Gotong Royong : Saling Memberi



Beberapa hari yang lalu, saya dan Dana mendengarkan Ngaji Filsafat yang disampaikan oleh Pak Fahruddin Faiz dengan judul Tirakat - Mengindonesia. (Intermezzo) Bagi yang merasa asing dengan Ngaji Filsafat, kegiatan ini secara rutin diadakan oleh pengurus Masjid Jenderal Sudirman, Kolombo, Yogyakarta. Pengajian tersebut diampu oleh Pak Fahruddin Faiz, seorang dosen filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Ngaji filsafat tersebut bisa didengarkan di mjs channel, youtube.

Kembali ke topik!

Dalam tulisan ini saya tidak membahas isi pengajian tersebut secara khusus. Akan tetapi ada hal dari pengajian tersebut yang menyadari saya akan sesuatu yaitu give and given. Kalau yang ikut Komunitas Ibu Profesional pasti sudah tidak asing dengan istilah ini.

Pada bagian awal-awal pengajian tentang Mengindonesia, Pak Faiz menjelaskan makna dari gotong royong. Mendengar kata gotong royong, pasti di benak kita muncul tentang bekerja bersama-sama. Namun dalam pengajian tersebut, Pak Faiz menjelaskan makna gotong royong secara mendalam dan meluas, dimana gotong royong tidak melulu soal bekerja bareng. Akan tetapi gotong royong itu sendiri memiliki sifat saling memberi.

Pak Faiz memberikan satu contoh yaitu kegiatan belajar mengajar. Saya baru tahu dan baru paham bahwa kegiatan belajar mengajar pun adalah bentuk gotong royong.

Kenapa bisa demikian?

Karena kegiatan belajar mengajar kan adalah interaksi antara guru dan murid. Bayangkan jika hanya ada guru di kelas tersebut, tapi tidak ada muridnya. Maka kegiatan belajar mengajar tidak bisa berlangsung. Inilah yang dimaksud gotong royong, yaitu saling memberikan kontribusi. Bukan soal memberi dan menerima.

Menurut kesimpulan saya pribadi, esensi dari hadirnya gotong royong itu sendiri, selain untuk meningkatkan bonding sosial juga untuk menekan sifat jumawa dalam diri kita. Sehingga kita tidak merasa eksistensi kita yang paling penting dalam kehidupan bermasyarakat. Namun kita saling berkontribusi, saling memberi kepada satu sama lain. Walaupun itu bukan berbentuk materi.

Pantas saja dalam Komunitas Ibu Profesional yang ditanamkan kepada member adalah sikap give and given bukan take and give. Karena jika take and give, maka akan timbul sifat merasa paling penting kedudukannya. Akan tetapi jika give and given, maka kita akan saling memberi satu sama lain walaupun tidak berwujud materi. Bisa berupa tenaga, ide, kontribusi, dan lain sebagainya. Sehingga dalam hal ini secara tidak langsung kita diajarkan untuk belajar berbagi secara sukarela dan ikhlas dalam menjalankan peran dalam kehidupan. Dengan demikian, kita juga sekaligus meningkatkan kapasitas diri.

Wah, ternyata makna gotong royong ini sangat luar biasa ya untuk kehidupan kita 💕

Post a Comment

2 Comments

  1. alhamdulillah..di lingkungan gotong royong masih selalu dimiliki

    ReplyDelete

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Semoga mendapatkan manfaat. Barakallahu 😊