Depresi Pasca Melahirkan dan Problematika Gender Yang Terabaikan


Kemarin, saya membaca sebuah berita di tautan halaman Facebook saya tentang seorang wanita 43 tahun bernama Aminah asal Sukabumi yang membacok suaminya, Maman (47). Pasalnya wanita yang baru melahirkan 2 bulan lalu itu merasa kesal dengan sang suami yang kerap kali memintanya berhubungan badan (selanjutnya disingkat HB). Sehingga ia tidak bisa menahan emosinya, lalu tanpa sadar membacok suaminya. Dalam hal ini, Ibu Aminah didiagnosa mengalami depresi pasca melahirkan.

Dari kejadian tersebut, siapa yang akan disalahkan? Tentu sang istri.

Baca juga : Memeluk Lara Membangkitkan Asa 

Coba bayangkan, beliau baru saja melahirkan anak ketiganya 2 bulan lalu. Tentu di masa tersebut beliau mengalami perubahan psikologis-biologis yang berbeda dengan perempuan lajang. Saat masa kehamilan saja, perasaan perempuan sudah campur aduk. Ya mual lah, badan pegal-pegal, susah tidur, susah makan, emosional, dan lain sebagainya. Apalagi saat melahirkan yang rasanya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah itu perempuan mengalami nifas yang tentunya akan membuatnya tidak nyaman. Lalu ada tuntutan untuk merawat anak dan menyusuinya. Sedangkan proses menyusui pun nggak mudah. Dan biasanya, seorang perempuan pasca melahirkan akan mengalami pegal-pegal yang berkali-kali lipat lebih pegal dibanding saat hamil.

Dalam hal ini, Ibu Aminah pasti akan mengalami konflik batin yang luar biasa. Disatu sisi ia harus merawat bayi dan juga kedua anak lainnya. Disisi lain ia harus melaksanakan tugasnya sebagai istri. Lalu ia juga mengalami kondisi psikologis yang tidak stabil sehingga menyebabkannya mengalami depresi. Tentunya dengan semua yang ia rasakan, keinginan untuk HB pasti rendah.

Stpaulskaty.com

Ada baiknya suami memberikan dukungan kepada istrinya, seperti membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah, membantu merawat anak-anaknya dan juga bayinya, lebih rajin memeluk istrinya, menjadi pendengar yang baik bagi istrinya ketika istrinya berkeluh kesah, dan lain sebagainya. Saya tahu, bahwa laki-laki pun bisa kemungkinan mengalami post-partum depression. Oleh karenanya, sudah bisa disimpulkan kan bahwa menikah bukan perkara ranjang saja. Namun ada hal yang jauh lebih esensial dari itu yaitu meraih ridho Allah dengan menjalankan misi kehidupan sebagai khalifah fil ard. Oleh karenanya menikah itu butuh ilmu, nggak bisa cuma sekedar materi dan rasa.

Nasi telah menjadi bubur. Semoga kejadian tersebut bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Jenis Depresi Pasca Melahirkan dan Gejalanya
Depresi pasca melahirkan atau yang biasa dikenal dengan post-partum depression terbagi dalam 3 jenis, yaitu baby blues, depresi, dan psikosis. Baby blues adalah gejala paling ringan dan singkat yang dialami oleh perempuan pasca melahirkan, terjadi sekitar 7 hari pasca melahirkan. Gejala yang dialami baik pada penderita baby blues, depresi maupun psikosis dapat dilihat dari tabel berikut.

Sumber : Roswiyani. 2010. Postpartum Depression. Conference paper. (Downloaded from researchgate)

Dari tabel tersebut bisa dilihat kan tantangan yang dihadapi oleh perempuan pasca hamil sangat luar biasa?! Hope you understand it!

Sehingga, sudah seyogyanya suami dan keluarga terdekat memberikan dukungan agar pasca melahirkan bisa merasakan kebahagiaan. Selain itu, kita sebagai masyarakat dalam kehidupan sosial juga perlu memberikan dukungan kepada ibu hamil dan melahirkan untuk menghindari hal-hal yang bisa membuatnya stres. Seperti misalnya : tidak terus-terusan menanyakan kapan melahirkan, kok nggak lahiran-lahiran juga, kok perutnya ini dan itu, kok anaknya kecil daaaaann pertanyaan yang bikin stres lainnya. Ya masio rek wong e di kongkon ojok stres, jaga pikiran, tapi kitanya malah menimbulkan tekanan sosial, ya podo wae 😂.

Penyebab Timbulnya Depresi Pasca Melahirkan
Menurut Crockenberg & Leekers (2003) dalam Roswiyani (2010) bahwa 10-30% perempuan mengalami depresi pasca melahirkan dengan tingkat depresi yang berbeda-beda. Sehingga dalam kondisi tersebut, sudah selayaknya suami dan keluarga terdekat lainnya memberikan support dan bantuan kepada ibu yang baru melahirkan agar ia terus merasa bahagia dan berdaya. Berikut penyebab timbulnya depresi pasca melahirkan yang dirangkum dari berbagai sumber :

  1. Kurang tidur karena adanya keharusan untuk merawat bayi yang baru lahir;
  2. Terjadi perubahan hormonal yang berdampak pada kondisi psikologis sang ibu;
  3. Adanya kemungkinan masalah keluarga dan masalah sosial, baik yang datang dari suami, keluarga terdekat ataupun tekanan sosial sekitarnya;
  4. Adanya riwayat depresi sebelumnya;
  5. Adanya gangguan kesehatan;
  6. Kesulitan dalam memberikan ASI teruma masa awal melahirkan;
  7. Mengalami proses persalinan yang sulit ataupun mengalami trauma persalinan. Entah itu persalinan normal maupun operasi sesar.


