Belajar dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz


Uhuk! Bikin kalimat pembuka selalu menjadi tantangan bagi saya. Sebenarnya banyak sekali tips-tips bikin kalimat pembuka yang bagus banget, tapi saya pribadi masih belum serius mempelajarinya. Wkwkw. Dasar aku, memang suka setengah-setengah kalau belajar. Huhu..

Bhaiquelah ~

Kali ini saya mau ngecemes perihal hasil mantengin Ngaji Filsafat tentang Umar bin Abdul Aziz. 

Sebenarnya saya sudah beberapa kali menyimak kajian perihal ini di channelnya MJS Channel. Tapi baru kali ini yang benar-benar serius nyimak sambil mencatat. Kan katanya ikatlah ilmu dengan tulisan. Biar apa yang sudah dipelajari bisa merasuk hingga sum-sum tulang. Heuheu. Insyaa Allah.

Jadi keseluruhan isi dari tulisan ini ya dari Ngaji Filsafat. Sehingga kalau mau dengerin langsung kajiannya monggo, mau lanjut baca tulisan ini juga monggo mawon. Mugi bermanfaat. Hahah 

Hal yang menarik minat saya terhadap Umar bin Abdul Aziz karena beliau berhasil menyejahterakan rakyatnya hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun. Bayangin aja tuh kurang dari 3 tahun rakyatnya jadi sejahtera, tata tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi. Wkwwk.

Coba aja sih cari pemimpin jaman now yang mampu menyejahterakan rakyatnya dalam waktu kurang dari 5 tahun. Pasti susah banget ya dicari, yang ada malah isinya kebanyakan didemo, protes dan lain, akibat kepemimpinan yang tidak dibarengi dengan kebijaksanaan dan keadilan. Hmm...

Oleh karenanya kenapa kok penting banget buat belajar dari pemimpin sukses macam Umar bin Abdul Aziz, biar kita tahu bagaimana mendidik anak-anak kita agar bisa menjadi pemimpin yang baik di masa depan. Ya walaupun nantinya mereka tidak menjadi pemimpin sebuah negara atau daerah, paling tidak bisa menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri dan keluarganya.

Selain itu Umar berhasil menjadi pemimpin yang sukses pada usianya yang terbilang masih sangat muda yaitu kurang dari 40 tahun. Akan tetapi, Umar meninggal juga di usianya masih muda akibat diracun oleh pembantunya atas suruhan orang lain. Bahkan Umar tahu kalau pembantunya disuruh untuk meracuni beliau sehingga beliau meminta pembantunya untuk pergi yang jauh agar pembantunya tidak dijatuhi hukuman.

Awal Mula Terpilihnya Umar bin Abdul Aziz
Pada awalnya Umar adalah Gubernur Madinah yang memiliki gaya hidup mewah. Akan tetapi gaya hidup Umar berubah 180 derajat setelah menjadi khalifah. Terpilihnya Umar sebagai khalifah adalah untuk menggantikan khalifah sebelumnya yaitu Khalifah Sulaiman. Akan tetapi Umar tertunduk lesu ketika mengetahui dirinya terpilih sebagai khalifah. Bahkan Umar menangis karena hal tersebut karena merasa tidak menginginkan jabatan tersebut.

Hmm..
Umar aja lho langsung menangis karena terpilih menjadi pemimpin. Karena beliau tahu bahwa menjadi pemimpin sebuah negara itu nggak mudah. Hisabnya gede chuy di akhirat. Beda dengan sekarang, orang berlomba-lomba menjadi pemimpin bahkan rela mengeluarkan duit yang besar. Nggak hanya ditingkat pusat, lha wong jadi kepala desa aja berani sikut-sikutan kok. Hihi..

Umar merasa berat untuk menjadi khalifah karena harus melanjutkan kepemimpinan Rasulullah dan itu berat bagi beliau. Akhirnya beliau mencabut bai’at tersebut dan meminta rakyat untuk memilih pemimpin siapa saja yang mereka inginkan. 

