benda hidup dengan caranya. Sudah seyogyanya kita memperlakukannya seperti makhluk hidup.

Mau sampai kapan sih kita sadar bahwa kita telah berkontribusi atas sakit bumi yang tak berkesudahan ini?

Sampai bumi terbakar oleh panasnya matahari?

Toh kalau kita tahu caranya memperlakukan bumi, dampak baiknya juga kita yang rasakan. Tapi karena kita berlaku sebaliknya, maka kita juga yang menanggung akibatnya.

Yuk lah kita mulai melakukan refleksi. Dosa apa saja yang sudah kita lakukan terhadap bumi ini? Apa yang sebaiknya kita lakukan untuk setidaknya memulihkan sakit si bumi?

Walaupun langkah sederhana, namun jika dilakukan bersama insyaa Allah dampaknya akan terasa bukan?

Post a Comment

0 Comments