Problematika Gender Yang Terabaikan
Sampai saat ini, perempuan masih mengalami stigmatisasi dan subordinasi pada kondisi yang mana ia membutuhkan banyak dukungan. Apalagi saat seorang perempuan mengalami hamil, melahirkan, nifas dan menyusui. Rangkaian faktor biologis perempuan tersebut, seringkali terabaikan oleh suami. Seharusnya suami tahu bahwa dalam proses hamil hingga menyusui, sang istri mengalami perubahan psikologis. Sehingga suami paham tindakan yang perlu dilakukan guna menghindari terjadinya postpartum depression ini.

Kembali ke kasus Ibu Aminah.

Jika Ibu Aminah menolak ajakan suaminya untuk HB, bisa jadi suaminya akan marah dan melampiaskan kepada wanita lain. Atau bisa jadi juga sang suami menceritakan hal tersebut kepada teman-temannya. Kalau suaminya selingkuh karena istrinya tidak bisa melayani, siapa yang akan disalahkan? Biasanya istrinya juga. Sehingga muncul stigma buruk terhadap si istri.

Oh dude, apakah pernikahan sereceh itu?

Lalu, karena Ibu Aminah sudah out of controll, kemudian membacok suaminya. Tentu Ibu Aminah juga yang akan disalahkan. Seolah-olah segalanya itu adalah salah si perempuan. Kasihan amat ya perempuan, kok ya kesannya nggak boleh menyuarakan perasaannya. Fiuh!

Kalau sosok ayah sudah tidak ada dan si ibu harus menjalani rehabilitasi, siapa yang menjadi korban? Ya anak-anaknya. Apalagi yang masih bayi masih membutuhkan ASI dari ibunya. Ya bener ada susu formula. Akan tetapi bukankah ASI adalah rezeki yang Allah titipkan kepada ibunya?

Setiap kita perlu mengetahui dan paham bahwa laki-laki dan perempuan memiliki faktor biologis yang berbeda dan menimbulkan perasaan yang berbeda. Perempuan mengalami fase menstruasi, hamil, melahirkan, nifas, menyusui, dan menyapih. Dan semua faktor biologis tersebut sama-sama menimbulkan rasa kurang nyaman bagi perempuan dan memberikan dampak pada psikologi dan kondisi fisiknya. Sehingga jika orang terdekatnya tidak memberikan semangat dan dukungan kepadanya, bagaimana istri bisa bahagia dan waras terus?!

Saya paham bahwa hubungan seksual menjadi sebuah kebutuhan bagi pasangan yang sudah menikah. Akan tetapi ketika si istri dalam keadaan nggak mood, capek, pegal, lelah, letih, lesu, linu, jembek, budrek, mumet, pusing dan nggak ridho, ya masak mau dipaksa untuk HB. Kalau istrinya dalam kondisi yang nggak bisa dipaksa, ya masak mau dikatakan nggak berbakti sama suami. Oh, come on! Jangan membuat pernikahan bernilai receh, man!

Saya tidak sedang menyalahkan laki-laki, saya hanya ingin kita bisa sama-sama mengerti bahwa perempuan itu mengalami fase yang dapat mengganggu psikologis dan fisiknya lhoo. Mengertilah.

Pentingnya Pendidikan Pra-Nikah
Dengan kejadian-kejadian seperti yang dialami Ibu Aminah contohnya, saya pribadi sangat yakin bahwa pendidikan pra-nikah itu penting. Karena menikah itu bukan sekedar urusan kasur, bukan sekedar menghalalkan apa yang belum diperbolehkan sebelum menikah. Sehingga seseorang ketika sudah menikah, ia memiliki ilmu untuk membina rumah tangganya.

Baca juga : Pentingnya Pendidikan Pra  Nikah

Seseorang yang sudah paham hakikat pernikahan itu apa, tentu akan sangat tahu hak dan kewajiban pasangannya. Bagaimana memperlakukan pasangannya, dan lain sebagainya. Apa yang perlu dilakukan ketika pasangan sedang hamil, melahirkan, pasca melahirkan, menyusui, menyapih. Dengan demikian, angka KDRT ataupun perceraian dapat ditekan.

Ah ya, yang nggak kalah pentingnya juga adalah tentang komunikasi yang baik dalam keluarga. Karena seringkali hal-hal yang tidak diinginkan terjadi karena perkara komunikasi. Kelihatannya sepele, tapi dampaknya luar biasa jika komunikasi antar pasangan terjalin dengan baik. Dengan demikian visi misi keluarga dapat dijalankan dan diwujudkan dengan baik pula.

Sumber referensi :


Post a Comment

2 Comments

  1. Horor juga ya, saking stressnya suaminya dibacok. Tapi ya ini memungkinkan sih. Apalagi udah capek, lelah, terus dimintain terus. Hastagaaaa...

    Iya betul, mestinya keduanya mau sama-sama ngerti dan bantu supaya bisa saling menguatkan satu sama lain. Bisa jadi juga kan suami minta HB karna dia stress. Tapi istrinya nggak bisa memenuhinya karena juga lagi stress.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, bisa jadi juga mbak. Jadi keinget pernyataan dr Boyke yang bilang bahwa hubungan RT tidak harmonis sebenarnya karena komunikasi. Dan sepertinya hal intim begini juga perlu komunikasi yang baik kali ya.

      Delete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