Namun ternyata para rakyat tetap menginginkan Umar menjadi khalifah. Sehingga mau nggak mau Umar harus menjalankan amanah tersebut. Walaupun bagi beliau berat untuk menjalankannya. 

Dari sikap Umar tersebut, poin penting yang bisa kita ambil hikmahnya bahwasanya untuk menjadi pemimpin itu janganlah berambisi. Karena ambisi bisa membuat kita dikuasai oleh hawa nafsu sehingga membuat kita menjadi tidak bijak dalam menjalankan amanah tersebut.

Nasihat Hasan Bisri Kepada Umar bin Abdul Aziz
Setelah Umar terpilih menjadi khalifah, Umar langsung mendatangi seorang ulama bernama Hasan Bisri. Beliau adalah salah seorang sufi yang terkenal dengan kezuhudannya. Hasan Bisri memberikan nasihat kepada Umar bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus adil

Seperti apa pemimpin yang adil itu?
Pemimpin yang adil itu membetulkan yang bengkok, meluruskan yang miring, memperbaiki yang rusak, menguatkan yang lemah, membela yang teraniaya, menolong yang terlantar, ngemong rakyatnya, pelindung bagi anak yatim, mendidik dan mengasuh anak yatim, dan menjadi bendahara bagi fakir miskin.

Selain itu Hasan Bisri juga berpesan untuk mendengarkan nasihat ulama dan para orang pintar. Orang pintar yang dimaksud bukan dukun lah yau. Bahaya kalau malah datangi dukun. Wkwkw.

Poin penting yang perlu diperhatikan pada sub bab ini bahwa Umar mendatangi Hasan Bisri (ulama) untuk meminta nasihat. Maksudnya adalah datangilah ulama setelah menjadi pemimpin dan datangi rumahnya. Bukan dengan mengundangnya datang ke istana. Karena biasanya kan banyak calon yang mendatangi ulama sebelum terpilih tuh. Biasalah pencitraan, namanya juga manungso. Namun datangi ulama setelah terpilih, tapi janganlah hanya sekali saja.

Selain itu nasihatnya juga direnungkan dalam-dalam dan diejawantahkan. Karena nggak bisa dipungkiri ya banyak pemimpin yang datangi ulama tapi nasihatnya nggak benar-benar diejawantahkan. Ya lagi lagi namanya juga manungso

Karakter Umar bin Abdul Aziz sebagai Pemimpin
Karakter yang dimiliki oleh Umar sebagai khalifah -menurut saya- benar-benar luar biasa sih. Karakter ini menurut saya penting ya untuk dimiliki oleh siapapun walaupun tidak menjadi pemimpin sebuah bangsa. Karena bagaimanapun, sejatinya, setiap manusia harus bisa menjadi pemimpin yang adil dan bijak untuk dirinya sendiri. Ya masak tho kita mau disetir hawa nafsu terus. Tahu kan rasanya disetir hawa nafsu itu nggak enak banget.

Ya.. yaa.. yaaa..
Saya termasuk yang sampai saat ini masih disetir hawa nafsu khwookk... Makanya akutuh masih suka galau kalau dipanggil Emir. Soalnya Emir itu khaann artinya pemimpin. Lhaaa yang punya nama masih belum bisa jadi pemimpin yang baik buat dirinya sendiri. Tapi nggak apa-apa lah, saya anggap sebagai do’a ya makgaaaeeesss..

Sekurang-kurangnya ada 9 karakter yang dimiliki oleh Umar yang bisa kita pelajari, renungi dan kita latih agar terejawantah dengan baik. Insyaa Allah... 

Takut Kepada Allah
Hmmm.. . nyam...nyam...nyam...
Menurut saya ini karakter yang nggak mudah banget untuk diejawantahkan. Karena kadang saya pribadi ya masih sering jadi manusia pongah seolah-olah Allah nggak pasang cctv buat mengawasi. Huhu. Bijimanalah hamba bisa jadi orang tua yang baik nantinya kalau masih suka ‘menantang’ Allah? Padahal cita-cita utama adalah menjadi orang tua terbaik. Haha..

