Sebuah Renungan Ihwal Kebenaran



Disclaimer : tulisan ini adalah pengembangan dari renuh pikir-olah rasa seorang teman tentang kebenaran. So, murni bukan dari saya. Saya hanya mengembangkan dan menambahkan. Lumayan buat bahan dialektika 😆
================================

Ilustrasi :
Debat tentang film Garin Nugroho “Kucumbu Tubuh Indahku”.

Kontra : Filmnya Garin memang nggak pantas untuk ditayangkan di bioskop. Karena filmnya mengandung unsur LGBT. Kita harus menyelamatkan anak-anak kita.

Pro : Wah, film Kucumbu Tubuh Indahku bagus banget. Kudu banget ditonton karena kita akan disajikan sebuah pelajaran hidup.

Debat tentang feminisme
Kontra : Feminisme adalah akar dari LGBT. Tidak boleh dibiarkan menyebar di negeri ini. Karena akan sangat membahayakan anak-anak kita dimasa mendatang.

Pro : Feminisme itu perlu, karena perempuan memang harus mau tumbuh-maju. Perempuan harus berani melawan jika terjadi ketimpangan dalam hidupnya.
================================

Dari kedua ilustrasi tersebut, pendapat manakah yang benar? Si pro atau si kontra?

Kalau saya yang ditanya, maka saya akan menjawab keduanya bisa bernilai benar. Baik si pro maupun si kontra, tergantung dari sudut mana saya melihat. Kalau dalam filsafat, disebut dengan stand point dalam kebenaran proposisional.

Kebenaran itu seperti sebuah paku yang ditancapkan ke kayu. Kalau sudah tertancap terlalu dalam, orang tersebut akan teguh dengan kebenaran yang dianutnya. Sehingga mau dikandani koyok piye yo pancet. Namun nggak selalu juga dianggap teguh pendirian. Karena kebenaran pada ranah manusia sifatnya dinamis, tidak mutlak. Yang berarti kebenarannya masih dalam proses pencarian.

Level Kebenaran
Manusia dalam perjalanan kehidupannya secara fitrah merindukan berpengetahuan dan berkeilmuan. Sehingga manusia akan mencari-menemukan-mengembangkan pengetahuan dan keilmuan tersebut melalui membaca dan menuliskannya kembali. Membaca menjadi sarana untuk mencari dan menemukan apa yang diinginkan. Sedangkan menulis adalah sarana untuk mengembangkan endapan hasil bacaannya. Hasil dari tulisannya menjadi sebuah tafsir dengan berjuta perspektif pandang tentang kebenaran. Jika jika terjebak dalam perspektif pandang tersebut akan membuat kita melakukan pembenaran diri atas apa yang kita percayai.

Dalam ilmu filsafat, terdapat 4 level kebenaran. Keempat level kebenaran tersebut diantaranya adalah :
  1. Kebenaran empirik : kebenaran ini biasanya berdasarkan apa yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi pengalaman seseorang dengan orang lain terhadap sesuatu tidak melulu sama.
  2. Kebenaran logika : kebenaran ini berdasarkan hasil analisis akal sehat manusia. Tidak melulu faktual namun menjadi benar karena dianggap telah melalui renung pikir yang mendalam. Akan tetapi menurut Syeikh Siti Jenar, akal pun bisa menipu. Maka tetaplah waspada
  3. Kebenaran Etik : kebenaran ini berdasarkan etika lokalitas dalam kesepakatan sosial masyarakat. Sebagai contoh adalah budaya makan ramen di Jepang. Kalau di Jepang, makan ramen, mie, atau udon yang benar harus mengeluarkan suara “sluurp” sebagai bentuk pujian bagi si pembuat makanan. Sedangkan di Indonesia, cara makan yang demikian dianggap tidak sopan.
  4. Kebenaran Metafisik : kebenaran ini sifatnya pada suatu hal yang halus dan tidak kasat mata. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau logika dan empirik seseorang.

Kebenaran Menurut Tiyang Jawa
Menurut Tiyang Jawa terdapat 3 sudut pandang tentang kebenaran, diantaranya adalah bener'e dewe (kebenaran personal), bener'e wong akeh (kebenaran komunal), bener'e kang sejati (kebenaran sejati).

Benar menurut diri pribadi, belum tentu benar menurut orang lain. Benar menurut suatu kelompok, belum tentu benar menurut kelompok lain. Kebenaran pada ranah diri secara personal maupun kebenaran secara komunal dapat dikaitkan dengan 4 level kebenaran dalam ilmu filsafat, entah itu secara empirik, logika, etik maupun metafisika. Tentu bergantung dari konteks kebenaran, ruang dan waktunya. Termasuk pada dua ilustrasi di atas.

Kebenaran pada ranah manusia (personal dan komunal) ini lah yang sering kali membuat gaduh. Karena kebenaran-kebenaran tersebut yang setiap hari kita pertontonkan dan kita ributkan. Kebenaran yang kita simpulkan dan kita buat belum tentu benar menurut yang sejati yaitu kebenaran menurut Allah. Tidak ada satupun manusia yang mampu mencapai kebenaran yang sejati. Allahualam

Apa yang sebaiknya kita lakukan?
Betul memang setiap manusia pasti akan mencari kebenaran. Sekalipun seorang yang sangat jahat, pasti ia akan tetap mencari kebenaran. Hanya saja, kita keliru jika kebenaran itu yang dipertontonkan.

Dalam banyak kesempatan, Cak Nun selalu menyampaikan bahwa kebenaran adalah bekal hidup. Namun simpanlah di dapurmu sendiri. Yang dipertunjukkan kepada sesama manusia adalah kebaikan agar tercipta keindahan. Karena sebagaimana kita saksikan, sering kali kebenaran hanya menimbulkan perdebatan yang gaduh nan berisik. Sehingga tunjukkanlah kebaikan dan nikmatilah agar tercipta keindahan dan keharmonisan hidup.

Memaksakan kebenaran hanya akan mengganggu jiwa kita. Sehingga kita akan sulit merasakan ketenangan, kesejahteraan dan ketentraman hidup. Maka berlakulah penuh syukur dan qonaah dalam hidup. Sehingga dalam laku kita akan tercipta kebaikan dan keindahan.

Kebenaran dalam ranah manusia memiliki ruang dan waktunya sendiri. Kebenaran akan bernilai baik jika ditempatkan pada tempat dan waktu yang tepat. Misalkan saja jika Anda menjadi saksi dari tindakan korupsi. Maka disitu letak kebenaran harus diperlihatkan.

Setiap manusia dalam proses kehidupannya pasti pernah mengalami kesalahan akibat pembenaran diri. Maka mari kita sama-sama terus berproses menjadi pribadi yang baik dengan tidak memaksakan kebenaran personal/komunal kepada orang lain. Sebarkanlah kebaikan dan ciptakan keindahan. Teladani suri tauladan yang baik agar kita bisa bersikap Qur'ani.

Post a Comment

0 Comments