Yups, karakter utama sebagai pemimpin adalah takut kepada Allah. Umar bin Abdul Aziz memang terkenal sebagai orang yang alim sejak kecil. Beliau ini temannya memang nggak banyak, tapi temenannya sama ulama dan para sahabat langsung. Oleh karenanya beliau sudah memiliki bekal banget sebenarnya untuk menjadi pemimpin. 

Seorang pemimpin itu harus kuat karena akan menghadapi rakyatnya dengan beragam karakter. Namun pemimpin yang kuat harus memiliki ketakutan terhadap Allah. Karena pemimpin yang takut kepada Allah biasanya dia nggak akan berani macem-macem untuk mengkhianati amanah. Apalagi menyakiti rakyat jelata. Heuheu..

Umar bin Abdul Aziz ini terkenal banget sering melakukan munajat kepada Allah pada malam hari. Aktivitas merenung sambang ke ruang sunyi ini memang penting banget sih ya. Bahkan Syekh Abdul Qodir Jaelani sangat menyarankan untuk melakukan tafakkur di malam hari agar hari esoknya kita bisa memperbaiki kesalahan yang dilakukan hari ini.

Lalu pada pagi hari, Umar disibukkan untuk mengurusi rakyatnya. Selayaknya aktivitas para pemimpin lah ya. Namun poin utamanya adalah sikap takut kepada Allah agar menjadi pemimpin yang rahmatan lil ‘alamin.

Wara’ atau Hati-Hati
Karakter ini menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin. Karena nantinya seorang pemimpin akan dihadapi oleh banyak sekali cobaan selama masa kepemimpinannya. Termasuk oleh adanya tangan-tangan yang ingin melakukan suap halus dengan dalih demi kepentingan rakyat. Halah preeeettttt mpreeeettt. Demi kepentingan rakyat jareeeeneeee.

Oleh karenanya Umar bin Abdul Aziz ini terkenal sekali sebagai pemimpin yang sangat wara’ atau berhati-hati. Oleh karenanya sejarah mencatat bahwa setelah terpilih menjadi khalifah, harta yang dimiliki oleh Umar diberikan kepada negara dan memilih untuk hidup bersahaja. Umar terkenal banget menjadi pemimpin yang zuhudnya luar biasa setelah menjadi khalifah. Karena menurutnya seseorang setelah menjadi pemimpin akan mengalami fitnah sana sini.

Bagaimana agar menjadi pribadi yang berhati-hati?
First, tentunya harus memiliki ketakutan kepada Allah. Kemudian seorang pemimpin harus menjauhi yang makruh dan syubhat. Kalau sudah begini sudah pasti nggak akan melakukan yang haram. 

Ada kisah yang terkenal banget dari Umar ketika Ia meminta pelayannya untuk dibuatkan air hangat. Kemudian pelayannya menggunakan dapur umum untuk merebus air. Ketika Umar tahu kalau pelayannya merebus air menggunakan fasilitas negara, Umar menegur si pelayan. Karena menurutnya untuk kebutuhan pribadi jangan menggunakan fasilitas negara.

Karena hal tersebut, Umar meminta untuk mengganti kayu bakar yang digunakan. 1 kayu bakar diganti dengan 1 dirham. 

Biyung biyung biyuuungg. Padahal kalau pemimpin jaman now mah yak, pada ngincerin fasilitas negara. Kan lumayan gitu bisa jalan-jalan kemana-mana menggunakan fasilitas negara.

Mungkin kalau orang jaman sekarang akan menganggap Umar lebay. Padahal sikap seperti itu sangat penting untuk menjaga jiwa agar tidak digerogoti hawa nafsu. Karakter yang patut ditiru. Tentu yang diambil adalah esensinya ya makgaes.

Lalu kisah terkenal lainnya adalah ketika Umar lagi pingin makan apel. Kemudian ada kerabatnya yang datang berkunjung membawakannya apel namun ditolak oleh Umar. Kemudian si kerabat bilang, “wahai Amirul Mukminin, bukankah Rasulullah pernah menerima hadiah?”. Kemudian dibalas oleh Umar, “Hadiah di jaman Rasulullah itu murni hadiah. Namun dijaman kita hadiah berarti adalah suap.
Itulah sikap kehati-hatian yang dimiliki oleh Umar. 

Sederhana
As i said, bahwa Umar setelah menjadi khalifah langsung sederhana banget hidupnya. Hartanya diberikan kepada negara. Pakaiannya sederhana banget. Makan sederhana banget sampai anaknya protes karena keluarga khalifah kok makannya nggak enak. Lalu Umar membalas keluhan si anak, “Anak-anakku, apakah kamu senang makanan yang lezat lalu ayahmu masuk neraka?”.

Maa syaa Allah. Langsung lihat diri sendiri yang mengeluh kalau makannya nggak bikin selera. Huh! Dasar aku, minta dikaplek palu Thor.

Egaliter
Umar juga terkenal sebagai pemimpin yang sangat egaliter. Tidak membedakan kelas sosial rakyatnya karena prinsip yang dipegang adalah kita sama-sama manusia. Karena yang membedakan kita adalah ketakwaan ya gaes!

Selain itu Umar juga sangat dekat dengan para pelayannya. Bahkan pernah nih Umar minta pelayannya untuk mengipasinya karena cuacanya yang panas sampai Umar ketiduran. Pas kebangun Umar melihat pelayannya juga ikut ketiduran, kemudian Umar mengipasi si pelayannya. Mungkin ngerasa kasihan kali ya.

Bayangkan saja seorang khalifah mengipasi pelayan. Khalifah lho yaaa... pemimpin bangsa lho itu. Tapi mau mengipasi pelayannya. Lalu ketika si pelayan terbangun dan tersadar kalau Umar mengipasinya, si pelayan merasa bersalah banget. Tapi Umar B aja gitu. Ya karena sikap egaliternya itu tadi.

Tawadhu’ atau Rendah Hati
Hmm, bagi saya ini sikap yang nggak mudah tapi penting banget. Kerendahan hati akan membuat hati kita jadi lembut dan lebih peka. Sedangkan Umar sangat terkenal dengan kerendahan hatinya. Umar ini nggak mau dielu-elukan dan nggak mau dipuja-puja. Karena memang kita tahu lah ya bahaya dari pujian bisa bikin jiwa kita terguncang. #etdah

Kemudian kisah terkenal lainnya dari Umar yang menunjukkan bahwa beliau sangat rendah hati adalah ketika rakyatnya berjanji jika suatu hari Umar meninggal, mereka akan memakamkan Umar dekat dengan makam Rasulullah. Hal ini dilakukan oleh mereka karena saking cintanya kepada Umar.

Namun Umar menolak, karena beliau beranggapan bahwa beliau tidak layak untuk mendapatkan penghormatan seperti itu. Maa syaa Allah..

Ojo gumun, Mia. Ojo gumun!

Telaten dan Sabar
Salah satu poin penting dari karakter Umar ini adalah Umar sebagai khalifah sangat memperhatikan psikologis rakyatnya. Hal ini penting banget biar rakyatnya nggak kagetan gitu lho makgaes. Sehingga beliau mengambil jalur lembut. 

Bahkan hal ini juga yang dilakukan oleh Rasulullah pada jamannya. Pada sebuah kajian, Nouman Ali Khan pernah bercerita bahwa ada seseorang yang baru masuk Islam namun mengajukan 1 syarat kepada Rasulullah. Syarat tersebut bahwa ia hanya akan sholat sebanyak 2 raka’at (atau 2 kali sehari yak? Lupa mak, monmaap yes). Lalu Rasulullah mempersilakan dan para sahabat pun kaget. 

Lalu Rasulullah mencoba menenangkan dan menjelaskan bahwa nggak apa-apa di awal dia sholat 2 rakaat dulu. Biarkan dia cinta dulu untuk melakukan yang 2 rakaat itu. Sampai akhirnya nanti ia pasti akan sholat sebanyak yang disyari’atkan. 

Ini kan penting banget ya untuk dimiliki oleh setiap pemimpin. Agar ketika mengambil keputusan ngegas aja gitu. Nggak sekoyong-konyong koder mencabut subsidi LPG melon dengan lonjakan harga yang warbiyasah banget. Padahal rakyatnya masih banyak yang belum sejahtera. 

Ya, ya, saya tahu bukan presiden yang mewacanakan keputusan tersebut. Namun mereka-mereka yang mengatur jalannya negara dan pemerintahan kan adalah pemimpin yaaak. Jadi perlu lah mereka yang di atas itu memiliki sikap sabar dan tidak ngegas. Heuheuheu..

Adil
Pemimpin yang adil tentunya menjadi dambaan bagi semua rakyat dan Umar memiliki karakter tersebut. Dalam kepemimpinan Umar, kesalahan yang dilakukan oleh rakyat dihukum sesuai dengan kadar kesalahannya. Seperti misalnya seorang pencuri yang mencuri karena memang dia benar-benar miskin dan butuh untuk makan. Nah, hal semacam ini tentunya nggak ujug-ujug dijatuhkan hukuman.

Bagaimanapun yang perlu dipertanyakan terlebih dahulu adalah kemana perginya negara ketika ada rakyatnya jatuh miskin kelaparan? Sehingga ia terpaksa mencuri demi sesuai nasi. Jangan sampai pencuri singkong dijatuhi hukuman 2 tahun penjara, padahal dia miskin dan kelaparan. Sedangkan pencuri uang rakyat aka koruptor dijatuhkan hukuman 1-2 tahun penjara. Padahal telah mencuri hak rakyat.

Pembela Dhuafa
Nah kalau orang yang adil sudah pasti lah ya beliau juga membela kaum lemah. Pada jaman kekhalifahan Umar, para kaum dhuafa benar-benar disejahterakan. Bahkan negara memberikan perhatian besar kepada kaum yang lemah. Sehingga mereka mampu berdaya dan sejahtera. 

Kemudian jaman dulu kan sering perang-perang tuh. Umar sendiri sangat menekankan untuk tidak membunuh wanita, anak-anak, dan anggota musuh yang terluka. Sesuai dengan peraturan perang yang sebetulnya lah ya. Nggak seperti sekarang yang perang dan asal bunuh semaunya sendiri. Huh.

Komunikatif
Selayakanya seorang pemimpin tentunya harus memiliki komunikasi yang baik. Ya bayangin kalau pemimpinnya nggak bagus dalam berkomunikasi, ya bisa berabe atuh urusannya. Nah Umar bin Abdul Aziz ini terkenal sekali memiliki kemampuan komunikasi yang bagus, retorikanya bagus, penggunaan bahasanya bagus, dan cara menyampaikan kritik juga bagus.

Sekalipun kritiknya straight to the point, akan tetapi pemilihan katanya bagus sehingga penerima kritik juga nggak merasa terintimidasi dan mau menerima. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa beliau sangat memperhatikan psikologis seseorang, sehingga tentunya beliau pasti memiliki gaya komunikasi yang baik.

Itulah karakter yang dimiliki oleh Umar bin Abdul Aziz. Sehingga kalau ingin menjadi pemimpin yang baik ya kudu punya karakter tersebut. Tapi nggak harus jadi pemimpin aja sih, menjadi manusia biasa tanpa jabatanpun ya harus memiliki karakter tersebut.

Tentunya nggak mudah untuk memiliki karakter tersebut, apalagi yang sudah kadung berpolusi macam awak gini. Wkwkw. Ya, nggak apa-apa. Kita sadari dan perbaiki pelan-pelan. Karena kita manusia tercipta sebagai pembelajar seumur hidup, jangan sampai kita fitrah baik ini mati. Semangat!

Post a Comment

0 Comments